HaiBunda

PARENTING

Saat Anak Sadar Dirinya Dijadikan Bahan Omongan dan Merasa Malu

Radian Nyi Sukmasari   |   HaiBunda

Sabtu, 03 Feb 2018 12:04 WIB
Saat Anak Sadar Dirinya Dijadikan Bahan Omongan dan Merasa Malu/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Pernah nggak, Bun, ketika anak melakukan kesalahan lalu Bunda membicarakan kesalahan anak itu dengan anggota keluarga lain. Eh, ternyata si kecil tahu dan dia malu. Nah, saya pernah melihat respons anak yang lagi malu karena kesalahannya dijadikan topik pembicaraan nih, Bun.

Dia adalah keponakan saya yang berumur 3 tahun. Suatu ketika saat dia main ke rumah, bundanya cerita si kecil pernah dimarahi ayahnya karena iseng pada si kakak. Eh, tiba-tiba keponakan saya muncul dan dia tahu kalau lagi diomongin. Tiba-tiba dia ngangkat telunjuknya dan mendiamkan saya juga bundanya.

"Ssst, jangan belicik. Pus lagi bobo," ujar dia dengan gaya bicara cadelnya.


Dalam hati saya, ada-ada aja akal keponakan saya ya. Karena malu dirinya dijadikan bahan omongan, dia bisa-bisanya menyuruh bunda dan tantenya diam dengan alasan kucing lagi tidur. Nah, soal respons anak yang malu saat dijadikan bahan pembicaraan, psikolog anak dari Tiga Generasi Melissa Marcelina yang biasa disapa Lina bilang sebetulnya respons wajar ketika anak malu saat dia diberi tahu atau secara nggak langsung dinasihati di depan umum.

Kata Lina, justru kalau dia nggak malu kita perlu bingung juga, Bun. Dengan merasa malu sebetulnya anak sadar dia salah atau dia melakukan hal yang nggak semestinya dilakukan. Kalau anak cuma malu-malu saat diomongin atau dinasihati, nggak masalah kita lanjut menasihati dia di depan salah satu anggota keluarga.

"Tapi kalau malunya tuh sampai nggak mau ngomong atau ngasih tanda 'udah-udah' gitu, cut dulu aja, terus kita ngomong sama anak soal perilaku dia di tempat yang lebih privat. Ditunda juga nggak apa-apa," kata Lina waktu ngobrol sama HaiBunda.

Nanti, kalau udah ada di tempat yang lebih privat misalnya di rumah baru deh, Bun, kita ngobrol sama anak kalau tadi dia merasa nggak nyaman saat dinasihati atau perilakunya dibahas. Makanya, setelah berada di tempat yang lebih privat kita bisa ajak anak membahas hal itu berdua.



Sehingga, anak lebih leluasa dan nggak malu karena memang dia dan orang tuanya aja nih yang ada. Tapi, untuk anak balita (di bawah 5 tahun), kata Lina sebetulnya yang paling efektif adalah sistem reward. Kalau kita mau mengeliminasi satu perilaku yang nggak diinginkan bisa pakai reward dari apa yang anak suka.

Misalnya, kalau anak nggak iseng lagi sama kakaknya dalam waktu dua hari, dia boleh dapat puding kesukaannya. Makin lama, kita bisa perpanjang durasi waktunya sembari tetap ngasih pengertian ke anak kalau iseng ke sang kakak itu perilaku yang nggak baik.

(rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Cara Mengenali Orang yang Kesepian Secara Mental dan Emosional dari Obrolan Sehari-hari

Mom's Life Amira Salsabila

Tak Asal Bicara, Ini 7 Kalimat yang Dihindari Orang dengan EQ Tinggi

Mom's Life Annisa Karnesyia

Bayi Usia 8 Bulan Disebut Sudah Mulai Bisa Berbohong, Normalkah?

Parenting Kinan

Bayi Baru Lahir Kini Bisa Langsung Punya Akta Kelahiran, Begini Penjelasannya

Parenting Tim HaiBunda

LPS Financial Festival 2026 Sambangi Lampung, Yuk Tingkatkan Literasi Keuangan!

Mom's Life Sandra Odilifia & Fauzan Julian Kurnia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Anak Jatuh dan Kepala Terbentur? Jangan Panik, Lakukan Ini Bun

Serunya Belajar Dapat Cuan dari Affiliate di Gathering Sister at Home

Cara Mengenali Orang yang Kesepian Secara Mental dan Emosional dari Obrolan Sehari-hari

Bayi Usia 8 Bulan Disebut Sudah Mulai Bisa Berbohong, Normalkah?

Bayi Baru Lahir Kini Bisa Langsung Punya Akta Kelahiran, Begini Penjelasannya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK