sign up SIGN UP search


parenting

5 Dampak Buruk Strict Parenting yang Kerap Tak Disadari, Bikin Anak Memberontak

Dwi Indah Nurcahyani   |   Haibunda Sabtu, 08 Jan 2022 19:19 WIB
5 DAMPAK BURUK STRICT PARENTING YANG KERAP TAK DISADARI ORANGTUA
Angry mother is scolding at her son. caption

5 dampak buruk Strict parenting yang kerap tak disadari orang tua

Sayangnya, kebanyakan orangtua yang strict tidak berwibawa dan bijaksana. Kebanyakan, orangtua yang strict bersikap dingin, tidak responsif, dan tidak mendukung anak-anaknya.

Aturan mereka seringkali terlalu ketat dan sewenang-wenang. Orangtua ini tidak mengizinkan anak-anak untuk menyuarakan pendapat atau mempertanyakan keputusan orang tuanya. 

Jika pengasuhan responsif atau otoritatif menghasilkan hasil terbaik pada anak-anak, pola strict parenting cenderung otoriter dan tidak responsif. Sehingga, bisa menyebabkan masalah kepercayaan diri, membahayakan perilaku anak, dan masalah kesehatan mental.


Biasanya, anak-anak yang mendapatkan pengasuhan disiplin ketat cenderung memiliki masalah perilaku anti-sosial seperti, pemberontak, marah, agresif, dan lainnya. Meskipun beberapa orangtua berpikir pengasuhan strict parenting menghasilkan anak-anak yang berperilaku baik, penelitian menunjukkan bahwa gaya pengasuhan seperti ini sebenarnya menghasilkan anak-anak yang memiliki lebih banyak masalah perilaku.

"Pengasuhan otoriter merupakan gaya pengasuhan yang ditandai dengan tuntutan tinggi dan responsivitas rendah,"ujar Alisa Ruby Bash, terapis keluarga di Malibu, California.

Orang tua dengan strict parenting biasanya bersikap otoriter. Biasanya, mereka memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap anak-anaknya namun memberikan sangat sedikit umpan balik dalam pengasuhan dan kesalahan yang dilakukan cenderung dihukum dengan keras.

Padahal, orang tua yang menerapkan strict parenting juga dapat bersifat otoritatif yang memberikan standar tinggi kepada anak tapi tetap memberikan dukungan serta kasih sayang, seperti dikutip dari laman Insider.

Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang berpikir bahwa strict parenting menghasilkan anak-anak yang lebih baik. Namun, studi penelitian tentang disiplin secara konsisten menunjukkan bahwa strict parenting dan otoriter justru menghasilkan anak-anak dengan harga diri yang rendah, berperilaku buruk dan lainnya.

Berikut ini beberapa dampak buruk strict parenting yang kerap tak disadari ya, Bunda, seperti dikutip dari laman Ahaparenting:

1. Anak-anak kehilangan kesempatan untuk menginternalisasi disiplin diri dan tanggung jawab

Batasan yang keras dapat mengontrol perilaku untuk sementara waktu, tetapi tidak membantu anak belajar mengatur diri sendiri. Sebaliknya, batasan yang keras memicu penolakan untuk bertanggung jawab atas diri mereka.

2. Membatasi rasa empati

Strict parenting mengajarkan anak-anak untuk menggertak. Anak-anak belajar apa yang mereka jalani dan apa yang mereka teladani. Jika anak-anak melakukan apa yang orang tua inginkan karena mereka takut, apa bedanya dengan bullying? Jika orangtua berteriak, mereka akan berteriak. Jika orangtua menggunakan kekuatan, mereka akan menggunakan kekuatan.

3. Anak-anak yang dibesarkan dengan disiplin hukuman memiliki kecenderungan untuk marah dan depresi

Ini dikarenakan strict parenting serta otoriter menjelaskan pada anak-anak bahwa sebagian dari mereka tidak dapat diterima, dan bahwa orang tua tidak ada di sana untuk membantu mereka belajar mengatasi dan mengelola perasaan sulit yang mendorong mereka untuk bertindak.

4. Anak-anak yang dibesarkan dengan disiplin yang ketat belajar bahwa kekuasaan selalu benar

Anak-anak belajar untuk patuh tetapi mereka tidak belajar untuk berpikir sendiri. Di kemudian hari, mereka tidak akan mempertanyakan otoritas mereka. Mereka cenderung tidak bertanggung jawab atas tindakannya dan lebih bersedia mengikuti kelompok sebayanya atau menghindari tanggung jawab dengan mengatakan bahwa mereka hanya mencoba mengikuti perintah.

5. Anak-anak yang dibesarkan dengan disiplin yang keras cenderung lebih memberontak

Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan yang ketat cenderung lebih marah dan memberontak saat remaja dan dewasa. 

Itulah beberapa dampak negatif dari strict parenting di mana biasanya orangtua cenderung otoriter dalam bersikap ya, Bunda. Semoga informasi di atas dapat menjadi pertimbangan bagi Bunda dan Ayah sebelum menerapkan pola pengasuhan pada buah hati.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

(rap/rap)
fase-anak
Anak Usia 1-3 Tahun Ketahui lebih jauh perkembangan anak 1-3 tahun. Cek Yuk arrow-right
HALAMAN :
ARTIKEL SELANJUTNYA
Share yuk, Bun!
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!