sign up SIGN UP search


parenting

5 Saran Psikolog Menjaga 'Kewarasan' Bunda Dampingi Anak Sekolah Online

Ratih Wulan Pinandu Kamis, 08 Oct 2020 14:46 WIB
Getting help with my tasks. Little girl working her homework with mother. Focus is on foreground. caption
Jakarta -

Tak terasa, sudah hampir 7 bulan anak-anak harus sekolah jarak jauh alias sekolah online ya, Bunda. Selama pandemi COVID-19 belum bisa diatasi, sepertinya Bunda masih harus menahan sabar mendampingi anak sekolah dari rumah.

Beberapa Bunda curhat kewalahan membimbing si kecil memahami pelajaran sekolah. Makanya enggak heran, ada Bunda Lala yang sampai viral ya karena mengunggah usahanya mengajari sang anak menghafal Pancasila.

Ternyata kisah-kisah serupa juga dialami banyak Bunda di luaran sana. Salah satunya datang dari Bunda Amy dari Tangerang Selatan, nih. Menurut ceritanya, si anak yang masih berusia 5 tahun tidak mau dibantu dalam mengerjakan tugas sekolahnya.


"Anak saya usia 5th, sering sekali mengerjakan tugas PR selalu tidak mau di bantu, tapi saat dia TDK tau jawabannya, dia nangis, saya kan jadi emosi, apakah saya tetap biarkan saja dia mandiri selesaikan tugasnya tanpa Saya bantu?" tanya Bunda Amy dalam Kuliah WhatsApp (Kulwap) HaiBunda bersama Auliya Ulil Irsyadiyah, M.Psi., Psikolog, dengan tema Tips Mengelola Emosi Saat Mendampingi Anak Belajar Daring, Rabu (8/10/2020).

Kisah yang sama juga dialami Bunda Renata yang harus menghadapi ulah 'ajaib' anaknya saat disuruh belajar. Misalnya saja pura-pura ngantuk dan ingin tidur. Wah, anak Bunda di rumah ada yang melakukan aksi yang sama?

"Bagaimana mengatasi anak jika tantrum suruh belajar malah nangis atau pura-pura ngantuk," tanya Bunda Renata.

Selanjutnya, ada masalah yang cukup berbeda dari sebelumnya dialami Bunda Deasy dari Jakarta Timur. Sang anak justru diam saja saat belajar di rumah.

"Selamat malam, saya mau bertanya bagaimana mengatasi anak yang pada saat belajar daring selalu diam tidak ada ekspresi,tdk prnh bicara sedangkan saya dengar teman-temannya heboh berbicara dan bertanya. Saya sudah coba tanyakan pada anaknya tapi dia jawab gpp. Apa anak saya jenuh atau bagaimana.. saya bingung harus bagaimana.. terimakasih," tanya Bunda Daesy.

Sedangkan Bunda Niken dari Semarang mengaku jadi berteriak-teriak karena emosi menghadapi anaknya. "Selama mendampingi anak belajar akhir-akhir ini, saya kadang naik darah jadi saya memilih diam tapi kadang nggak tahan juga jadinya teriak, gemes karena anak nggak ngerti atau nggak fokus pada pekerjaan yang ada di hadapannya. Gimana caranya supaya bisa sabar? Supaya nggak teriak di saat itu? Anak juga nggak merasa terpaksa belajarnya," tanya Bunda Niken.

Nah, menjawab pertanyaan dari Bunda di atas, Auliya memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Sudahkan ditanyakan, mengapa ia menangis? sudahkan diperjelas kenapa ia berperilaku seperti itu? Sebaiknya tidak perlu buru-buru emosi ya, Bunda. Jangan-jangan anak menangis karena takut ketika dia menjawab salah. Dia takut mamamnya juga emosi, atau dia punya patokan ketika mengerjakan tugasnya harus benar. Coba evaluasi kembali apa yang sudah dilakukan kepada anak, apa yang ditampilkan selama ini, dan evaluasi mengapa anak mengalami hal tersebut.

Kalau pertanyaannya apakah saya perlu bantu atau tidak, maka jawabannya tidak perlu sampai kesana dulu, karena yang penting justru bukan permasalahan dibantu atau tidak, karena kalaupun dibantu oleh Bunda, belum tentu anak juga akan berkenan. Jadi intinya silahkan si kecil diajak komunikasi terlebih dahulu.

2. Oke, mengatasi anak tantrum. Bisa dengan coba menanyakan mengapa anak menangis, mengapa anak mengamuk, mengapa anak berperilaku demikian. Ajak anak berkomunikasi sebisa mungkin agar dia menyampaikan apa yang ia inginkan dan apa yang ia rasakan.

Tugas Bunda adalah mendengarkan aktif jadi jangan buru2 men-judge, menilai, atau bahkan menolak. Akui perasaan anak, akui misalnya anak merasa bosan, akui misalnya anak merasa malas. Kemudian munculkan dan tawarkan cara secara bersama-sama dengan bunda apa yang bisa kita lakukan bersama Kak, supaya tugas Kakak selesai dan bisa segera bermain nanti (misalnya seperti itu).

3. Memang perlu aware tentang apa yang terjadi pada anak, Bun. Sangat wajar jika memang anak merasa bosan. Jangankan anak, mungkin orangtua juga merasakan kebosanan. Perlu juga dicari tahu, apakah misalnya sebelum daring anak aktif atau tidak di kelas. Jangan-jangan dengan metode seperti ini yang membuat anak tidak terbiasa dan merasa malu (jika memang sebelumnya ternyata anak aktif dan saat ini berubah).

Atau, jangan-jangan sebelumnya anak juga tidak terlalu aktif ketika di kelas. Bunda bisa mengulangi pelajaran yang sama dengan cara yang berbeda sekreatif mungkin. Jadi, memberikan materi pembelajaran yang sama tetapi metode atau caranya berbeda, apakah anak bosan karena sudah sangat paham sehingga ia merasa pelajaran yang sama terus diulang, sehingga ia merasa tidak tertantang, atau ada hal lain.

4. Mungkin pertanyaan yang tepat bukan "bagaimana saya bisa sabar?" tetapi bagaimana cara saya mengelola emosi saya ya. Sudah saya sampaikan juga di materi yah, Bunda bagaimana cara mengelola emosi.

Penting untuk punya ketrampilan regulasi emosi yang baik memang. Hal yang perlu dilakukan, pertama tahu dulu sumber marah atau kesalnya dari mana. Kemudian, lakukan penilaian, 'kenapa saya musti marah ya?' 'kenapa saya perlu kesal ya?' 'Apa salah dia sehingga saya marah?'.

Terakhir, temukan problem solving-nya, 'Jangan-jangan saya marah, karena saya punya harapan lebih tentang anak saya. Atau jangan-jangan saya marah karena sebetulnya saya kesal sendiri karena harapan saya tentang anak saya yang bisa langsung ngerti gak tercapai?' Coba di evaluasi kembali ya, Bunda, karena Bunda juga perlu hati-hati apakah ketika teriak anak akan menjadi seketika langsung mengerti, memahami atau justru perilaku ini dampaknya menjadi tidak baik bagi anak untuk dicontoh.

5. Cara lainnya adalah membagi waktu dengan suami. Cara membagi peran dengan suami adalah dengan mengkomunikasikannya tentu dengan suami. Apa yang bisa dilakukan suami dan apa tugas yang perlu dilakukan Bunda.

Sampaikan tanpa menuntut, tetapi lebih baik, sampaikan hal yang dirasakan Bunda, kemudian tawarkan kepada suami, 'Apa ya yang kira-kira bisa kita lakukan supaya kamunya juga enak akunya juga enggak kecapaian banget', misalnya seperti itu.

Semoga lima tips menjaga emosi saat mendampingi anak belajar online di atas membantu ya, Bunda. Sebelum marah-marah, sebaiknya ingat apa yang sebenarnya memicu Bunda emosi. Jangan lupa melibatkan suami untuk berbagi peran mendampingi anak sekolah online.

Bunda, simak juga yuk jurus Kirana Larasati bikin anak bahagia selama belajar di rumah aja. Klik video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi