sign up SIGN UP search


parenting

4 Jenis Makanan yang Wajib Dihindari Balita, Tinggi Gula hingga Pengawet

Melly Febrida Sabtu, 02 May 2020 18:12 WIB
Cute sweet blonde child, playing and eating donuts at home caption
Jakarta - Sejumlah makanan sebaiknya dihindari dari anak-anak usia prasekolah atau balita. Orang tua tentu sudah banyak yang mengetahuinya, namun sulit untuk menghindarinya sama sekali. Yang terpenting, Bunda bisa menguranginya.

Seperti diungkapkan psikiater Drew Ramsey, MD, makanan yang dikonsumsi sangat penting bagi tumbuh kembang anak.


"Tahun-tahun (tumbuh kembang) ini sangat penting untuk perkembangan otak. Apa yang mereka makan akan memengaruhi kemampuan kognitif dan fokus anak," kata Ramsey, dilansir WebMD.


Hal senada disampaikan psikolog anak Dr Richard Woolfson, PhD, PGCE, MAppSCi, CPsychol, FBPsS. Menurutnya, anak prasekolah yakni usia 3 - 6 tahun perlu mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan kaya nutrisi.

Woolfson mengatakan, usia prasekolah ini merupakan masa pertumbuhan dan perubahan pada anak. Anak-anak berkembang secara mental dan fisik, serta membutuhkan kalori yang cukup untuk tumbuh tanpa makan terlalu banyak, yang bisa membuatnya kelebihan berat badan.

"Banyaknya kalori yang dibutuhkan tergantung usia, tingkat aktivitas, dan jenis kelaminnya," ujarnya, dalam buku Your Preschooler Bible.

Anak makanAnak makan/ Foto: Getty Images/iStockphoto/tatyana_tomsickova
Woolfson juga mengingatkan untuk menghindari, atau setidaknya mengurangi beberapa makanan di bawah ini:

1. Gula rafinasi

Menurut Woolfson, makanan olahan seperti permen, kue kering, dan sarapan sereal manis yang tinggi gula rafinasi, hanya sedikit atau tidak ada nilai gizi yang disempurnakan. Selain itu, bisa menyebabkan gigi rusak dan penambahan berat badan.

"Makan makanan manis menyebabkan lonjakan sementara kadar glukosa darah, membludaknya energi, yang segera diikuti oleh penurunan atau rendah gula," kata Woolfson.

Fluktuasi ini menghasilkan pasokan energi yang tidak konsisten ke otak, menyebabkan konsentrasi dan rentang perhatian yang buruk, lekas marah, dan kelelahan.


2. Makanan cepat saji

Makanan yang diproses dengan cepat mengandung banyak garam, gula, pemanis, aditif seperti warna buatan, pengawet, dan perasa, dan lemak. Selain itu, makanan cepat saji ini tidak memiliki nilai gizi.

"Makanan ini juga cenderung tinggi lemak jenuh dan terhidrogenasi, atau lemak trans, yang memperlambat proses pencernaan, peredaran darah, dan menyumbat pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit," tutur Woolfson.

3. Kafein dan minuman berkarbonasi

Kafein tak hanya ditemukan dalam kopi dan teh, tapi juga ada dalam cokelat dan dalam beberapa minuman berkarbonasi, seperti cola.

"Kafein adalah stimulan dan diuretik, yang dapat menyebabkan perubahan suasana hati karena memengaruhi kemampuan tubuh mengontrol kadar gula darah. Ini juga menghabiskan vitamin B dalam tubuh dan mineral seperti seng, kalium, kalsium, dan zat besi," jelas Woolfson.

Minuman manis dan bersoda juga mengandung tambahan gula, pewarna buatan, pemanis buatan, kafein, dan pengawet. Serta tinggi kandungan mineral fosfor, yang menghambat penyerapan kalsium.

4. Aditif dan pengawet

Sejumlah zat ditambahkan ke dalam makanan yang diproduksi. Biasanya menggunakan kode 'E', singkatan dari Eropa, tetapi beberapa juga telah disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat (AS):

• Antioksidan (E300-321) mencegah makanan berubah menjadi tengik

• Pewarnaan (E100-180) menambah atau mengintensifkan warna

• Pengemulsi, stabilisator, pengental, dan agen pembentuk gel (E322-495), yang memengaruhi tekstur makanan dan mengikat bahan-bahan secara bersamaan.

• Penambah rasa (E620-635) meningkatkan rasa atau aroma makanan.

• Pengawet (E200-283) mencegah dan memperlambat penurunan kualitas makanan.

"Setiap makanan olahan dengan umur simpan yang panjang kemungkinan termasuk pengawet. Menurut penelitian, aditif dapat memengaruhi satu dari tujuh anak," kata Woolfson.

Ia pun menegaskan, anak kecil sangat rentan karena sistemnya belum matang dan lebih mudah terpapar.

Meskipun tidak semua aditif berpotensi berbahaya, beberapa di antaranya, seperti pewarna oranye makanan tartrazine (E102), dikaitkan dengan hiperaktif pada anak-anak yang sensitif, serta menjadi penyebab potensial alergi, ingatan yang buruk, depresi, dan perubahan suasana hati.


Bunda, simak juga 8 jenis makanan yang meningkatkan fungsi otak anak, dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]

(muf/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi