sign up SIGN UP search


parenting

Ajari Anak Nilai Aqidah dari Kisah Nabi Ibrahim Yuk, Bunda

Haikal Luthfi Selasa, 22 Sep 2020 11:03 WIB
A pre-teen girl wearing a hijab sits on a couch with her little sister on her lap and reads her a bedtime story. Her sister is engaged in the story. caption
Jakarta -

Aqidah adalah landasan dari agama Islam. Karena merupakan landasan, nilai-nilai aqidah sangat penting, termasuk dalam hal mendidik anak lho, Bunda.

Hal itu karena aqidah merupakan kaidah atau tolak ukur suatu perbuatan dan standar bagi kepribadian seorang Muslim. Menurut Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, aqidah merupakan kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal sehat, wahyu dan fitrah.

Kebenaran tersebut tertanam dalam dalam hati serta diyakini keberadaannya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran tersebut. Dengan demikian, aqidah merupakan keyakinan yang kuat terhadap suatu kebenaran Allah SWT tanpa terselip keraguan sedikit pun.


Ketika nilai aqidah telah terpatri dalam diri anak, niscaya anak akan menjadi sosok yang beriman dan berkepribadian kuat, baik sikap maupun perbuatannya. Sebab, dia selalu merasa dalam pengawasan Allah SWT.

Dalam rangka menanamkan nilai aqidah kepada anak, Bunda bisa mengadaptasi dari kisah Nabi Ibrahim. Sebab, Nabi Ibrahim merupakan suri tauladan dalam menegakkan nilai-nilai aqidah dengan tetap berlandasakan prinsip tauhid yang benar.

Kisah Nabi Ibrahim telah banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an. Dalam QS An Nahl ayat 120 disebutkan bahwa Nabi Ibrahim adalah ummah atau seorang imam yang patut diteladani.

اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ

Artinya:

"Sesungguhnya, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan (hatinya) cenderung kepada kebaikan. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah)."

Holy Al-Quran with Allah name on it embraced with beads../ Foto: iStock

Dirangkum dari berbagai sumber, adapun beberapa poin nilai-nilai aqidah dari kisah Nabi Ibrahim sebagai berikut:

Menegakkan tauhid

Tauhid merupakan bagian dari konsep aqidah agama Islam yang menyatakan keesaan Allah SWT. Dikisahkan, Nabi Ibrahim pernah menentang perintah dari Raja Namrud untuk menyembah berhala. Hal itu dilakukannya karena bertentangan serta menyimpang dari perintah Allah SWT.

Sontak saja hal itu membuat Raja Namrud murka dan memerintahkan para penyembah berhala untuk beramai-ramai mengumpulkan banyak kayu bakar untuk dijadikan perapian besar serta melempar Nabi Ibrahim ke dalam nyala api. Akan tetapi, usaha mereka gagal. Sebab, Allah SWT dengan segala kuasanya menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Menyembah selain Allah

Nabi Ibrahim merupakan nabi yang tauhidnya lurus dan mendapat gelar hanif, karena jauh dari penyimpangan-penyimpangan terutama dari perbuatan kesyirikan maupun kekufuran.

Ketika Nabi Ibrahim kecil, dia kerap bertanya-tanya, bagaimana bisa manusia yang berakal membuat berhala dengan tangannya sendiri, kemudian sujud dan menyembahnya. Beranjak dewasa, dia merasa kehilangan sosok yang sebelumnya memberi makan dan perlindungan untuk dirinya, terlebih dia telah mendapati banyak orang yang merupakan para penyembah berhala tetapi Nabi Ibrahim mengingkari anggapan bahwa berhala adalah dewa.

Nabi Ibrahim pun berniat untuk mencari Tuhan yang sesungguhnya. Hingga akhirnya dia meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang menciptakan semesta.

Berdoa hanya kepada Allah

Berdoa merupakan ibadah, maka doa hanya boleh ditujukan kepada Allah SWT dan tidak boleh ditujukan untuk selain Allah. Meminta kepada selain Allah merupakan suatu bentuk kekufuran.

Para nabi terbebas dari perbuatan kekufuran, tak terkecuali Nabi Ibrahim. Dalam QS Ibrahim ayat 35-41, semua doa Nabi Ibrahim hanya ditujukan kepada Allah SWT. Seperti mendoakan negerinya agar dijauhi dari malapetaka, mendoakan keturunannya hingga orang tua dan kaumnya yang berbeda keyakinan.

Berserah diri hanya kepada Allah

Suatu hari, Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail. Seperti yang diketahui, Nabi Ismail merupakan putra yang sangat dinantikan kehadirannya oleh Nabi Ibrahim. Setiap malam selama bertahun-tahun, Nabi Ibrahim selalu berdoa agar diberikan anak yang saleh.

Namun dalam wahyu yang dia terima melalui mimpi, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya. Ketika mereka berdua telah berserah diri, Nabi Ibrahim sudah akan menyembelih buah hatinya demi menjalankan perintah Allah, namun hal tersebut hanya sebagian kecil ujian dari Allah SWT.

Seketika Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor kambing. Hal tersebut tertuang dalam QS As-Saffat 104-107, Allah berfirman:

"Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."

Nah Bunda, ajari buah hati soal nilai aqidah dari kisah Nabi Ibrahim, yuk!

Simak juga Bunda, manfaat dongeng untuk anak pada video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(haf/haf)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!