parenting

3 Cara Orang Tua Jadi Teman untuk Anak yang Beranjak Remaja

Siti Hafadzoh Selasa, 30 Oct 2018 14:25 WIB
3 Cara Orang Tua Jadi Teman untuk Anak yang Beranjak Remaja
Jakarta - Ketika anak sudah beranjak remaja, banyak perubahan yang nggak cuma dialami oleh anak. Orang tua pun ikut mengalami perubahan. Dari yang tadinya Bunda masih bisa peluk-peluk anak di depan umum, sekarang anak sudah nggak mau lagi dipeluk. Emosi mereka pun selalu berubah. Jadi cara untuk menghadapi mereka juga berbeda nih, Bun.

Menurut psikolog, Ayoe Sutomo, anak mulai menginjak remaja ketika usia 10 tahun. Tapi, itu masih masih masa remaja awal. Nah, biasanya anak akan banyak mengalami masalah-masalah pubertas di usia 13-15 tahun. Kata Ayoe, baiknya orang tua nggak melewatkan masa-masa krusial yang dialami anak di masa remaja ini. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan Bunda dan Ayah ketika anak mulai beranjak remaja.

1. Pahami kondisi remaja
Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua saat anak beranjak remaja adalah memahami bahwa masa remaja adalah masa 'badai' untuk anak. Mereka melalui berbagai tantangan di masa ini. Pahami juga perubahan mood remaja. Ketika terjadi perubahan emosi, Bunda dan Ayah sudah bisa memaklumi kondisi tersebut.


"Jadi, kalau anaknya moody, kemudian marah-marah mulu, pahami bahwa itu adalah perubahan hormon yang terjadi. Jadi kondisi itu tidak sepenuhnya salah anak," ujar Ayoe baru-baru ini.

2. Jadikan anak sebagai teman

Berusahalah menjadi teman untuk anak dan menjadi bagian dari hidup anak. Bisa dengan cara mendengarkan ceritanya tentang apapun yang dia alami di sekolah atau di lingkungan teman-temannya. Mungkin juga dengan meminta pendapat anak ketika Bunda dan Ayah akan membuat keputusan. Dengan begini, anak akan merasa keberadaan mereka berarti.

Ilustrasi anak beranjak remajaIlustrasi anak beranjak remaja/ Foto: iStock
3. Hargai privasi anak
Kata Ayoe, anak yang sudah menginjak usia remaja sudah memiliki privasi sendiri, baik di media sosial atau dunia nyata. Mereka membutuhkan kedekatan dengan teman-teman dan lingkungan. Jadi, Bunda dan Ayah sekadar memantau pertemanan anak tanpa ikut-ikut di dalamnya.

Ayoe menyarankan, untuk menjaga privasi anak di media sosial, orang tua tetap boleh mem-follow akun media sosial anak dan bilang bahwa Bunda dan Ayah follow media sosial mereka. Tapi hanya menjadi silent followers. Nggak boleh ikut-ikutan komentar bareng teman-teman anak. Kalau Bunda dan Ayah ingin menanyakan sesuatu, jangan sampaikan di kolom komentar di media sosialnya. Tanyakan saja secara langsung supaya anak tetap merasa dihargai privasinya.

"Orang tua tidak boleh ikutan nimbrung komen di situ. Kadang kala itu membuat anak risi. Akhirnya, anak mebuat alter account. Akun lain yang nggak ada orang tuanya. Kalau memang mau jadi followes, ya sudah follow, dan bilang sama anaknya. Tapi ya itu, hargai privasi anak. Justru orang tua akan menjadi teman yang baik, bisa update," papar Ayoe.

Ketika anak beranjak remaja, orang tua tidak lagi menjadi pelindung untuk anak. Bunda dan Ayah justru berganti peran menjadi teman dan sahabat yang baik untuk remaja. Sehingga, anak bisa menceritakan apapun pada orang tuanya tanpa canggung dan ragu. Jadi, Bunda dan Ayah tetap bisa mengetahui kondisi anak. (rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi