parenting

Kisah Gadis yang Melawan Bullying dengan Mencukur Habis Rambutnya

Amelia Sewaka Rabu, 27 Jun 2018 19:21 WIB
Kisah Gadis yang Melawan Bullying dengan Mencukur Habis Rambutnya
North Carolina, AS - Seorang anak perempuan berusia sembilan tahun jadi bahan bullying karena rambutnya rontok di bagian tertentu kepalanya. 'Gerah' di-bully, bocah bernama Briel Meadows ini melawan bullying tersebut dengan membotaki kepalanya.

Di bulan Januari dan Juni, Briel mendapati rambutnya rontok. Kini Briel telah kehilangan 55 persen rambut pirang panjangnya karena mengidap alopecia. Kata Briel, teman-teman sekelasnya di sekolah akan menatapnya sembari tertawa dan bernyanyi, 'Kamu botak, kamu botak'. Hiks, bisa kebayang gimana sedihnya perasaan Briel ya, Bun.

"Sulit rasanya ketika melihatnya menangis dan saya tidak bisa berbuat apa-apa," kata sang ibu, yang merupakan perawat ICU, Patricia Meadows, dilansir Fox News.


Kisah Gadis Kecil yang Berani Botaki Kepala karena DibullyBriel bersama sang ibu. Foto: Istimewa

Patricia mengaku sangat takut Briel terus-terusan di-bully dia akan stres bahkan depresi. Briel sendiri didiagnosis alopecia pada bulan Mei lalu. Awalnya Patricia mengira titik botak di kepala Briel karena bocah itu menarik-narik rambutnya. Alopecia areata adalah penyakit yang menyebabkan sistem kekebalan menyerang sel di dalam tubuh. Penyakit inilah yang menyebabkan kerontokan rambut di kepala Briel dan beberapa bagian tubuhnya.

Menurut National Alopecia Areata Foundation, penyakit ini memengaruhi sekitar 6,8 juta orang di Amerika Serikat. Dokter yang merawat Briel meresepkan salep yang mengandung streoid untuk membantu menumbuhkan rambut. Namun, namanya anak-anak, Briel nggak terlalu suka pakai salep itu, Bun.



Minggu lalu, Briel memberi tahu ibunya bahwa dia ingin berhenti pakai salep dan mencukur semua rambutnya. Dalam perjalanannya ke salon, Briel telah menghias kepalanya dengan stiker dan ikat kepala.

"Saya merasa sangat bahagia, karena tidak semua orang bisa menerima kepalanya jadi botak," tutur Briel.

Keputusan membotaki rambutnya diambil Briel karena dia mulai terganggu dengan ejekan teman-temannya. Selain menertawakan, teman-teman di sekolah Briel juga sering ingin memegang kepala Briel. Pastinya dengan tujuan mengejek, Bun. Perlakuan temannya lantas bikin Briel marah dan sedih.

"Saya ke toilet dan berkaca. Saya nggak ngerti kenapa ditertawakan. Minggu lalu saya memutuskan untuk mencukur rambut karena merasa tidak nyaman dengan beberapa spot kebotakan. Saya pikir lebih baik jika tidak punya rambut sekalian. Itu terlihat keren," ungkap Briel seperti dikutip dari Express.

Kisah Gadis Kecil yang Berani Botaki Kepala karena DibullyBriel ketika dicukur. Foto: Istimewa

Setelah rambutnya botak, Briel mengaku lebih percaya diri dan happy, Bun. Briel sangat bersemangat dan ingin mengatakan pada semuanya bahwa apapun yang dikatakan orang lain tentang seperti apa kita itu nggak penting. Keesokan harinya setelah dicukur Briel bersemangat ke toko asesoris untuk membeli ikat kepala dan tato mainan untuk menghiasi kepalanya.

Sikap Briel patut dicontoh ya, Bun. Ia berani 'melawan' bullying dengan cara yang positif. Semangat selalu ya Briel!

Mengejek berkali-kali hingga membuat tidak nyaman dan tidak berdaya merupakan salah satu praktik bullying, Bun. Dan Olweus, penulis Bullying at School, mengatakan bullying bisa dibagi menjadi dua yakni direct bullying yang merupakan intimidasi secara fisik dan verbal, serta indirect bullying yang berupa isolasi secara sosial.



"Permasalahan sosial itu nggak bisa hanya satu orang yang melakukan perubahan. Perlu banyak peran baik dari orang tua, masyarakat, jika perlu sekolah atau instansi terkait untuk menghadapi isu sosial seperti ini," papar psikolog anak dan remaja, Yasinta Indrianti MPsi dari EduPsycho Research Institute.

Menurut Yasinta, banyak banget lho dampak yang bisa terjadi dari kasus bullying baik secara psikologis, mental, dan juga fisik.

"Seringkali yang terjadi adalah remaja belum dapat mengidentifikasi hal-hal di sekeliling mereka, sehingga tidak mendapatkan solusinya. Remaja kemudian mencari jalan keluar lain seperti mem-bully. Korban bisa menjadi pelaku dan pelaku dapat menjadi korban pula," kata psikolog yang akrab disapa Sinta ini.

Karena itu Sinta mengatakan kita perlu membangkitkan kesadaran masyarakat tentang bahaya bullying. Orang tua juga perlu mengubah paradigma dalam melindungi anak mereka dari bullying. (rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi