HaiBunda

PARENTING

Anak Suka Pilih-pilih Makanan Faktor Keturunan Ayah? Ini Penjelasan Studi

Kinan   |   HaiBunda

Jumat, 29 Aug 2025 09:30 WIB
Anak Paicky Eater Keturunan dari Ayah/ Foto: Getty Images/FOTOGRAFIA INC.

Anak suka pilih-pilih makanan alias picky eater? Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi munculnya kondisi ini. Bahkan salah satunya adalah faktor keturunan dari ayah. 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), picky eater berarti anak mau mengonsumsi berbagai jenis makanan baik yang sudah maupun yang belum dikenalnya, tapi menolak mengonsumsi dalam jumlah yang cukup. 

Selain jumlah yang tidak cukup, picky eater pun berhubungan dengan rasa dan tekstur makanan. 


Walaupun pilih-pilih makanan, picky eater masih mau mengonsumsi minimal satu macam makanan dari setiap kelompok karbohidrat, protein, sayur/buah dan susu. Misalnya, walaupun anak menolak makan nasi, tapi ia masih mau makan roti atau mi.

Apa penyebab picky eater?

Picky eater bisa muncul karena berbagai penyebab. Mulai dari kebiasaan dari lingkungan, hingga karena belum terbiasa dengan makanan baru.

Selain itu, sebuah studi tahun 2024 yang dilakukan oleh peneliti University College London, King's College London, dan University of Leeds menunjukkan bahwa ada kemungkinan picky eater pada anak bisa terkait dengan faktor genetik. 

Dalam studi yang telah dipublikasikan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry ini, disebutkan bahwa sifat pemilih makanan sebagian besar dipengaruhi oleh gen. 

"Kami ingin menekankan bahwa perilaku ini bisa saja bukan akibat dari pola asuh yang buruk. Kemungkinan besar bisa disebabkan oleh perbedaan genetik," kata Zeynep Nas, PhD, peneliti dari University College London, sekaligus salah satu penulis utama studi tersebut, dikutip dari Parents.

Mengapa picky eater bisa bersifat genetik?

Para peneliti membandingkan data dari 4.804 anak kembar di Inggris yang lahir pada tahun 2007. Mereka mengamati kesamaan sifat pemilih makanan antara kembar tidak identik (yang biasanya berbagi 50 persen gen) dan kembar identik (yang berbagi 100 persen gen).

Data dikumpulkan dari serangkaian kuesioner yang diisi oleh orang tua pada saat anak mereka berusia 16 bulan, serta 3, 5, 7, dan 13 tahun.

Studi ini menyimpulkan bahwa kembar tidak identik menunjukkan perilaku makan yang kurang mirip dibandingkan kembar identik. Ini menunjukkan adanya hubungan genetik yang kuat terkait pemilihan makanan.

"Kami berharap temuan ini dapat mengurangi rasa bersalah dan saling menyalahkan yang dialami banyak orang tua. Bahwa ada kemungkinan besar gen memiliki peran besar mengapa sebagian anak lebih memilih-milih makanan dibandingkan anak lainnya," ujar Nas.

Studi ini juga menunjukkan bahwa sifat pemilih makanan meningkat antara usia 16 bulan hingga tujuh tahun, kemudian menurun saat anak mendekati masa remaja.

Tapi perlu digarisbawahi bahwa sampai saat ini belum ada tes genetik secara langsung untuk picky eater. Nas sendiri mengungkapkan penelitian tentang ini sedang dalam proses pengerjaan.

Kebiasaan lingkungan dan potensi picky eater

Meskipun hasil studi ini menunjukkan bahwa genetika kemungkinan adalah faktor utama dalam sifat pemilih makanan, tapi bukan berarti lingkungan sekitar anak tidak berpengaruh.

Para peneliti menyebutkan bahwa hal ini juga berpengaruh cukup signifikan, terutama pada masa balita. 

"Fakta bahwa kecenderungan menjadi picky eater dipengaruhi genetik bukan berarti lantas faktor lingkungan menjadi tidak penting," kata Nas.

Sebaliknya, studi ini menunjukkan bahwa masa balita bisa menjadi waktu penting untuk menerapkan pola makan sehat, termasuk dengan memberikan contoh yang positif. 

Bisakah picky eater dihilangkan?

Studi ini tidak menyiratkan bahwa sifat pemilih makanan tidak bisa diubah, tetapi pengaruh genetik yang dominan bisa membuat hal ini menjadi lebih sulit.

"Jika perilaku sepenuhnya dipengaruhi lingkungan, maka kita bisa memodifikasi untuk mendukung kebutuhan anak. Namun jika ini didominasi faktor genetik, maka intervensi lingkungan harus lebih tepat dan benar-benar disesuaikan dengan anak," imbuh Nas.

Menurutnya, faktor lingkungan tetap berperan mendukung sepanjang perkembangan. Sebab sifat pemilih makanan juga bisa terlihat berbeda bergantung pada latar belakang budaya anak, sehingga setiap penanganan harus disesuaikan dengan konteks keluarganya.

Cara menghadapi anak picky eater

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menghadapi anak dengan picky eater, beberapa di antaranya seperti:

1. Tawarkan banyak variasi

Tawarkan dua hingga tiga makanan yang pasti dimakan anak bersamaan dengan dua hingga tiga makanan lain yang mereka enggan coba. Jangan lupa untuk terus konsisten. 

Ini bisa membuat anak semakin terbiasa makan dengan pilihan yang semakin terbatas. Jangan berhenti menawarkan makanan jika anak menolaknya di kali pertama ya, Bunda. 

2. Tetap berikan asupan sehat

Dokter spesialis anak, Colleen Kraft, MD, mengatakan salah satu kesalahan orang tua adalah memberi anak pilihan makanan kurang sehat jika mereka menolak makanan yang disajikan. 

Kebiasaan ini sebenarnya seakan mendukung anak untuk memilih-milih makanan. Jadi, sebaiknya cobalah untuk tetap konsisten menawarkan makanan sehat. 

3. Libatkan anak dalam proses makan

Jangan melulu semua Bunda saja yang menentukan, tetap libatkan Si Kecil. Biarkan mereka memilih satu buah atau sayur baru setiap minggu, lalu ajak dalam proses persiapan makanan. 

Pada anak usia sekolah misalnya, mereka bisa coba membaca-baca buku resep. Lalu untuk anak yang usianya lebih muda, Bunda bisa meminta bantuan mereka untuk menambahkan bahan ke dalam masakan.

4. Turunkan standar dan ekspektasi

Standar dan ekspektasi yang terlalu tinggi bisa membuat orang tua menjadi stres, yang berujung pada proses makan anak yang semakin tidak optimal.

Kapan anak picky eater perlu ke dokter?

Dikutip dari Solid Starts, ada beberapa tanda bahwa anak picky eater sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau profesional lainnya, yakni:

  • Menolak makan atau minum apa pun.
  • Menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, seperti tidak ada air mata atau air liur, urine pekat (kuning tua) dan jarang buang air kecil.
  • Ada tanda-tanda konstipasi, seperti buang air besar (BAB) kurang dari dua kali seminggu, tekstur feses keras, anak mengeluh nyeri saat BAB, ada darah di dalam atau sekitar feses, nyeri perut terus-menerus.
  • Penurunan berat badan yang signifikan.
  • Sering tersedak atau muntah saat makan makanan padat maupun cair.
  • Terlalu sering mengantuk.
  • Anak merasa sangat kewalahan dan tidak berenergi.

Demikian ulasan tentang anak suka pilih-pilih makanan. Jika anak mengalami salah satu tanda di atas, segera lakukan konsultasi ke dokter ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Penyebab Bayi Picky Eater, Salah Satunya Jadwal Makan Tak Konsisten

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Mengenal Sosok Putri Dubai Sheikha Mahra, Pernah Talak Suami Lewat IG hingga Tunangan dengan Rapper

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Diet ala Artis Korea Jihyo TWICE, Sukses Turun Berat Badan 10 Kg

Mom's Life Amira Salsabila

Bulan Maulid Nabi, Ini 3 Niat Puasa Sunah yang Bisa Diamalkan

Mom's Life Ajeng Pratiwi & Fauzan Julian Kurnia

Kisah di Balik Ibu Kerudung Pink Ikut Demo DPR, Sempat Dicari Anak karena Tak Kunjung Pulang

Mom's Life Tim HaiBunda

Terungkap Isi Kapsul Waktu yang Dikubur Putri Diana 30 Tahun Lalu

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Terungkap Isi Kapsul Waktu yang Dikubur Putri Diana 30 Tahun Lalu

Bulan Maulid Nabi, Ini 3 Niat Puasa Sunah yang Bisa Diamalkan

Mengenal Sosok Putri Dubai Sheikha Mahra, Pernah Talak Suami Lewat IG hingga Tunangan dengan Rapper

Lesung Pipi di Wajah Anak, Benarkah Diwariskan secara Genetik? Cek Fakta Menariknya

Meninggal di Tengah Aksi Unjuk Rasa, Affan Kurniawan Ternyata Tulang Punggung Keluarga

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK