sign up SIGN UP search


parenting

Duh Bayi Terinfeksi Corona Sejak di Kandungan, Kasus Pertama di Dunia

Asri Ediyati Kamis, 16 Jul 2020 16:49 WIB
3D Ultrasound image caption
Jakarta -

Sebelumnya, Bunda mungkin tak pernah dengar bahwa virus Corona menginfeksi bayi yang ada di dalam kandungan. Namun, kasus bayi di Prancis dikonfirmasi menjadi kasus bayi pertama di dunia yang terinfeksi Corona sejak dalam kandungan.

Dokter-dokter di Perancis telah melaporkan hal ini karena terbukti, virus bisa ditularkan dari seorang ibu hamil ke bayinya di dalam kandungan.

Bayi tersebut mengalami peradangan di otak dalam beberapa hari setelah dilahirkan. Kondisi ini muncul setelah virus Corona melewati plasenta dan menyebabkan infeksi sebelum kelahiran. Namun, kabar baiknya, bayi itu perlahan pulih.


Studi kasus ini diterbitkan di Nature Communications. Studi ini mengikuti kelahiran sejumlah bayi dengan COVID-19, yang dicurigai dokter tertular virus di dalam rahim. Hingga saat ini, mereka belum bisa mengesampingkan kemungkinan bayi terinfeksi selama di kandungan, atau sesaat setelah dilahirkan.

"Sayangnya, tidak ada keraguan tentang penularan dalam kasus ini," kata Daniele De Luca, direktur medis pediatri dan perawatan kritis neonatal di rumah sakit Antoine Beclere di Paris.

"Dokter harus menyadari bahwa ini mungkin terjadi. Itu tidak umum, itu pasti, tetapi itu mungkin terjadi dan itu harus dipertimbangkan dalam latihan klinis," sambungnya, dikutip dari The Guardian.

Penemuan kasus ini bermula saat ibu 23 tahun dirawat di rumah sakit pada 24 Maret lalu, dengan gejala demam dan batuk parah. Ia tertular Corona pada akhir trimester ketiga dan dinyatakan positif COVID-19, sesaat setelah melahirkan.

Setelah ibu hamil itu dirawat tiga hari, lalu hasil pemantauan bayi menunjukkan tanda-tanda buruk, dokter melakukan operasi caesar darurat dengan ibu yang dibius total. Bayi itu segera diisolasi di unit perawatan intensif neonatal (NICU) dan diintubasi karena kondisinya dipengaruhi anestesi umum.

Tes pada darah dan cairan bayi yang diekstraksi dari paru-paru menunjukkan infeksi COVID-19, tetapi mengesampingkan infeksi virus, bakteri, dan jamur lain.

Tes lebih lanjut mengungkapkan bahwa virus telah menyebar dari darah ibu ke plasenta, di mana virus bereplikasi dan menyebabkan peradangan, dan berlanjut ke bayi.

Bayi itu tampak sehat pada awalnya, pada hari ketiga ia menjadi mudah sensitif dan mulai menyusu dengan buruk. Bayi itu mengalami kejang otot yang membuat kepala, leher, dan punggungnya melengkung ke belakang, gejala neurologis yang terlihat pada beberapa kasus meningitis.

Pemindaian MRI kemudian mengungkapkan tanda-tanda gliosis, efek samping dari cedera neurologis, yang bisa menyebabkan jaringan parut di otak. Pada saat bayi itu dilahirkan, tidak ada panduan klinis tentang cara merawat bayi COVID-19.

Para dokter mempertimbangkan untuk memberikan remdesivir, obat antivirus, tetapi karena bayi itu pulih secara bertahap tanpa bantuan, tidak ada obat khusus yang diberikan. De Luca mengatakan, pemindaian tindak lanjut baru-baru ini menunjukkan hasil yang 'hampir normal' atau hampir pulih.

Ilustrasi bayiIlustrasi bayi/ Foto: iStock

Butuh penelitian lanjutan

"Alasan ini belum pernah ditunjukkan sebelumnya karena membutuhkan banyak sampel," kata De Luca.

"Membutuhkan darah ibu, darah bayi baru lahir, darah tali pusat, plasenta, cairan ketuban, dan sangat sulit untuk mendapatkan semua sampel ini dalam pandemi dengan keadaan darurat di sekitar," ujarnya.

De Luca mengatakan, ada beberapa kasus yang dicurigai. Sayangnya, peneliti belum memiliki kesempatan untuk menguji semua ini dan memeriksa patologi plasenta lebih lanjut.

Menurutnya, tingkat virus tertinggi ditemukan di plasenta, yang kaya akan reseptor yang sama seperti ditemukan di paru-paru, yang digunakan virus untuk menyerang sel manusia.

"Berita buruknya adalah bahwa dalam sejarah kasus ini, virus menyerang bayi, menjangkau bayi dan menyebabkan gejala. Kabar baiknya adalah bahwa pada akhirnya, bayinya sangat pulih. Bayinya baik-baik saja secara klinis," katanya.

Meski demikian, De Luca menambahkan, ibu hamil yang terkena COVID-19 harus segera melapor karena ini bisa dikontrol. Dalam kebanyakan kasus, tidak akan ada kerusakan jaringan atau organ pada bayi.

"Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, tetapi kita tidak bisa memejamkan mata dan mengatakan ini tidak akan pernah terjadi," ujarnya.

De Luca juga menyarankan ibu hamil harus lebih perhatian tentang social distancing dan rajin mencuci tangan, untuk mengurangi risiko infeksi.

Sementara itu, dikatakan Andrew Shennan, profesor kebidanan di King's College London, jarang ditemukan kasus ibu meneruskan COVID-19 kepada bayinya.

"Pada 244 bayi yang lahir hidup dari ibu yang terinfeksi di Inggris, 95 persen tidak memiliki tanda virus, dan hasilnya mirip dengan bayi yang tidak terinfeksi," katanya.

"Wanita dapat tetap diyakinkan, kehamilan bukan merupakan faktor risiko yang signifikan bagi mereka atau bayi mereka yang terinfeksi COVID-19," sambung Shennan.

Meski begitu, ibu hamil harus tetap waspada dan selalu menjaga kebersihan ya.

Simak juga asupan peningkat imunitas di era pandemi:

[Gambas:Video Haibunda]



(aci/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi