parenting

Bunda Ade, Sosok di Balik Adik-Kakak Peraih Medali Wushu di China

ziz Senin, 22 Oct 2018 12:38 WIB
Bunda Ade, Sosok di Balik Adik-Kakak Peraih Medali Wushu di China
Jakarta -

Ada cerita membanggakan dari kakak-adik, Ghaniya Zada Achari dan Emir Fadilghani Achari. Keduanya mengharumkan nama bangsa dengan meraih medali emas dan perunggu di 12th China ZhengZhou International Shaolin Kungfu Festival di China, Minggu (21/10).

Ghaniya menyabet mendali emas untuk jurus tangan kosong Changquan. Sedangkan adiknya, Emir, dapat perunggu di kelas under 12 tahun jurus tangan kosong Nanquan.


Tak salah jika kemudian rasa bangga membuncah di hati Ade Safitri sebagai Bunda dari kedua anak itu. Diceritakan Ade bahwa semua prestasi ini bermula dari ketertarikannya mendaftarkan Ghaniya dan Emir di sasana wushu milik kakek mereka. Saat itu usia Ghaniya baru menginjak enam tahun dan Emir setahun di bawahnya.

Ghaniya Zada Achari dan Emir Fadilghani AchariGhaniya Zada Achari dan Emir Fadilghani Achari Foto: Ade Safitri


"Kebetulan Sasana Sushu Inti Bayangan adalah sasana yang didirikan oleh kakek Ghaniya dan Emir, H. Abdus Somad. Kemudian diturunkan ke Paman mereka, H. Ahmad Rifai," cerita Ade kepada HaiBunda soal awal mula ketertarikan kedua anaknya pada dunia bela diri.

"Mulai dari sepupunya Ghaniya dan Emir terlebih dahulu yang berprestasi di Wushu seperti Ahmad Hulaefi yang baru saja meraih medali perunggu di Asian Games," tambahnya lagi.


Dari hasil latihan, ternyata kedua anak Ade hampir selalu menjadi juara. Pada titik tersebut dimulailah kesempatan untuk masuk kelas khusus tim inti persiapan menjadi atlet.

Namun, diakui Ade memang harus ada keseimbangan antara latihan dan sekolah. Apalagi saat ini Ghaniya yang lahir di Jakarta, 9 Maret 2006, masih duduk di kelas 7 SMP 19, Jakarta. Sedangkan Emir, yang lahir pada 27 Desember 2007, masih mengenyam pendidikan kelas 5 di Sekolah Gunung 05 Mexico.


Keseimbangan waktu itu dimulai sejak berangkat jam 06.00 pagi dan sekolah sampai dengan 14.00. Lalu dimulai latihan wushu pada pukul 15.30 hingga 19.00. "Sampai rumah setelah mandi dan makan, mereka belajar dan menyiapkan buku serta perlengkapan sekolah. Mereka tidur setelah itu. Ini jadwal dari hari Senin sampai hari Jumat dan sholat 5 waktu wajib mereka lakukan," tegas Ade yang ikut menemani Ghaniya dan Emir ke China.

Ghaniya Zada Achari dan Emir Fadilghani AchariGhaniya Zada Achari dan Emir Fadilghani Achari/ Foto: Ade Safitri


"Hari Sabtu pagi jam 07.30 privat wushu dengan sepupunya Ahmad Hulaefi sampai jam 11.00. Minggu jam 6.00 latihan fisik di GOR Sumantri sampai jam 09.00. Setelah itu ada jalan-jalan deh ke mal atau ke tempat yg mereka mau," tutur Ade yang berprofesi sebagai dokter gigi.

Dukungan pihak sekolah


Ditegaskan Ade bahwa kesuksesan anak-anaknya tak lepas dari dukungan pihak sekolah. Ada dispensasi khusus jika memang ada jadwal tanding. Lalu, apabila ada tugas, akan diinfokan setelah masuk.


"Kalau ada ulangan juga diperbolehkan susulan," tuturnya lagi.

Ade dan pihak sekolah ingin mendukung prestasi kedua anak-anaknya mengingat manfaat yang didapat dari wushu. Selain untuk kesehatan, kelenturan, dan berani tampil di depan umum, wushu juga memberi mereka pengalaman dan wawasan bila bertanding baik di dalam dan di luar negeri.

"Mereka juga diajarkan di sasananya untuk rendah hati, hormat kepada orang tua, berperilaku baik terhadap teman yang menjadi saingannya. Untuk tetap berbesar hati jika kalah dan tidak sombong bila menang," kata Ade.

Wah selamat ya Bunda. Semoga prestasi anak-anak makin membanggakan ke depannya.

[Gambas:Video 20detik]

(ziz/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi