sign up SIGN UP search


parenting

Setop Berteriak pada Anak, Ini 5 Dampak Buruknya Bagi Si Kecil

Erni Meilina Kamis, 21 Jan 2021 11:06 WIB
Ilustrasi orang tua teriak ke anak caption

Hayo siapa nih diantara Bunda di sini yang pernah berteriak pada anak Bunda? Padahal kan berteriak tidak pernah terasa enak, bagi siapa pun termasuk Bunda. Kapan terakhir kali Bunda merasa lebih baik setelah seseorang membentak Bunda, atau bahkan Bunda yang membentaknya? 

Dikutip Web MD, penelitian menunjukkan bahwa meneriaki anak-anak bisa sama berbahayanya dengan memukul mereka lho, Bunda. Dalam studi selama dua tahun, efek dari disiplin fisik dan verbal yang keras ditemukan sangat mirip. Seorang anak yang dibentak lebih cenderung menunjukkan perilaku bermasalah, sehingga menimbulkan lebih banyak teriakan. 

Mungkin Bunda merasa dengan berteriak pada anak, anak Bunda akan mendengarkan Bunda. Pernyataan ini dipatahkan oleh seorang instruktur pskiatri di Harvard Medical School dan penulis Outsmarting Anger: 7 Strategies for Defusing Our Most Dangerous Emotion, Joseph Shrand, Ph.D. Ia mengatakan jika orang tua berbicara pada anak dengan cara meneriaki mereka, hal ini justru membuat anak jauh lebih sedikit mendengarkan orang tuanya.


“Anak-anak sebenarnya akan lebih sedikit mendengarkan ketika Anda meneriaki mereka,” ungkap Shrand.

“Begitu Anda mulai meninggikan suara, Anda mengaktifkan sistem limbik mereka, yang merupakan bagian dari otak yang bertanggung jawab, antara lain, respons melawan atau lari,” tambahnya.

Hasilnya mungkin berlawanan dengan yang Bunda harapkan, karena anak-anak Bunda akan diam, melawan, atau bahkan melarikan diri. Coba lakukan komunikasi alih-alih perintah, dan lihat apakah Bunda melihat perbedaannya.

Bunda mungkin merasa frustrasi dengan anak-anak Bunda. Ini adalah hal yang wajar kok Bunda, terutama jika mereka berperilaku tidak baik. Tetapi cara Bunda mengekspresikan rasa frustrasi ini dan menghadapi situasi tersebut dapat berdampak besar pada perkembangan kepribadian dan kesehatan jangka panjang si kecil.

Faktanya, tindakan Bunda yang berteriak pada anak, dapat berdampak lebih besar pada anak-anak daripada yang diyakini sebelumnya. Dilansir Health Line, ada lima dampak serius jangka panjang dari berteriak pada anak. 

1. Berteriak memperburuk masalah perilaku anak

Bunda mungkin berpikir bahwa meneriaki anak-anak dapat menyelesaikan masalah pada saat itu atau dapat mencegah mereka berperilaku buruk di masa depan. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa hal itu sebenarnya bisa menciptakan lebih banyak masalah untuk jangka panjang.

Berteriak justru dapat membuat perilaku anak Bunda semakin buruk. Artinya, Bunda harus lebih banyak berteriak untuk mencoba memperbaikinya. Dan siklus itu terus berlanjut.

Sebuah studi tentang hubungan orang tua dan anak menunjukkan bahwa ini terjadi di banyak keluarga. Dalam penelitian tersebut, anak usia 13 tahun yang diteriaki oleh orang tuanya bereaksi dengan meningkatkan tingkat perilaku buruk mereka pada tahun berikutnya.

Studi lain menemukan bahwa tidak ada perbedaan jika disiplin yang keras berasal dari ayah atau ibu yang dilakukan kepada anak. Hasilnya sama tetap sama, yaitu masalah perilaku anak menjadi lebih buruk.

2. Berteriak mengubah cara otak anak berkembang

Berteriak pada anak dan teknik pengasuhan yang keras lainnya benar-benar dapat mengubah cara otak anak berkembang. Hal itu karena manusia memproses informasi dan peristiwa negatif lebih cepat dan menyeluruh daripada yang baik.

Satu studi membandingkan pemindaian MRI antara otak orang-orang yang memiliki riwayat pelecehan verbal yang dilakukan oleh orang tua di masa anak-anak dengan pemindaian mereka yang tidak memiliki riwayat pelecehan. Mereka menemukan perbedaan fisik yang mencolok di bagian-bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproses suara dan bahasa.

3. Berteriak pada anak dapat menyebabkan anak depresi

Selain anak-anak merasa sakit hati, takut, atau sedih ketika Bunda membentak mereka, pelecehan verbal menyebabkan masalah psikologis yang lebih dalam yang dibawa anak hingga dewasa.

Dalam studi yang melacak peningkatan masalah perilaku pada anak usia 13 tahun yang diteriaki, para peneliti juga menemukan peningkatan gejala depresi. Banyak penelitian lain juga menunjukkan hubungan antara pelecehan emosional dan depresi atau kecemasan. Gejala seperti ini dapat memperburuk perilaku dan bahkan dapat berkembang menjadi tindakan yang merusak diri sendiri, seperti penggunaan narkoba atau peningkatan aktivitas seksual yang berisiko.

4. Berteriak berpengaruh pada kesehatan fisik

Pengalaman yang anak miliki saat tumbuh membentuk anak dalam banyak hal, beberapa di antaranya bahkan mungkin tidak kita sadari. Stres di masa anak-anak dari orang tua yang melecehkan secara verbal dapat meningkatkan risiko anak untuk mendapatkan masalah kesehatan tertentu saat dewasa. Penelitian memberi tahu kita bahwa mengalami stres sebagai seorang anak dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan fisik.

5. Berteriak bisa menyebabkan sakit kronis

Sebuah studi menemukan hubungan antara pengalaman masa kanak-kanak yang negatif, termasuk pelecehan verbal dan jenis lain, dapat menyebabkan kondisi kronis yang menyakitkan. Kondisi tersebut termasuk artritis, sakit kepala parah, masalah punggung dan leher, dan nyeri kronis lainnya.

Menurut Dr. Laura Markham, sebagai orang tua dan juga penulis Peaceful Parent, Happy Kids: How to Stop Yelling and Start Connecting, berteriak adalah teknik parenting yang tidak dapat dilakukan. Lalu bagaimana caranya agar Bunda berhenti untuk berteriak pada anak?

Nah, ini dia jawaban dari pertanyaan Bunda. Melansir dari Fatherly, hal pertama yang harus dilakukan adalah Bunda harus kenali pemicu Bunda berteriak pada anak. Bunda harus ingat bahwa anak-anak tidak mencoba menekan Bunda. Pikir ulang bahwa berteriak pada anak justru dapat mengajarkan Si Kecil bahwa kesulitan hanya dapat dihadapi dengan suara yang tinggi dan marah.

Selain itu, gunakan humor untuk membantu anak melepaskan diri dari perilaku yang salah. Tertawa lebih baik dari pada berteriak dan menangis ya, Bunda. Bunda harus melatih diri Bunda untuk meninggikan suara hanya dalam situasi genting di mana seorang anak mungkin terluka. Fokus pada dialog yang tenang dan sadar bahwa berteriak hanya dapat menutup komunikasi antara orang tua dan anak.

Tidak ada kata terlambat untuk membuat perubahan dalam perilaku pengasuhan Bunda atau mempelajari beberapa teknik baru. Jika Bunda menyadari diri Bunda banyak berteriak pada anak atau kehilangan kesabaran, mintalah bantuan. Seorang terapis atau bahkan orang tua lain dapat membantu Bunda memilah beberapa perasaan itu dan mengembangkan rencana untuk menghadapinya dengan cara yang lebih sehat.

Simak juga tips jadi Bunda yang tidak gampang marah dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(som/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi