sign up SIGN UP search


parenting

Cegah Sibling Rivalry, Ini Trik Hadapi Si Kecil yang Marah pada Saudaranya

Melly Febrida Selasa, 16 Feb 2021 14:56 WIB
Ilustrasi sibling rivalry caption

Pusing ya Bun, kalau sebentar-sebentar anak bertengkar. Misalnya saja ketika anak balita Bunda marah dengan adiknya. Tangan pun bisa melayang ke adiknya, atau adiknya yang memukul kakaknya. Sebelum kebencian itu meningkat sehingga memunculkan sibling rivalry, Bunda harus bagaimana?

Memang sibling rivalry termasuk kekhawatiran yang dihadapi hampir semua orang tua. Namun, Bunda perlu juga mengetahui trik-trik menghadapi anak yang merasa kesal dengan saudaranya.

Dalam How to Talk Siblings Without Rivalry; Help Your Children To Live Together so You Can Live Too, ahli parenting Adele Faber dan Elaine Mazlish, mengatakan bahwa ketika Bunda melihat seorang anak misalnya masih berusia tiga tahun marah dengan saudaranya, Bunda bisa menjelaskan ke anak mengenai perasaan yang dihadapinya.


Terkadang dengan mengatakan, "Bunda tahu kamu benci dengan saudaramu", bisa membuat anak semakin marah dan membuat anak merasa dia salah jika marah dengan saudaranya.

"Kebanyakan anak emosinya bercampur terhadap saudara mereka dan menjadi enggak nyaman atau marah ketika diberitahu bahwa mereka hanya merasakan kebencian. Pernyataan yang lebih berguna adalah, 'Bagi Bunda, Kamu punya dua perasaan tentang saudaramu. Kadang Kamu sangat menyukainya dan kadang Dia membuatmu marah seperti orang jahat,'" kata Faber.

Tapi, bagaimana kalau anak terus-menerus mengatakan kalau dia membenci saudaranya? Faber bilang orang tua bisa membantu anak berhenti memutar roda amarahnya dengan menyatakan kembali emosinya dalam bahasa, yang memungkinkan anak merasa lebih baik.

"Misalnya, 'Bunda bisa mendengar betapa marahnya Kamu dengan saudaramu', 'Apakah Kamu mau memberitahu Bunda lebih banyak tentang itu?', Apa yang ia lakukan mengganggumu ya', atau 'Sesuatu yang dia katakan pasti telah membuatmu marah,'" ujarnya. 

Atau Bunda juga bisa meminta anak menunjukkan perasaannya kepada bonekanya atau mainannya. Bukan malah menyuruhnya memukul boneka ketimbang memukul saudaranya.

Faber bilang, ada perbedaan pesan yang diterima anak ketika Bunda meminta seorang anak pergi ke kamarnya untuk memukul bonekanya dengan meminta anak mengekspresikan perasaannya. 

Pernyataan yang lebih membantu adalah 'Bunda tak bisa membiarkanmu menyakiti bayi, tetapi Kamu dapat menunjukkan kepada Bunda apa yang Kamu rasakan dengan bonekamu.'

"Kata kuncinya adalah, tunjukkan dengan tangannya pada boneka, atau memukulnya, orang tua dapat memberikan kata-kata tentang apa yang coba diungkapkan oleh anak. 'Kamu benar-benar kesal dengan adikmu.' 'Terkadang dia membuatmu marah!' 'Aku senang kamu menunjukkan kepadaku. Jika kamu pernah merasa seperti itu lagi, beri tahu aku'," kata Faber mencontohkan.

Mengenai sibling rivalry ini, pskilog Aurora Lumban Toruan, mengatakan bisa jadi sibling rivalry, persaingan atau kecemburuan antar saudara berlangsung sampai mereka dewasa kalau kita sebagai orang tua enggak berupaya menyelesaikan dan mengantisipasi.

"Termasuk juga ekspektasi dari perilaku seperti apa yang bisa diterima, juga konsekuensi dari sikap melawan atau melanggar aturan yang diterapkan yang enggak jelas," tutur Aurora.

Simak juga tips dari Shireen Sungkar agar anak-anaknya tetap akur, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

Banner Tanaman Hias Alokasia



(som/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi