parenting

Dampak Psikologis dan Fisik Pernikahan Usia Dini bagi Anak

Asri Ediyati Selasa, 20 Nov 2018 18:06 WIB
Dampak Psikologis dan Fisik Pernikahan Usia Dini bagi Anak
Jakarta - Faktanya, pernikahan usia dini masih terjadi di banyak negara termasuk Indonesia. Kondisi itu biasanya terjadi karena faktor budaya dan sosioekonomi. Banyak pihak orang tua yang menganggap anak menjadi 'penyelamat' keuangan keluarga ketika menikah. Bahkan parahnya, ada juga yang menganggap anak belum menikah jadi beban finansial keluarga. Saya sendiri terkejut mendengarnya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Prof Dr Yohana Susana Yembise, bilang tingkat pendidikan orang tua juga memicu pernikahan dini. Orang tua menjadi kurang edukasi untuk mencegah pernikahan di usia anak. Selain itu, perkawinan usia anak juga bisa terjadi karena tradisi dan budaya, seperti menikah setelah mendapat haid pertama atau stigma terlambat menikah setelah masa pubertas sebagai aib keluarga.

"Contoh kasus di suku Asmat, sudah ada tradisi perkawinan anak padahal membuat gizi keluarganya buruk," kata Yohana saat ditemui di bilangan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.


Perkawinan pada usia anak merupakan masalah yang sangat serius karena mengandung berbagai risiko dari berbagai aspek, seperti kesehatan, psikologi, dan sosiologi. Adapun usia pernikahan wajar menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Sehingga mereka yang melakukan perkawinan di bawah usia 18 tahun adalah pernikahan nggak wajar karena usia belum matang, organ intim dan reproduksi sedang berkembang serta mental yang masih belum stabil.

Vice President of Life Operation Division Sequis Eko Sumurat mengatakan, salah satu upaya untuk mendukung pembangunan Indonesia adalah mencegah terjadinya perkawinan usia anak.

"Perlu menunda hubungan seksual hingga umur, biologis, dan, mental menjadi dewasa serta finansial yang memadai karena perkawinan usia anak tidak memberikan dampak positif pada siapapun dan hanya menambah beban sosial dan ekonomi bagi keluarga, dan bagi bangsa," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima HaiBunda.

Jika perkawinan usia anak nggak segera dihentikan, dampaknya akan semakin kompleks. Antara lain dampak kemanusiaan, kesehatan, ekonomi, dan masih banyak lagi.


Dampak Psikologis dan Fisik Pernikahan Usia Dini bagi AnakDampak Psikologis dan Fisik Pernikahan Usia Dini bagi Anak/ Foto: Pool

Dampak psikologis perkawinan usia anak pada ibu dan anak

Sementara itu, dampak psikologis yang ditimbulkan nggak main-main, Bun. Menurut dokter Spesialis Jiwa OMNI Hospitals Pulomas Jakarta dr Jimmi MP Aritonang, SpKJ, secara psikologi, perkawinan usia anak bisa menyebabkan trauma dan krisis percaya diri, kemudian emosi nggak berkembang dengan matang.

"Kepribadiannya cenderung tertutup, mudah marah, putus asa, dan mengasihani diri sendiri. Hal ini karena si anak belum siap untuk menjadi istri, pasangan seksual, dan menjadi Ibu atau orang tua," ujar dr Jimmi.

Selain itu, perkawinan usia anak juga menyebabkan gangguan kognitif, seperti nggak berani mengambil keputusan, kesulitan memecahkan masalah, dan terganggunya memori.

"Dominasi pasangan rentan menyebabkan terjadinya ketidakadilan, kekerasan rumah tangga serta terjadi perceraian. Di sisi lain, tuntutan bersosialisasi dalam masyarakat atau menghadapi pandangan masyarakat akan membuat si anak merasa tertekan dan cenderung menutup diri dari aktivitas sosial. Hal ini dapat menyebabkan produktivitas menurun dan sedikit peluang untuk melanjutkan pendidikan," tutur dr Jimmi.

Selain itu, perkawinan usia anak, remaja perempuan yang hamil dan melahirkan rawan mengalami gangguan mental pasca melahirkan, seperti depresi setelah melahirkan (baby blue syndrome) yang terjadi karena perubahan hormon, kelelahan, tekanan mental, dan merasa kurangnya bantuan ketika melahirkan.
Dampak Psikologis dan Fisik Pernikahan Usia Dini bagi Anak/ Dampak Psikologis dan Fisik Pernikahan Usia Dini bagi Anak/ Foto: detik

Dampak fisik

Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Health Claim Senior Manager Sequis dr Yosef Fransiscus. Ia mengatakan bahwa anak secara fisik belum matang untuk melakukan hubungan seksual, mengalami hamil, dan melahirkan.

"Pada perkawinan usia anak, rentan terjadi dominasi oleh pasangan yang lebih tua. Sehingga kemungkinan pasangan yang lebih muda tidak berani untuk meminta hubungan seks dengan alat pengendali kehamilan agar tidak hamil di usia muda, padahal hubungan seksual yang dilakukan di usia dini, secara terpaksa, dan tanpa pengetahuan dasar kesehatan reproduksi akan memicu kemungkinan kerusakan organ intim. Efek lainnya adalah hilangnya kemampuan orgasme dan kemampuan ovulasi/hamil di jangka panjang," tutur Yosef.

dr Jimmi bilang, gangguan mental dan kesehatan ibu hamil ternyata berdampak juga pada anak yang dilahirkan. Misalnya, rawan terjadi gangguan mental seperti down syndrome serta berisiko mendapatkan berbagai masalah kesehatan, emosional, dan sosial jika dibandingkan mereka yang lahir dari pernikahan usia matang dan bahagia.

"Sedangkan gangguan pada kesehatan, misalnya terjadi cacat lahir. Akibat tulang belakang bayi yang gagal berkembang, terbentuk celah atau defek pada tulang belakang dan saraf tulang belakang (spina bifida)," tambah dr Yosef.

Kesulitan anak perempuan dari pasangan perkawinan usia anak tak hanya dirasakan pada saat hamil dan melahirkan, tetapi juga saat membesarkan anak. Akibat keterbatasan finansial dan mobilitas serta keterbatasan berpendapat seringkali membuat anak perempuan tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan mengasuh bayinya termasuk juga ketidaksiapan emosional orang tua karena memiliki anak.

Akibatnya, dapat terjadi risiko penelantaran bayi atau pengasuhan yang tidak tepat. Jika ini terjadi maka pada perkembangan lanjutannya, anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan, kesulitan belajar, gangguan perilaku, dan cenderung menjadi orang tua pula di usia dini.

(aci/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi