PARENTING
3 Cara agar Anak Enggak Cepat Alami Pubertas Menurut Psikolog
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Selasa, 30 Sep 2025 23:30 WIBSetiap anak punya fase tumbuh kembangnya yang perlu Bunda perhatikan dengan penuh kasih. Namun, ada kalanya perubahan tubuh datang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Fenomena pubertas dini belakangan ini makin sering terjadi dan jadi perhatian banyak orang tua. Kondisi ini bisa bikin anak merasa bingung, bahkan kurang siap secara mental.
Perubahan fisik yang muncul terlalu cepat juga berisiko memengaruhi rasa percaya diri anak. Tak jarang juga, Bunda, ini menimbulkan kecemasan baik pada anak maupun orang tuanya.
Bunda tentu ingin melihat anak tumbuh sesuai usianya dengan perasaan yang nyaman dan aman. Karena itu, penting bagi kita memahami apa saja yang bisa memengaruhi pubertas dini.
Menurut psikolog klinis sekaligus Ustazah, Tika Faiza M.Psi., ada beberapa cara supaya anak tidak cepat pubertas. Nah, inilah yang akan kita bahas lebih lanjut.
3 cara agar anak enggak cepat pubertas menurut psikolog
Ada tiga langkah penting yang bisa dilakukan orang tua agar anak tidak mengalami pubertas lebih cepat dari usianya menurut psikolog. Simak, yuk!
1. Ajak anak berdialog dengan obrolan bermakna
Menurut psikolog Faiza, komunikasi yang dilakukan secara konsisten merupakan kunci supaya anak merasa didengar dan dihargai, Bunda.
"Ayah dan bunda bisa mengajak obrol anaknya dengan namanya meaningful conversation ya, obrolan yang bermakna," ujar psikolog Faiza M.Psi., ketika mengisi talkshow di Bundaversity 2025 bertema Belajar Mengasuh Anak, Sambil Menyembuhkan Luka Diri.
Kemudian, obrolan sehari-hari tentu boleh Bunda ucapkan, seperti menanyakan sudah makan atau sudah mandi. Namun, psikolog mengingatkan agar itu tidak jadi cara satu-satunya.
"Jadi kalau di rumah, anak-anak jangan cuma dipancing dengan pertanyaan, sudah makan belum? Sudah mandi belum? Pertanyaan ini tentu boleh, tapi mari kita biasakan ngobrol dengan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan lebih berbobot," jelas Ustazah Tika.
Pertanyaan berbobot yang dimaksud ini bisa berupa dari hal-hal yang sederhana hingga yang lebih besar, Bunda.
"Apa pendapat mereka tentang suatu tema? Apa pendapat mereka tentang kejadian di rumah kita? Apa pendapat mereka tentang kejadian di sekeliling rumah? Bahkan tema-tema yang lebih besar tentang apa yang terjadi di negara kita itu jadi obrolan di rumah yang sifatnya bukan sekedar ngobrol tapi untuk mengedukasi mereka," tambahnya.
Selain itu, komunikasi semacam ini juga menjadi benteng supaya anak tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Anak akan terbiasa punya sudut pandang dan bisa menimbang sesuatu dengan lebih matang.
2. Bantu anak dalam menentukan pertemanan
Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh yang besar pada perkembangan anak, Bunda. Karena itu, psikolog menekankan pentingnya peran orang tua.
"Memilihkan atau membantu mereka menyeleksi pertemanan. Kadangkala pertemanan-pertemanan yang tidak sehat itu membawa kepada hal yang buruk," ujarnya.
Bunda, tak jarang pertemanan yang tidak baik bisa membuat anak cepat terpapar hal-hal yang belum saatnya. Maka, mendampingi mereka dalam memilih teman adalah salah satu langkah yang bijak.
"Memilihkan teman-teman yang baik itu membantu mereka untuk mendapatkan support-support yang positif," lanjutnya.
Anak yang tumbuh di lingkungan sehat akan lebih mudah berkembang sesuai dengan usianya. Mereka juga lebih kecil kemungkinan terjerumus ke hal-hal negatif.
3. Kenalkan anak dengan dunia buku
Selain lingkungan dan komunikasi, menurut psikolog Faiza, media yang dikenalkan kepada anak juga punya peran besar lho, Bunda. Media di sini dapat berupa buku atau bahan pembelajaran yang ada di rumah.
"Memberikan kepada mereka buku-buku yang bisa dibaca di rumah. Jadi selain mungkin difasilitasi dengan gadget, orang tua tidak boleh luput mengajak anak-anak ke pameran buku atau mengenalkan kepada mereka buku-buku yang menarik," kata Ustazah Tika.
Bunda pasti paham, bahwa saat ini, gadget tengah menjadi tantangan terbesar bagi tumbuh kembang Si Kecil.
"Karena hari ini gadget telah berubah menjadi 'setan gepeng'. Kadangkala tidak lagi membawa ke dampak kebaikan karena mungkin terlalu sering nge-game dan sebagainya. Maka kita kenalkan pada buku yang dicetak," tambahnya.
Dengan Bunda membiasakan anak membaca buku sejak dini, mereka akan terlatih mencari pengetahuan dari sumber yang lebih bermanfaat, Bunda.
Menyembuhkan luka diri lewat keteladanan orang tua menurut psikolog
Selain membahas tentang beberapa cara agar anak enggak cepat pubertas, psikolog Faiza, juga menekankan pentingnya keseimbangan dalam membesarkan anak.
Membesarkan anak bukan cuma soal memberi makan dan pendidikan saja, Bunda. Menurutnya, ada aspek yang jauh lebih dalam, yakni keseimbangan antara nilai spiritual dan kebutuhan duniawi yang perlu dijaga.
"Kalau ingin Si Kecil seimbang perkembangan tentang keagamaannya dan babak yang sifatnya dunia, maka kunci pertama adalah keteladanan," kata Ustazah Tika.
Lalu, bagaimana caranya memberikan teladan itu pada Si Kecil? Dalam hal ini, salah satu contohnya Bunda bisa menghidupkan nilai-nilai agama di rumah.
"Bagaimana orang tua menghidupkan nilai-nilai agama di rumah, bagaimana orang tua memberikan contoh, bagaimana orang tua tidak menyuruh tapi mengajak, itu akan menjadi teladan yang sangat luar biasa menghidupkan nilai-nilai agama," ujarnya.
Lebih lanjut, psikolog juga mengingatkan agar aspek dunia tidak dilupakan dalam mendidik anak.
"Untuk kemudian tidak melupakan bagian dari dunia. Karena saat ini kita hidupnya di dunia, belum sampai akhirat. Sehingga, bagian-bagian tentang duniawi juga tetap harus dikawal, diajarkan, di manajemen, seimbang kemudian dengan apa yang dibutuhkan kehidupan akhiratnya nanti," tambahnya.
Dengan begitu, anak bisa tumbuh dengan pandangan yang utuh. Ia akan belajar, bahwa dunia adalah tempat menanam kebaikan, sementara akhirat adalah tujuan yang harus dipersiapkan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap)Simak video di bawah ini, Bun:
Ini 4 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Mandiri & Sukses Menurut Pakar
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Bau Badan Berlebih Jadi Tanda Anak Alami Pubertas Dini?
Pubertas Dini pada Anak: Ciri, Penyebab & Usia Mulainya
Pubertas Dini pada Anak Perempuan Marak Terjadi saat Pandemi, Ini Kata Dokter Anak
Dokter Ini Curiga Tinggi Anak Naik 20 Cm dalam Setahun, Ternyata Alami Precocious Puberty
TERPOPULER
Korea Selatan Beri Bebas Visa untuk Warga Indonesia, Ini Syaratnya
12 Cara Mengetahui Kehamilan dengan Memegang Perut
Jelang Lebaran Tapi Rezeki Masih Seret? Hindari 5 Kebiasaan Mengurangi Barakah
3 Klinik & Rumah Sakit yang Dipilih Artis untuk Program Hamil
7 Cara Mengatasi Kulit Bayi Baru Lahir Mengelupas
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Madu untuk Sahur, supaya Kuat Puasa dan Tetap Sehat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Baju Lebaran 2026 Anak Laki-Laki 1-14 Tahun, Bisa Kembaran sama Ayah
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Alat Pel Persiapan Ditinggal ART, Harga Terjangkau
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Vitamin Bikin Sehat Saat Puasa untuk Jaga Daya Tahan Tubuh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Pelembap Wajah untuk Kulit Kering, Harga Sekitar Rp100 Ribuan
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Hukum dan Denda Melakukan Hubungan Intim saat Puasa
12 Cara Mengetahui Kehamilan dengan Memegang Perut
7 Cara Mengatasi Kulit Bayi Baru Lahir Mengelupas
Korea Selatan Beri Bebas Visa untuk Warga Indonesia, Ini Syaratnya
3 Klinik & Rumah Sakit yang Dipilih Artis untuk Program Hamil
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Insanul Fahmi Harap Bisa Duduk Bareng Mawa & Inara Rusli Bahas Konflik Rumah Tangga
-
Beautynesia
4 Kebiasaan Baik di Usia 40-an supaya Berumur Panjang Menurut Ahli
-
Female Daily
Essential Oil Hack Selama Puasa yang Bikin Fokus, Tenang, dan Nggak Cranky!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Ramalan Zodiak 1 Maret: Libra Pemasukan Lancar, Sagitarius di Atas Angin
-
Mommies Daily
Inspirasi Baju Lebaran 2026: Dari Bayi Sampai Orang Tua, Mulai dari Rp60 Ribuan