parenting

Penyebab Kelamin Ganda Seperti Bocah 3 Tahun Asal Cianjur

Asri Ediyati Kamis, 05 Sep 2019 09:59 WIB
Penyebab Kelamin Ganda Seperti Bocah 3 Tahun Asal Cianjur
Jakarta - Suami-istri asal Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, harus menahan beban psikis karena status anaknya yang berusia 3 tahun itu memiliki kelamin ganda. Iyan Kustian (46) dan Ida Rosidah (37) mengaku kebingungan dengan status anak bungsunya yang berinisial A. Dilansir detikcom, kondisi A sudah diketahui sejak lahir, namun belum diberi kepastian status gender setelah beberapa kali ke dokter.

"Ada dua bentuk kelamin. Satu kelamin pria, satunya kelamin perempuan. Dokter juga bilang seperti itu," kata Iyan.

Selama di kandungan, diakui Iyan, A tumbuh kembang dengan normal. Ia juga dalam keadaan sehat saat dilahirkan. Setelah tahu A memiliki dua kelamin, pihak medis yang menangani meminta Iyan dan istri pastikan status gender A.


"Akhirnya dirujuk ke RS Persahabatan, dokter menyarankan untuk tes kromosom. Namun, karena biayanya lumayan dan tidak tertanggung BPJS, akhirnya niat tes kromosom kita urungkan," tutur Iyan.

Baginya tes kromosom cukup menguras tabung pasalnya Iyan harus menyiapkan uang Rp 2 juta untuk tes tersebut. Terkait penamaan dan status dalam kartu keluarga (KK), A ditulis lelaki. Iyan punya alasan sendiri, karena bentuk fisik anaknya tersebut memang seperti lelaki.

"Jujur saja, sejak lahir fisiknya seperti laki-laki, lalu saya didik seperti laki-laki. Tapi ketika dicek lagi ke RS Hasan Sadikin, ada seperti kemaluan perempuan, bentuknya mirip sekali. Akhirnya saya beban mental, karena status dua kelamin tersebut," ujarnya.

Sebagai ayah, Iyan pun memikirkan kondisi psikis anaknya yang akan tumbuh besar. Iyan khawatir anaknya merasa malu dengan kondisinya. Ia dan istri berharap ada yang memberi bantuan agar A bisa menjalani tes kromosom serta tindakan medis lainnya. Hal ini karena jika sudah jelas status A maka perlu ada tindakan operasi.

Hiks, semoga lekas ada bantuan agar orang tua A bisa tahu status gender A ya, Bun. Terkait dengan hal yang dialami bocah 3 tahun asal Cianjur ini, kelamin ganda dalam dunia medis dikenal dengan amiguous genitalia. Dikutip dari Mayo Clinic, kelamin ganda adalah kondisi langka, alat kelamin eksternal bayi tampak tidak jelas baik laki-laki atau perempuan.

Pada bayi dengan kelamin ganda, alat kelaminnya mungkin tidak berkembang sempurna. Bisa juga bayi tersebut mungkin memiliki karakteristik dari kedua jenis kelamin. Organ seks eksternal mungkin tidak cocok dengan organ seks internal atau seks genetiknya.

Ingat, kelamin ganda bukan penyakit, Bun, itu gangguan perkembangan seks. Biasanya, kelamin ganda jelas terlihat pada saat bayi lahir, dan itu bisa sangat menyusahkan bagi keluarga.
ilustrasi anak berpegang tangan dengan orang tuailustrasi anak berpegang tangan dengan orang tua/ Foto: iStock

Penyebab anak memiliki kelamin ganda

Penyebabnya dibagi menjadi dua. Hal ini karena ada yang secara fisik perempuan tapi ternyata genetik laki-laki dan ada juga yang sebaliknya, Bun. Pada anak yang memiliki kelamin ganda tapi secara genetik perempuan kemungkinan penyebabnya adalah sebagai berikut:

1. Hiperplasia adrenal kongenital. Bentuk-bentuk tertentu dari kondisi genetik ini menyebabkan kelenjar adrenalin membuat hormon pria (androgen) kelebihan.

2. Paparan hormon pralahir pada pria. Obat-obatan tertentu yang mengandung hormon pria atau yang merangsang produksi hormon pria pada wanita hamil dapat menyebabkan perkembangan alat kelamin wanita menjadi lebih maskulin. Bayi yang sedang berkembang juga dapat terkena hormon laki-laki yang berlebihan jika ibu memiliki penyakit atau kondisi yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon.

3. Tumor, namun jarang terjadi. Tumor pada ibu dapat menghasilkan hormon pria.

Lalu, pada anak yang memiliki kelamin ganda tapi secara genetik laki-laki kemungkinan penyebabnya adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan testis terganggu. Hal ini mungkin karena kelainan genetik atau penyebab yang tidak diketahui.

2. Sindrom ketidakpekaan androgen. Dalam kondisi ini, jaringan genital yang berkembang tidak merespons hormon pria yang dibuat oleh testis secara normal.

3. Kelainan dengan testis atau testosteron. Berbagai kelainan dapat mengganggu aktivitas testis. Hal tersebut mungkin termasuk masalah struktural dengan testis, masalah dengan produksi hormon testosteron pria atau masalah dengan reseptor seluler yang merespons testosteron.

4. Defisiensi enzim 5a-reduktase. Cacat enzim ini merusak produksi hormon pria normal. (aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi