parenting

Cerita Mona Ratuliu Soal Aturan Pemakaian Gadget Anak-anaknya

Amelia Sewaka Rabu, 28 Mar 2018 12:00 WIB
Cerita Mona Ratuliu Soal Aturan Pemakaian Gadget Anak-anaknya
Jakarta - Bicara soal gadget emang nggak ada habisnya deh, Bun, karena semakin zaman berkembang semakin berkembang pula gadget dan berbagai aplikasinya. Sehingga siapa sih orang yang nggak tertarik untuk lihat gadget terus? Hal ini pernah dirasakan oleh aktris Mona Ratuliu.

"Dulu aku sempat mengalami seperti ibu-ibu lain, gadget ini kan barang baru juga ya untuk kita sehingga pas awal datangnya tuh kita juga excited. Jadi nggak cuma anak-anak, ibu bapaknya juga asyik sama gadget," tutur Mona Ratuliu yang ngobrol dengan HaiBunda.

Menurutnya dalam gadget akan selalu ada fitur atau aplikasi baru sehingga bisa membuat yang tadinya kita biasa ngantuk atau tidur jam 9, ini jam 12 malam kita masih bisa melek karena terlalu asyik dan penasaran sama fitur yang kita mainin.


"Kita ngerti sih kenapa anak bisa setertarik itu sama gadget ya karena orang tuanya juga begitu, cuma lama-lama akhirya kita sadar kayaknya banyak yang hilang gitu setelah muncul si gadget ini ya sesederhana ngobrol di rumah," papar ibu tiga anak ini.

Karena di rumahnya ada 1 gadget berbentuk tab, jadi ia pikir tab ini bisa menggantikan fungsi laptop di rumah karena bentuknya yang kecil dan mudah dibawa ke mana-mana. Namun ternyata mereka malah kembali memakai laptop dan akhirnya tab tersebut nganggur di rumah. Nah, akhirnya tab itulah yang dipakai anak-anaknya bermain.



Akhirnya, Mona pun mulai mengubah peraturan di rumah. Karena dampak dari gadget ini sudah mulai terasa pada anak-anaknya.

"Mima anak pertamaku jadi minus matanya, Raka waktu itu menulisnya sempat terhambat karena motoriknya kurang terasah, kalau Nala emang nggak terlalu karena dia masih kecil juga pas itu kan," ungkap Mona Ratuliu.

Sejak itu, Mona menarik semua gadget di rumahnya dan mulai mereview ulang aturannya soal gadget di rumah karena efeknya nggak cuma itu dan udah mulai mengganggu kesehatan, sosial dan tanggung jawab sang anak sebagai siswa maupun personal.

"Kayak misal disuruh mandi malas, disuruh makan nggak mau. Akhirnya aku ambil gadget jadi Mima udah nggak pegang gadget sekarang. Aku lebih kasih dia HP yang cuma buat SMS sama telpon untuk dia komunikasi ke aku kalau dia pulang telat karena tugas atau apa," kata ibu dari Mima, Raka, dan Nala ini.

Sedangkan untuk anaknya yang kedua, Raka, sudah tidak ada tab lagi. Sehingga kalau mau nonton YouTube atau apa harus izin kepada dirinya atau sang ayah.

"Tentunya kita ingin ngenalin teknologi ke anak karena nantinya mereka akan hidup dengan teknologi tapi yang namanya kenalan nggak harus tiap hari kan," imbuh Mona Ratuliu.

Anak-anaknya tetap boleh menonton YouTube dan sebagainya tapi hanya lewat televisi, karena TV itu besar jadi menurutnya bisa kelihatan dan bisa ia dan suami awasi. Sedangkan kalau lewat gadget atau HP, anak bisa mojok dan orang tua nggak tahu anak lagi nonton apa.

"Kalau TV kan gede layar sama suaranya, ruang tamu sama dapurku juga satu ruangan jadi aku bisa tahu apa yang mereka tonton sambil aku masak atau nyiapin makan," kata Mona Ratuliu.

Jadi memang banyak peraturan yang Mona ubah di rumahnya soal gagdet. Ia juga menekankan anak-anaknya boleh main gadget dengan syarat dalam waktu dan batasan tertentu dan harus main di luar terlebih dahulu.

"Mau itu main sepeda main bola pokoknya mereka harus ada aktivitas luar atau fisik dulu baru boleh main gagdet. Jadi mereka tetap bergerak aktvitas fisik tapi tetap kenal teknologi," lanjut Mona Ratuliu.

Wah ini bisa kita coba ya, Bun, buat kita terapin di rumah aturan soal gadget ini. Filter dalam hal gadget (https://www.haibunda.com/aktivitas/d-3693626/nggak-main-main-ini-dampak-ketika-anak-kecanduan-gadget) pada anak itu emang penting banget.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Amanda Margia Wiranata, yang memberi batas soal gadget memang harus orang tua, jadi bukan anak yang mengontrol. "Batasan-batasan itu dibuat seperti pagar yang aman untuk anak. Kalau pagar itu goyang, anak coba marah atau nangis karena ditarik gadgetnya dan ketika itu orang tua galau mau kasih lagi apa nggak gadgetnya, anak jadi tahu bahwa kalau dia melakukan hal tersebut gadget bisa balik lagi nih," papar Amanda.

Amanda melanjutkan, tapi kalau si ayah bunda udah bilang 'nggak' dengan tegas, nah nanti anaknya juga nggak akan tuh berani coba-coba buat nangis atau tantrum karena anak tahu hal itu akan percuma dan orang tua tetap pada pendiriannya.

(aml)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi