sign up SIGN UP search


parenting

Tips Sabar Saat Bunda Enggak Tahan Mau Memukul Anak

Zika Zakiya Jumat, 15 May 2020 10:38 WIB
Mother holding little boy and crying, family violence caption
Jakarta -

Anak bisa menjadi ladang belajar sabar. Kenapa? Karena anak kerap kali menguji batas kelapangan dada orang tua dalam membimbingnya.

Tapi yang namanya manusia, pasti ada khilaf dalam meniti batas kesabaran itu. Seperti yang terlihat dalam beberapa pertanyaan yang diceritakan Sahabat HaiBunda dalam sesi Kuliah WhatsApp (Kulwap) bertema 'Tips Kelola Emosi Saat Asuh Anak'. Kulwap ini berlangsung pada Rabu (12/05/2020) bersama psikolog Hanifah,M.Psi. Berikut kutipan tanya jawabnya, Bun.


"Bismillah, mau bertanya Bun. Bagaimana jika orang tua sudah terlanjur kurang dapat mengelola emosi, sehingga beberapa kali kerap melakukan hal kasar contohnya mencubit anak atau memukul. Hal negatif tentu akan masuk ke dalam alam bawah sadar anak,


1. Bagaimana agar menghilangkan kesan negatif itu dari alam bawah sadar anak.?
Yang mana mungkin di masa yang akan datang anak akan mengikuti hal tersebut, atau akan terbekas selalu.

2. Jika anak sudah terlanjur ringan tangan (usia 3th) bagaimana meluruskannya kembali??

3. Apa yang dilakukan seorang ibu agar anak dapat menyalurkan dan meregulasi emosi anak yang benar saat tantrum? Terima kasih" - Ayu, 26, Serang

Ilustrasi ibu stresIlustrasi ibu stres/ Foto: iStock


"Dalam beberapa kondisi kita tidak bisa mengontrol emosi kita. Misal sedang sedih, atau marah. Dan ada saat-saat di mana kita sedang memiliki emosi-emosi tersebut kemudian kita menyusuinya/ bermain bersama mereka/ memberi makan. Apakah emosi yang kita miliki bisa sampai ke anak/ mempengaruhi emosi anak juga dan berpengaruh ke kehidupan anak nantinya?" - Iren, 26th, Jakarta


"Anak saya (20 bulan) jika sedang emosi suka memukul-mukul diri sendiri. Padahal kami sebaga orang tua tidak pernah memukul anak/anggota keluarga lain. Apakah ini memang fase yang dilewati oleh anak? Apakah akan ada efek jangka panjang? Jika ini masuk ke fase perkembangan emosinya, apa yang menjadi warning kami sebagai orang tua jika kebiasaan ini bisa berlanjut?" - Niken, 28th, Magelang

ilustrasi ibu stresilustrasi ibu stres/ Foto: istock

Jawab: Terkait emosi diri bunda sebagai seorang ibu, mungkin perlu memahami bahwa pikiran, perasaan, tindakan, dan perilaku Bunda adalah sebenarnya hal yang bisa bunda kendalikan karena kita memiliki kontrol penuh atas diri. Yang sulit biasanya adalah membiasakan.

Tapi walaupun sulit hal tersebut bisa disiasati. Kemudian anak mempelajari berbagai hal dari lingkungan, maka tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan dan memberikan kesempatan bagi anak mempelajari hal-hal yang ada di lingkungan tersebut.

Attachment atau kelekatan antara orang tua dan anak juga sangat penting, terutama bisa kita upayakan saat sedang menyusui. Lakukan dialog dengan anak, meskipun misalnya anak belum pada usianya bisa berbicara. Tapi ia bisa memahami dan menstimulus dirinya untuk bertumbuh dan berkembang.

Kunci dari pengasuhan dan pengelolaan emosi adalah sabar, konsisten, dan berproses. Jadi memang tidak instan dan perlu dibentuk menjadi pola kebiasaan.

Demikian Bun petikan tanya-jawab antara Sahabat HaiBunda dengan psikolog Hanifah,M.Psi. Semoga bisa membantu mengelola emosi Bunda dan si kecil di rumah ya. 

Saksikan juga video mengenai curhat Bunda Donna Agnesia di bawah ini saat dikritik netizen tidak memberi makan anak-anaknya.

[Gambas:Video Haibunda]



(ziz/ziz)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi