parenting

Bayi Tanpa Imunisasi Rentan Terserang Tifus?

Dwi Indah Nurcahyani Minggu, 03 Mar 2019 15:00 WIB
Bayi Tanpa Imunisasi Rentan Terserang Tifus?
Jakarta - Cuaca yang tidak menentu dan bahkan cenderung ekstrem membuat berbagai penyakit mengintai, Bun. Salah satunya tifus yang juga kerap menyerang anak-anak.

Tifus sendiri merupakan penyakit yang disebabkan infeksi bakteri dimana biasanya menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja, atau urin orang terinfeksi tifus.

Pada balita, gejala tifus biasanya berkembang dalam satu hingga dua minggu setelah bersentuhan dengan makanan atau minuman pengidap tifus. Kemungkinan kuman tifoid tersebut masuk ke dalam tinja orang yang terinfeksi. Kemudian, anak Bunda tertular setelah menerima makanan dari pengidap tifus yang belum mencuci tangannya dengan benar setelah dari toilet.



Infeksi ini biasanya paling umum terjadi pada anak-anak usia dua sampai dengan lima tahun. Tetapi, bayi dan balita juga bisa terindikasi penyakit ini.

Pada bayi yang disusui secara eksklusif biasanya akan lebih ter-proteksi, karena mereka mendapatkan kekebalan melalui ASI yang dikonsumsinya.

Untuk menandai apakah kondisi yang dialami anak Bunda itu tifus atau tidak, Bunda bisa melihat dari gejala yang mungkin timbul. Melansir Baby Center, umumnya tifus sendiri ditandai dengan gejala ringan atau berat dan berlangsung selama empat minggu atau lebih.

Bayi Tanpa Imunisasi Rentan Terserang Tifus?Bayi terkena tifus/ Foto: iStock


Beberapa gejalanya yang bisa Bunda kenali yakni demam dengan suhu 38 derajat celcius atau lebih tinggi. Berlangsung selama lebih dari tiga hari. Pada beberapa orang, demam ini akan mengikuti pola tertentu. Misalnya anak naik lebih tinggi di sore menjelang malam dan turun di pagi harinya.

Gejala lainnya yang mungkin timbul yakni perasaan tidak nyaman dan gelisah, sakit perut, sakit kepala, sembelit atau diare, dan keluar bintik-bintik merah setelah satu minggu lebih.

Bunda juga harus mewaspadai jika gejala-gejala yang dialami anak Bunda semakin parah. Seperti dibarengi dengan muntah yang terus menerus, diare, perut bengkak, dan demam lebih dari tiga hari. Ada baiknya, Bunda segera membawa si kecil ke rumah sakit terdekat.

Menyoal tifus, Dr Kathy Neuzil, Direktur Pusat Pengembangan Vaksin di University of Maryland School of Medicine mengatakan kalau demam tifoid merupakan masalah kesehatan masyarakat yang umum terjadi di banyak negara berkembang. Biasanya karena urbanisasi terjadi sangat cepat serta. Sehingga membuat peningkatan tifus jadi resistan terhadap multi obat.

"Kondisi ini pun sangat mengkhawatirkan sehingga menciptakan kebutuhan mendesak untuk fokus pada pencegahan,"kata Neuzil.

WHO sendiri menekankan pentingnya penggunaan vaksin tifus untuk mengendalikan tifus endemik dan epidemi serta merekomendasikan agar negara endemis tifus memperkenalkan vaksin TCV untuk bayi dan anak di atas usia enam bulan, dikutip dari laman WHO.

"Vaksin adalah salah satu investasi terbaik yang dapat kita lakukan untuk memberikan awal yang sehat bagi setiap anak. Dan, rekomendasi WHO ini merupakan langkah penting dalam menyukseskan tujuan dalam mengatasi beban tifus yang tinggi pada anak-anak. Dengan vaksin ini, negara-negara akhirnya dapat melindungi jutaan anak dari serangan penyakit mematikan ini,"ujar Dr Anita Zaidi, Direktur Pengembangan dan Pengawasan Vaksin serta tim dari Bill & Melinda Gates Foundation.



Nah, Bun, lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Terpenting, jaga selalu kesehatan buah hati dan Bunda sekeluarga di rumah agar terhindari dari serangan penyakit ya!

[Gambas:Video 20detik]

(rap/rap)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi