parenting

Memulihkan Trauma Anak yang Jadi Korban Aksi Penembakan

Annisa Karnesyia Sabtu, 16 Mar 2019 18:58 WIB
Memulihkan Trauma Anak yang Jadi Korban Aksi Penembakan
Jakarta - Aksi penembakan kembali terjadi dan menelan korban. Kali ini terjadi di sebuah masjid di Selandia Baru dan menewaskan sedikitnya 49 orang. Dari korban selamat, ada dua warga negara Indonesia (WNI) ayah dan anak yang saat ini masih dirawat di rumah sakit setempat.

Mengutip detikcom, WNI korban penembakan itu adalah Zulfirman Syah dan anaknya yang baru dua bulan tinggal di negara itu. Zulfirman Syah ke Selandia Baru mengikuti istrinya yang mendapat pekerjaan di sana. Menghadapi kejadian tragis yang mendadak seperti itu memang tidak mudah ya, Bun. Bagi seorang istri, pasti berat untuk bangkit dan tegar apalagi untuk membantu anak yang mengalami trauma setelah kejadian.

Psikolog dari Amerika, Devon MacDermott Ph.D mengatakan, aksi penembakan yang disiarkan melalui video dapat menyebabkan trauma berkelanjutan. Trauma ini mengacu pada rasa sakit yang dialami seseorang ketika melihat dan mengalami langsung kejadian.


"Efeknya akan menimbulkan emosi tidak berdaya dan ketakutan yang intens. Mereka akan memiliki mekanisme untuk selalu merasa tidak aman karena khawatir dan ketakutan," ujar MacDermott, dikutip dari Psychology Today.


Hal ini lebih rentan jika dialami oleh anak-anak. Mereka akan mengalami dampak seperti merasa tidak aman, stres, dan kehilangan rasa percaya diri. Saat itulah anak-anak butuh dukungan yang tepat agar mendapatkan kembali keseimbangan emosional, memulihkan kepercayaan mereka pada dunia, dan melupakan trauma.

Dilansir Help Guide, berikut adalah beberapa cara yang bisa Bunda lakukan untuk menolong anak menghadapi trauma pasca kejadian tidak terduga seperti aksi penembakan, atau kekerasan.

1. Meminimalisasi paparan media

Paparan berlebihan terhadap gambar atau video tentang kejadian dapat menciptakan tekanan traumatis secara tidak langsung pada anak-anak. Untuk sementara, jangan biarkan anak menonton tayangan televisi atau melihat media sosial untuk mengurangi paparan.

2. Dampingi anak

Bunda mungkin tidak dapat memaksa anak pulih dari trauma, tapi Bunda bisa memainkan peran utama dalam proses penyembuhan dengan menghabiskan waktu bersama dan mengajak anak berbicara langsung. Selain itu Bunda bisa ciptakan lingkungan dimana anak merasa aman untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.

3. Dorong anak melakukan aktivitas fisik

Aktivitas fisik bisa membakar adrenalin, melepaskan hormon endorfin sehingga membantu anak tidur lebih nyenyak di malam hari. Kita juga dapat mendorong anak untuk bermain bersama teman atau mencari aktivitas lain yang disukainya. Banyak bergerak bisa membangun sistem saraf anak dan memulihkan perasaan mereka dari trauma.

4. Membangun kembali kepercayaan dan keamanan

Trauma dapat mengubah cara seorang anak melihat dunia. Mereka akan melihat dunia sebagai tempat yang menakutkan dan berbahaya. Bunda bisa membangun kepercayaan anak dengan mengajak anak berbicara dan menepati janji-janji. Bersikaplah konsisten dan ikuti apa yang telah anda janjikan pada anak.

Jika trauma tidak bisa diatasi dan mengganggu kemampuan anak untuk berfungsi dengan baik di lingkungan, mungkin bantuan dari profesional seperti psikolog spesialis trauma yang dibutuhkan.


[Gambas:Video 20detik]

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi