parenting

Fakta dan Mitos tentang Dermatitis Atopik yang Perlu Bunda Tahu

Asri Ediyati Senin, 19 Aug 2019 16:11 WIB
Fakta dan Mitos tentang Dermatitis Atopik yang Perlu Bunda Tahu
Jakarta - Dermatitis atopik (DA) merupakan suatu penyakit kronis yang bisa membuat kulit meradang, gatal, kering, pecah-pecah. Jika tak disegera ditangani akan menurunkan kualitas hidup pengidapnya. Menurut data World Allergy Organization 2018, prevalensi dermatitis atopik pada anak sebesar 5 - 30 persen dari populasi dunia. Jumlah yang enggak sedikit ya, Bun?

Menurut dr.Anthony Handoko, Sp.KK., FINDV, dermatitis atopik merupakan penyakit kulit yang diturunkan secara herediter atau genetik. Nah, masalahnya banyak fakta dan mitos yang beredar di masyarakat tentang dermatitis atopik ini, Bun.

Lebih lanjutnya, Anthony memaparkan mitos dan fakta tentang dermatitis atopik sebagai berikut, Bun.

1. Dermatitis atopik sama dengan eksema dan alergi


Dermatitis atopik sering disebut atopik ezcema, jadi bisa dibilang sama. Kata Anthony, yang berbeda adalah alergi. Tidak semua atopik itu alergi. Ini karena semua orang mengasosiasikan atopik dengan alergi.

"Jadi kebanyakan bilang kalau kulit gatal dibilangnya alergi, padahal bisa jadi dermatitis atopik. Walau DA gejalanya gatal, belum tentu alergi. Akan tetapi kita tahu pemicu dermatitis atopik itu salah satunya dari eksternal, yang kita sebut sebagai alergan," kata Anthony di acara Seminar Media Waspada Dermatitis Atopik dari Klinik Pramudia, di bilangan Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).

2. Dermatitis atopik timbul karena makanan tertentu

Secara penelitian, makanan hanya sedikit dapat menyalurkan pemicunya dermatitis atopik. Ada yang mungkin enggak boleh minum susu sapi, soy, tetapi apakah dapat merangsang dermatitis atopik? Jawabannya belum tentu.

3. Pengidap dermatitis atopik memiliki kulit sensitif

Ya, kulit pengidap dermatitis atopik memiliki kulit sensitif. Untuk itu pengidap perlu menghindari pemicu terjadinya dermatitis atopik, Bun.

4. Dermatitis atopik timbul pada saat anak-anak saja

"Enggak juga, ada DA bayi, anak-anak, dewasa, dan geriatri atau manula," kata Anthony.
ilustrasi dermatitis atopik pada bayi/ ilustrasi dermatitis atopik pada bayi/ / Foto: Thinkstock

5. Dermatitis atopik menular

Tidak, kita lihat saja orang tuanya, punya keturunan dermatitis atopik atau enggak. Bukan anaknya ketularan ibunya, justru biangnya dari gen orang tuanya.

6. Dermatitis atopik bisa sembuh total atau justru penyakit seumur hidup?

"Iya kenyataannya, cuma kadang dokter enggak enak dengan pasien, seperti divonis seumur hidup. Padahal sebenarnya bila dikelola dengan baik, mereka akan baik-baik saja," tutur Anthony.

Menurut Anthony, penyakit dermatitis atopik bisa kambuh kronis. Oleh karena itu pasien perlu mengupayakan agar dermatitis atopik ini terkontrol, jarang kambuh dan jika dia berhasil menghindari faktor pemicunya. Jadi kita enggak bisa mengatakan dermatitis atopik bisa sembuh total.

7. Pengidap dermatitis atopik bisa mandi air panas

Alasan yang lebih ilmiah kenapa pasien dermatitis atopik tidak dianjurkan mandi air terlalu panas, karena pengidap dermatitis atopik memiliki sedikit kelenjar minyak akibatnya minyak di kulit kurang, otomatis kulit kering. Bila mandi pakai air panas, minyak-minyak tadi hilang. Suhu air yang dianjurkan suam kuku.

8. Dermatitis atopik perlu tes alergi kulit atau darah

Boleh saja dilakukan, namun tes dilakukan khusus untuk kondisi dermatitis atopik yang berat. Tes alergi itu pun sebenarnya, kata Anthony, ketepatannya masih kurang, enggak bisa 100 persen.

"Dites menggunakan bahan-bahan alergen tapi biasanya bahannya dari luar negeri, bukan bahan dari lokal sini. Misalnya tes susu, susu di sini dan sana berbeda. Kita boleh percaya tapi hanya sebagai tambahan untuk meyakinkan diagnosis DA," ujar Anthony.

9. Pasien dermatitis atopik tergantung dengan obat

Sebenarnya relatif, Bun, kalau anak kambuh kita obati, Namun, jika dermatitis atopik terkontrol, pengobatannya itu lebih ke perawatan hari-hari. Hal yang paling penting adalah membuat kulitnya menjadi lembap.

"Jadi bukan tergantung sama dengan adiksi obat, tapi obat diperlukan pada saat dia kambuh, pada saat stabil atau terkontrol kita masuk ke perawatan," ujarnya.

Simak juga cara mencoba makeup agar tak tertular penyakit.

[Gambas:Video Haibunda]

(aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi