sign up SIGN UP search

parenting

Bunda, Sering Membela Adik di Depan Kakak Hanya Memperbesar Kebencian

Melly Febrida Minggu, 14 Feb 2021 14:14 WIB
Young pouty sisters arguing with arms crossed and their stressed mom sitting on a sofa in the background caption

Orang tua sering tanpa sadar membela anak yang lebih kecil dan meminta anak yang besar mengalah. Padahal cara ini hanya meningkatkan persaingan antara adik dan kakaknya yang mengarah ke sibling rivalry.

Joanna Faber, seorang pakar pendidikan dan parenting, mengatakan bahwa orang tua seharusnya tidak selalu melindungi anak yang lebih kecil. Orang tua juga tidak boleh selalu menyalahkan anak yang lebih besar atau lebih kuat.

Faber mengaku ia juga sering terperangkap dengan membela anak yang kecil. Misalnya saja, "Oh, Dan! Ayo berikan barang itu padanya. Dia baru 2 tahun. Kamu harus bersabar. Jangan terlalu kasar, kamu melukainya. Bersikaplah yang manis."

"Tidak diragukan lagi, ini akan menimbulkan kebencian dan kemarahan," kata Faber dalam How to Talk so Little Kids Will Listen.

Dengan cara itu, lanjut Faber, anaknya marah dan membela diri. "Tapi, aku yang memegangnya dahulu...! Aku bahkan enggak menyenggol sedikit pun. Ini tidak adil... Ayah selalu memihaknya."


Suatu kali, anaknya membangun bloknya, tapi adiknya, Sam, ingin menyentuh blok-blok itu. Kalau orang dewasa, kata Faber, tentu berpikir ini kan hanya mainan blok. Masa enggak bisa akur sih. Namun, bagi anak usia 4 tahun mainan ini penting, sama pentingnya dengan arti pekerjaan yang dilakukannya sendiri.

"Akan lebih baik jika Anda menghargai masalah yang ada," ujarnya.

Faber mengingatkan, tak peduli sehebat dan sekonsisten apapun orang tua melakukan saran di atas, tetap saja orang tua tak bisa berharap menghilangkan sama sekali persaingan antara saudara. Sebab akan tetap ada konflik antara kakak adik.

"Namun, Anda bisa membantu mengubah suasana dan membuat anak lebih cepat akur dengan saudara begitu konflik berakhir," tambahnya.

 Berbicara tentang hubungan adik kakak, sering kali muncul rasa iri dan cemburu sehingga memunculkan sibling rivalry. Bunda tentu berharap mereka rukun, namun pertengkaran tetap saja terjadi di antar mereka.

Psikolog Aurora Lumban Toruan menuturkan, sebenarnya masih sedikit banget penelitian tentang penyebab sibling rivalry. Tapi umumnya faktor-faktor yang mempengaruhi sibling rivalry antara lain usia.

Ya, usia yang dekat biasanya lebih sering memunculkan sibling rivalry. Selain itu, seringkali kakak dan adik cenderung berkompetisi, baik dalam hal akademis maupun dalam pergaulannya.

Apakah anak yang memiliki jenis kelamin sama lebih cenderung memunculkan sibling rivalry? "Berkaitan dengan gender, kemungkinan bisa terjadi kecemburuan. Misalnya karena beberapa hal mereka bisa memperoleh kesamaan, seperti misalnya jenis mainan, pakaian atau warna tertentu yang diidentikkan dengan gender perempuan," ujar Aurora.

Simak juga cara seleb Indonesia menjaga anak-anaknya tetap akur, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

Banner poligami

(som/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi