sign up SIGN UP search


parenting

5 Tips Mengasuh Anak Saat Beda Aturan dengan Suami, Tanpa Harus Bertengkar

Melly Febrida Minggu, 22 Nov 2020 15:12 WIB
asian child appears sad and unhappy while parents quarreling in the background. caption

Jakarta - Bunda, sering enggak sih berdebat sama Ayah hanya gara-gara perbedaan mengasuh anak? Bunda mungkin sering melihat Ayah membiarkan anak menonton televisi dan main ponsel. Padahal, selama ini Bunda berusaha menjauhkan kedua hal itu dari anak-anak. Duh, kalau sudah begini pasti jadi 'panas' ya bawaannya.

Enggak cuma itu, ada berbagai masalah pengasuhan anak lainnya yang muncul setiap hari, yang menggambarkan ketegangan dalam hubungan orang tua karena perbedaan gaya atau filosofi. 

“Perbedaan ini bukan karena tidak ada sebelumnya, tapi perbedaan tersebut kurang terlihat dan lebih mudah diatasi atau setidaknya diabaikan,” kata Rebecca Schrag Hershberg, Ph.D., psikolog klinis yang juga seorang parenting coach, dikutip dari Psychology Today.


Menurut Hershberg, dengan seperti ini keluarga jadi lebih banyak waktu menghabiskan waktu bersama dalam banyak hal, termasuk dalam mengasuh anak yang begitu menantang.

Seringkali, kondisi ini jadi mencerminkan skenario 'Polisi baik, polisi jahat'. Salah satu orang tua memiliki peran yang lebih lembut dan lebih mengasuh sementara yang lain lebih keras, pendisiplin yang kurang pemaaf.  

Hershberg mengatakan, selama ini orang tua mungkin merasa beberapa cara dalam pengasuhan efektif dalam jangka pendek. Tapi jika tidak konsisten, Ayah dan Bunda menangani emosi dan perilaku anak secara berbeda bisa membuat anak bingung dan tidak stabil.

“Bukannya membuat anak merasa aman secara keseluruhan dan merasakan dunia mereka secara stabil serta dapat diandalkan, anak-anak malah belajar bahwa peraturan tidak dapat diandalkan, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab, dan iklim emosional  rumah mereka tidak dapat diprediksi,” ujar Hersberg. 

 Anak-anak sering kali menginternalisasi perasaan seperti itu, yang menimbulkan stres bagi perkembangan otaknya, dan yang dapat mengakibatkan masalah emosi atau perilaku di kemudian hari.  

“Lebih jauh lagi, pendekatan polisi baik atau polisi jahat cenderung memecah belah keluarga dengan cara yang tidak sehat dan menyebabkan munculnya kebencian di antara orang tua seiring waktu, bahkan jika tidak pada awalnya,” jelas Hersberg.

Sebelum hal itu terjadi di keluarga Bunda, Hersbger menyarankan beberapa langkah-langkah di bawah ini untuk menciptakan gaya pengasuhan yang sehat:

1. Mulailah dari nilai

Menurut Harsberg, cobalah Ayah dan Bunda berbicara tentang nilai-nilai pengasuhan yang menyeluruh sebenarnya ingin menjadi orang tua seperti apa?  

Bagaimana Ayah dan Bunda ingin anak mendeskripsikan hubungannya dengan orang tuanya kepada teman saat mereka sudah dewasa? Apakah ada karakteristik dalam pemodelan untuk anak-anak?  Bagaimana dengan kebalikannya, kualitas yang Ayah Bunda tidak ingin anak lihat atau alami?

2. Fokus pada pengalaman tumpang tindih

Misalnya, salah satu orang tua mungkin selalu menyerah pada kerewelan anak dan menyerahkan ke televisi atau ponsel, sedangkan yang lain mungkin lebih suka menghadapinya dengan menemani anak melewatinya.

“Mengakui kesamaan dari akarnya, daripada bagaimana hal itu dapat terwujud secara berbeda, sehingga dapat menumbuhkan saling pengertian dan empati agar bisa lebih efektif dalam mengasuh secara bersama,” jelasnya

3. Ajak suami cari solusi

Setelah menemukan masalah-masalah yang kongkret, baru ajak suami untuk mencari solusi yang terbaik, Bunda. Hersberg mengatakan, dalam hal ini membutuhkan komitmen orang tua dalam mencapai nilai-nilai yang dicita-citakan.

“Apa jalan menuju ke sana? Bagaimana Anda bisa meminta pertanggungjawaban satu sama lain dengan cara yang mendukung?” Kata Hersberg.

4. Pahami hubungan anak dengan Ayah

Sadarilah, secara sadar dan eksplisit, bahwa hubungan anak dengan pasangan  akan terlihat berbeda dari hubungan anak dengan Anda.

Berbagilah dalam nilai-nilai parenting, dan menyetujui langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut, bukan  untuk menciptakan dua orang tua yang sama.  

“Anda adalah orang yang berbeda, dengan latar belakang, kepribadian, dan cara hidup yang berbeda di dunia, dan mudah-mudahan dan mungkin, anak Anda akan menjadi lebih kaya karenanya,” jelas Hersberg.  

Percayakan anak untuk mengarahkan hubungannya dengan masing-masing orang tua mereka saat mereka tumbuh. Ini bukan tugas orang tua untuk mengatur bagaimana hubungan antara anak dan orang tuanya.

5. Mencoba berbagi peran

Cobalah melakukan ini, bermain-main dengan membagi dua peran dengan suami. Siapa pemberi tugas,  dan siapa yang bertindak sebagai pendisiplin dan pengasuh.

Cobalah menghabiskan sepanjang akhir pekan pagi hanya dengan fokus pada permainan dan humor, jangan membuat permintaan tunggal kepada anak-anak.  

“Berikan anak-anak tanggung jawab untuk menjalani rutinitas pagi atau malam yang lengkap,” katanya.  

Kalau Ayah dan Bunda terlihat cemas, atau menolak, bisa jadi karena reaksi Ayah dan Bunda yang kemungkinan besar menjadi sumbernya. Berbicara soal pengasuhan anak, Bunda pastinya memang lebih banyak terlibat dibandingkan Ayah ya.

Mengutip The Spruce, hal ini karena ada hubungan emosional yang lebih besar pada Bunda dan anak, ketimbang ayah. Bunda pada umumnya juga mengutamakan kebutuhan anak-anaknya sebelum dirinya sendiri. Bahkan, seorang ibu juga lebih sering tampak rela berkorban demi anak.

Misalnya nih, saat makan bersama di luar, sering kali bunda akan menyuapi anaknya lebih dulu. Setelah anaknya kenyang dan makanannya bersisa, maka Bundalah yang akan menghabiskannya.

Ayah umumnya lebih fokus pada harapan yang tinggi terhadap anak-anak dan mendorong mereka untuk menyampaikan keinginannya secara konsisten. Ayah cenderung kurang fokus untuk membuat anak merasa nyaman atau aman. Sebaliknya, ayah lebih suka menantang anak-anaknya dan membantu mereka bersiap menghadapi dunia nyata.

Bunda, simak juga yuk penyesalan Chua 'Kotak' yang pernah membentak anak, dalam video Intimate Interview berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi