sign up SIGN UP search


parenting

12 Tanda Anak Mengalami Depresi, Cepat Marah hingga Berpikir Kematian

Ratih Wulan Pinandu Senin, 06 Jul 2020 15:21 WIB
ilustrasi anak depresi caption
Jakarta -

Tahukah Bunda, jika anak-anak juga bisa mengalami depresi. Gejalanya berbeda dengan yang dialami orang dewasa, sehingga membuat orang tua kadang tidak menyadarinya.

Anak yang terlihat tidak pernah sedih bukan berarti tidak mungkin mengalami depresi ya. Namun, anak-anak yang mengalami kesedihan persisten dan mengganggu kegiatan sosial, tugas sekolah, dan kehidupan di dalam keluarga itu mungkin dia mengalami depresi.

Orang tua sebaiknya segera menyadari gejala depresi pada anak, agar segera dapat disembuhkan. Melansir dariĀ WebMD, gejala depresi pada anak bervariasi. Ini seringkali tidak terdiagnosis dan tidak diatasi karena hanya dinyatakan sebagai perubahan emosi dan psikologis yang normal.


Gejala utama depresi pada anak biasanya ditanda pada kesedihan, putus asa, dan perubahan suasana hati. Tanda lain yang bisa Bunda dan Ayah amati seperti berikut ini:

ilustrasi anak depresi12 tanda anak depresi/ Foto: iStock

1. Lekas marah atau emosi.
2. Perasaan sedih dan putus asa yang berkelanjutan.
3. Menarik diri dari lingkungan sosial.
4. Meningkatnya sensitivitas pada penolakan.
5. Lebih sering berteriak dan menangis.
6. kesulitan berkonsentrasi.
7. Kelelahan dan kurang berenergi.
8. Keluhan fisik seperti sakit perut, kepala yang tidak membaik saat diberi pengobatan.
9. Berkurangnya interaksi selama ada acara di rumah, atau saat bersama temannya. Tidak tertarik pada hobi, kegiatan ekstrakurikuler, dan lainnya.
10. Perasaan tidak berharga atau merasa bersalah.
11. Gangguan pikiran atau konsentrasi.
12. Berpikir tentang kematian atau bunuh diri.

Masalahnya, tidak semua gejala ini dialami oleh anak-anak yang mengalami depresi. Satu hal yang bisa dipastikan pada anak-anak yang depresi, lama-kelamaan akan mengalami penurunan akademis, kehilangan minat sekolah, dan perubahan penampilan.

Depresi juga biasanya jarang terjadi pada remaja di bawah 12 tahun. Tapi tidak menutup kemungkinan anak-anak yang lebih kecil bisa melakukan bunuh diri. Di mana biasanya mereka melakukan secara impulsif ketika marah atau emosi.

Anak perempuan cenderung lebih mungkin melakukan bunuh diri. Sedangkan anak laki-laki lebih mungkin untuk benar-benar melakukan bunuh diri ketika mereka berusaha. Terutama pada anak dengan riwayat keluarga yang mengalami kekerasan, penyalahgunaan alkohol, pelecehan fisik dan seksual disebut lebih rentan depresi hingga bunuh diri.

Untuk dapat melihat masalah yang sebenarnya, orang tua harus tahu masalah sebenarnya. Sehingga segera menyadari tindakan apa yang dilakukan selanjutnya.

"(Orang tua) berusaha menjadi pendengar yang tidak menghakimi, aman, dan baik," saran Scott Bea, PsyD, psikoterapis perilaku kognitif dan asisten profesor kedokteran di Cleveland Clinic Lerner College of Medicine, dikutip dari Everyday Health.

Selanjutnya, Bea menyarankan agar orang tua berbicara pada anak-anak mengenai apa yang mereka inginkan. Termasuk bantuan yang mungkin saja mereka butuhkan.

"Tawarkan dukungan dan alternatif positif termasuk mencari bantuan dari para profesional kesehatan mental. Berusahalah untuk menormalkan perilaku mencari bantuan dengan memperlihatkan bahwa semua individu berjuang dengan masalah dalam kehidupan."

Bunda, perhatikan juga saat anak-anak mulai ada tanda ingin bunuh diri segera hubungi lima rumah sakit yang disiagakan Kementerian Kesehatan untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri, yakni:

1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 8320467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444

Bunda, simak juga yuk kaitan kebiasaan menggigit kuku dengan masalah kejiwaan seperti dijelaskan dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi