parenting

Menjelaskan Makna Idul Fitri pada Anak

Amelia Sewaka Jumat, 15 Jun 2018 09:14 WIB
Menjelaskan Makna Idul Fitri pada Anak
Jakarta - Ketika si kecil bertanya apa sih sebenarnya Idul Fitri atau Lebaran, mungkin kita bisa bingung ya, Bun, gimana memberi penjelasan ke anak. Nah, penjelasan ini mungkin bisa diberikan pada anak.

Menurut psikolog anak dari Tiga Generasi, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, untuk si kecil usia prasekolah yaitu 4-5 tahun dan masa awal sekolah yakni usia 6-9 tahun, sebenarnya tidak ada perbedaan penjelasan yang signifikan. Kenapa? Karena mereka masih sulit memahami hal yang abstrak seperti mendapatkan pahala atau kembali suci.

"Pemahaman mereka masih sebatas hal-hal yang konkret atau hal yang mereka dapat rasakan secara langsung. Yang membedakan hanya bahasa yang digunakan dan panjangnya diskusi," tutur Vera saat ngobrol dengan HaiBunda.


Saat memberi penjelasan ke anak usia pra sekolah (2-6 tahun) tentu bahasanya lebih sederhana daripada anak usia sekolah dasar. Penjelasan juga tergantung kecerdasan anak. Ya, anak yang cerdas dan kritis tentu butuh penjelasan atau diskusi yang lebih panjang dan mendalam.

"Diskusi atau penjelasan juga dapat dimulai dengan menanyakan balik hal ini pada anak seperti, 'Menurut kamu kenapa sih kita berpuasa? Apa sih Lebaran atau idul fitri itu?'," kata Vera.

Untuk anak usia sekolah dasar, bisa ditambahkan dengan penjelasan makna dari kata Idul Fitri itu sendiri apa karena di sekolah juga bisa jadi anak sudah mendapat penjelasan sehingga penjelasan kita dapat dipakai untuk memantapkan atau menyelaraskan apa yang didapat di sekolah.

Ilustrasi anak lebaranIlustrasi anak lebaran /Foto: Shutterstock

Kita juga bisa menjelaskan ke anak bahwa Lebaran atau Idul Fitri adalah bentuk perayaan karena kita telah berhasil belajar menahan lapar, haus, emosi dan berbuat baik selama sebulan penuh. Penjelasannya fokus pada apa yang telah dilakukan selama bulan puasa ya, Bun, seperti menahan lapar, haus, emosi dan lainnya yang sifatnya konkret atau dapat dirasakan langsung oleh anak.

"Sebutkan perilaku konkret yang berhasil dilakukan selama bulan puasa, nah itulah yang dirayakan di hari raya Idul Fitri. Jelaskan juga pada anak karena selama bulan puasa kita belajar menjadi orang yang lebih baik, maka setelah Lebaran kita akan terus menjadi orang yang lebih baik," ungkap Vera.

Merayakannya bisa dengan bersuka cita atau berkumpul bersama keluarga dan tidak harus dengan baju baru atau hadiah. Penjelasan Vera selaras dengan pendapat psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Tiga Generasi Samanta Ananta. Pada usia pra sekolah, anak masih berada dalam tahap pemikiran yang pra operasional sehingga menjelaskan makna positif dari Idul Fitri dapat dilakukan melalui gambar dan cerita.



"Anak-anak di usia ini cenderung masih berada dalam fase egosentris, yang berpusat pada dirinya, maka baik untuk dilibatkan dalam setiap aktivitas yang berkaitan dengan hari raya, seperti menyiapkan hidangan atau hiasan di rumah, memilih model baju seragam untuk keluarga atau hiasan bunga yang akan dipajang di hari raya," papar Samanta.

ilustrasi anak lebaranilustrasi anak lebaran/ Foto: dok.HaiBunda


Tujuannya untuk mengajarkan pada anak konsep berbagi dan silaturahim. Saat kedatangan tamu, kita perlu berbagi hidangan yang ada dan juga menyambut keluarga dengan penuh suka cita. Anak-anak tentunya senang banget kan, Bun, saat dilibatkan dalam setiap aktivitas persiapan dan bersih-bersih setelahnya.

Sedangkan untuk mengajari makna Lebaran pada anak masa awal sekolah, kemampuan proses berpikirnya sudah konkret sehingga dapat lebih dijelaskan secara lebih konkret pentingnya makna Idul Fitri.

"Anak-anak sudah mulai dapat menyeimbangkan antara pemikiran egosentrisnya dan kewajiban sosialnya. Di sini anak-anak sudah dapat diberi penjelasan yang lebih, seperti apa tujuan dari silahturahim, bagaimana memaafkan, merasa bersyukur serta dapat berbagi lebih luas lagi," kata psikolog dari Klinik Brawijaya Kemang ini.

Jika di periode usia sebelumnya terbatas pada berbagi dengan keluarga, pada periode ini anak dapat lebih aktif berbagi dengan anak yatim dan fakir miskin. Secara umum, kata Samanta anak-anak akan merasa lebih mudah memahami makna hari raya melalui cerita pengalaman orang tuanya. Selain itu, rutin melibatkan anak dalam aktivitas sosial religi dapat mengembangkan penghayatan positif terhadap makna hari raya yang sesungguhnya.

Psikolog anak dan remaja, Rahajeng Ika menambahkan, gimana cara menyampaikan konten-kontennya itu yang penting. Harus dengan santai, menjelaskan dengan konkret, juga konsisten dari perilaku kedua orang tuanya.

"Itu yang akan lebih diserap anak-anak dan orang tua patut memberi contoh dengan konsisten," ujar Rahajeng.

Bunda sendiri gimana cara menjelaskan makna Idul Fitri atau Lebaran ke si kecil? Yuk share di kolom komentar, Bun.

(rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi