parenting

Di Usia Berapa Anak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?

Melly Febrida Senin, 01 Apr 2019 15:00 WIB
Di Usia Berapa Anak Boleh Konsumsi Makanan Pedas?
Jakarta - Kalau orang dewasa senang makan makanan pedas itu wajar. Tapi, gimana konsumsi makanan pedas pada anak terutama usia balita?

"Anak-anak ingin makan makanan yang rasanya juga enak, sama seperti orang dewasa," kata Kristi King, Ahli Diet Senior di Texas Children's Hospital dan juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics.

King bilang, tanpa disadari Bunda sudah menumbuhkan preferensi rasa pedas pada anak jika saat menyusui Bunda sering konsumsi makanan pedas saat menyusui. Sebab, rasa dan zatnya ada di ASI.


Tapi, apabila Bunda ingin menambahkan rasa yang agak pedas atau bumbu-bumbu yang rasanya kuat seperti cabai atau bumbu kare pada masakan, minimal setelah anak berusia 1 tahun. Terlebih, di atas usia 1 tahun anak kan sudah makan makanan keluarga ya, Bun?



Menurut King, anak-anak usia di bawah 1 tahun hanya terbiasa dengan makanan dasar yang mudah memicu sensitivitas indra perasa. Terkait makanan pedas yang dikonsumsi anak, kata King memang makanan pedas jarang memicu alergi makanan. Tapi, makanan pedas bisa mengiritasi sistem pencernaan dan memicu naiknya asam lambung. Pastinya, kedua kondisi itu bisa bikin anak enggak nyaman.

"Saat Anda memperkenalkan makanan dengan rasa yang lebih kuat, sajikan dalam porsi kecil lebih dulu. Lalu, perhatikan jika ada reaksi yan ditunjukkan anak," tambah King dilansir Baby Center.

Sementara itu, Anca Safta, ahli gastroenterologi anak dan asisten profesor di University of Maryland menjelaskan ada banyak perdebatan tentang pengenalan makanan pedas bagi anak. Menurut Safta, ada perbedaan antara rempah-rempah pedas dan aromatik.

Ilustrasi cabaiIlustrasi cabai Foto: Instagram
Rempah aromatik seperti kayu manis, pala, bawang putih, kunyit, jahe, ketumbar, adas dan jintan. Sedangkan, rempah pedas melibatkan stimulasi reseptor rasa sakit, dan balita mungkin memiliki reaksi yang lebih kuat dan baru, sehingga enggan memakannya.

"Ada reseptor rasa sakit di lidah dan usus yang dirangsang oleh makanan pedas dan panas, khususnya, reseptor yang disebut transient receptor potensial vanilloid-1 (atau TRPV-1), di usus. Capsaicin, zat yang menghasilkan rasa pedas berikatan dengan reseptor ini dan mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak," kata Safta mengutip Live Science.

Inilah yang menciptakan sensasi terbakar pada lidah, rasa sakit di usus dan pada beberapa orang di sekitar area perianal saat buang air besar setelah konsumsi makanan pedas. Orang dengan sindrom iritasi usus dapat memiliki reaksi buruk terhadap makanan pedas sebagai akibat dari stimulasi reseptor ini.



Di beberapa negara atau budaya, makanan pedas diperkenalkan pada anak lebih awal. Sehingga, wajar jika anak toleran terhadap rasa pedas meski usianya masih kecil. Safta menambahkan, jika Bunda hendak mengenalkan anak dengan rasa rempah aromatik, beri satu per satu untuk melihat reaksi alergi yang mungkin muncul.

Berbicara tentang pedas, cabai mengandung serat dan berbagai macam vitamin. Beberapa di antaranya vitamin C, vitamin A, mineral dan antioksidan. Namun, konsumsi cabai dianjurkan tidak berlebihan termasuk untuk anak-anak. dr.Meta Hanindita, Sp.A, mengatakan konsumsi makanan pedas aman bagi anak, selama pemberiannya tidak berlebihan dan tidak dilakukan setiap hari.

"Kalau sesekali sih tidak apa-apa. Tapi jangan setiap hari dan terlalu pedas," tutur dokter spesialis anak dari RSUD Dr Soetomo Surabaya ini mengutip detikcom.

[Gambas:Video 20detik]

(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi