HaiBunda

PARENTING

4 Makanan Dasar yang Dibutuhkan Anak Usia 2 Tahun, Perlukah Suplemen?

Melly Febrida   |   HaiBunda

Selasa, 28 Apr 2020 16:46 WIB
Ilustrasi kebutuhan nutrisi anak usia 2 tahun/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Patrick Frost
Jakarta - Waktu makan sudah tiba, tapi si kecil malah lebih memilih bermain. Dalam sehari, anak usia dua tahun memang harus makan tiga kali makanan sehat dan dua kali makanan ringan. Tapi kalau begini kondisinya, kesabaran Bunda pun diuji.

Perlu Bunda ketahui, saat anak berusia dua tahun, kemampuan bahasa dan sosialnya meningkat. Di usia dua tahun, si kecil mungkin saja enggak bisa diam saat waktu makan bersama keluarga.


Dikatakan Sarah Ockwell-Smith, spesialis metode Gentle Parenting, kebanyakan orang tua fokus pada anak makan harus sesuai waktunya, sampai kejar-kejaran. Namun, jarang orang tua yang fokus pada makanannya. Padahal, ini sangat dibutuhkan untuk mendorong kebiasaan sehat pada anak-anak.


"Anak-anak harus makan dengan fokus pada makanan mereka: itu berarti tidak ada camilan, makan siang saat bepergian di dalam mobil, atau makan di depan televisi," kata Ockwel-Smith, dalam buku The Gentle Eating Book.

Ockwell-Smith menjelaskan lagi, makan dengan fokus sepenuhnya berarti lebih sadar akan rasa lapar dan isyarat tubuh kita. Ini mendorong makan yang penuh perhatian, sedangkan makan yang terganggu mendorong yang sebaliknya.

Dikutip dari Healthy Children, memberikan makan anak pada usia dua tahun jangan terpaku pada jumlahnya Bun. Selain itu, jangan meributkan waktu makan.

Idealnya, anak di usia ini mengonsumsi empat kelompok makanan dasar setiap harinya, yakni:

1. Daging, ikan, unggas, telur
2. Susu, keju, dan produk susu lainnya
3. Buah-buahan dan sayur-sayuran
4. Sereal, kentang, beras, produk tepung

Ilustrasi anak usia dua tahun/ Foto: Getty Images/iStockphoto/tatyana_tomsickova

Tapi, orang tua tak perlu khawatir jika anak tidak selalu memenuhi makanan ideal di atas. Banyak juga balita menolak makanan tertentu atau bersikeras hanya makan satu atau dua makanan favoritnya. Semakin Bunda memaksa anak dalam pilihan makannya, anak semakin menentang.

Kalau Bunda menawarkan berbagai makanan dan menyerahkan pilihan kepada anak, pada akhirnya memungkinkan anak menyantap makanan yang seimbang dengan sendirinya.

Balita biasanya sudah suka makan sendiri, apabila memungkinkan, Bunda bisa menawarkan finger food ketimbang makanan yang dimasak yang membutuhkan garpu atau sendok makan.

Lalu, apakah anak dua tahun butuh suplemen?

Balita yang makan makanan bervariasi jarang memerlukan suplemen. Tapi, anak yang sedikit makan daging perlu tambahan zat besi. Ini bisa berupa sereal yang diperkaya zat besi, atau sayuran yang kaya akan zat besi.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, kebutuhan zat besi bayi usia 6 - 12 bulan adalah 11 mg per hari, sedangkan anak umur 1 - 3 tahun (batita) butuh zat besi lebih sedikit, yaitu 7 mg per hari.

"Zat besi penting untuk pembentukan sel, termasuk pembentukan sel darah merah. Sehingga, sirkulasi darah lebih maksimal. Sel darah merah ini kan membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke otak," jelas dr.Caessar Pronocitro, MSc, Sp.A.

Dalam pemberian susu juga perlu diperhatikan, Bunda. Memberikan susu lebih dari 960 mL per hari bisa mengganggu penyerapan zat besi, sehingga meningkatkan risiko anemia defisiensi besi.

Untuk kebutuhan minum susu, setiap hari anak harus minum 480 ml susu rendah lemak atau tanpa lemak. Ini akan memberikan sebagian besar kalsium yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang dan tidak mengganggu nafsu makannya terhadap makanan lain, terutama yang menyediakan zat besi.

Sementara itu, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak-anak tetap mengonsumsi susu murni sampai mereka berusia dua tahun, kecuali ada alasan mengganti ke susu rendah lemak.

Untuk mengoptimalkan kesehatan tulang pada anak-anak, bayi di bawah 12 bulan memerlukan 400 Unit Internasional (IU) vitamin D per hari, dan anak-anak di atas 12 bulan dan remaja membutuhkan 600 IU per hari.

Jumlah vitamin D ini bisa mencegah rakhitis, suatu kondisi yang ditandai dengan pelunakan dan pelemahan tulang. Jika anak Anda tidak secara teratur terpapar sinar matahari atau mengonsumsi cukup vitamin D dalam makanannya, bicarakan dengan dokter anak tentang suplemen vitamin D.


Bunda, simak juga tips menegah obesitas pada anak, dalam video berikut ini:

(muf/muf)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Terpopuler: Deretan Artis Dapat Kado Mewah saat Hamil

Mom's Life Annisa Karnesyia

Bacaan Doa Malam Nisfu Syaban 2026: Arab, Latin, dan Terjemahannya

Mom's Life Natasha Ardiah

5 Potret Anak Artis Penghafal Al-Qur'an, Terbaru Putra Alyssa Soebandono Selesaikan 4 Juz

Parenting Nadhifa Fitrina

Malam Nisfu Syaban 2026: Arti, Waktu, Keutamaan, Hadits, hingga Amalannya

Mom's Life Azhar Hanifah

Quiet Leadership, Gaya Kepemimpinan yang Dibutuhkan di Tempat Kerja

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Shenina Cinnamon Ultah, Intip Potretnya Dinner Romantis Bareng Angga Yunanda

Terpopuler: Deretan Artis Dapat Kado Mewah saat Hamil

Hampir Setahun Kematian Barbie Hsu, DJ Koo Menolak Terima Warisan Mendiang Istri

5 Potret Anak Artis Penghafal Al-Qur'an, Terbaru Putra Alyssa Soebandono Selesaikan 4 Juz

Quiet Leadership, Gaya Kepemimpinan yang Dibutuhkan di Tempat Kerja

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK