PARENTING
3 Jenis Co-Parenting, Pola Asuh Setelah Cerai & Cara Sukses Menerapkannya
Asri Ediyati | HaiBunda
Rabu, 29 Oct 2025 23:30 WIBCo-parenting atau pengasuhan bersama, adalah istilah yang digunakan ketika pasangan yang bercerai mengasuh anak bersama. Mereka tetap melanjutkan membesarkan anak-anak secara bersama-sama, meskipun tidak lagi menjalin hubungan.
Meskipun setiap keluarga memiliki aturan masing-masing, anak-anak biasanya akan menghabiskan sebagian waktu dengan salah satu orang tua dan sisanya dengan orang tua lainnya.
Bersahabat dengan mantan pasangan mungkin tidak semua orang bisa. Terkadang orang berhasil melewati perceraian dengan tetap menjalin komunikasi yang baik layaknya teman, tetapi hal ini terkadang tidak berlaku bagi sebagian mantan pasangan.
Banyak orang meninggalkan pernikahan atau hubungan dengan perasaan dendam dan sakit hati. Sementara itu, sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya bagaimana cara melanjutkan hidup dari pernikahan sambil berbagi anak dengan seseorang yang tidak lagi hidup bersama.
Ini bukan hal yang mudah untuk dijalani, tetapi ada cara untuk menjadi co-parents yang hebat, Bunda.
3 Jenis co-parenting, pola asuh setelah cerai
Dilansir Very Well Mind, para peneliti telah mengidentifikasi tiga jenis utama hubungan co-parenting pasca-perceraian:
1. Co-parenting yang berkonflik
Dalam jenis co-parenting ini, orang tua sering mengalami konflik dan komunikasi yang buruk satu sama lain. Mereka mungkin memiliki jadwal, gaya pengasuhan, aturan, dan prioritas yang berbeda, dan mungkin tidak dapat mencapai kesepakatan tentang kebutuhan atau rutinitas harian anak mereka.
Co-parenting yang berkonflik dapat menyulitkan anak-anak, karena mereka mungkin merasa terjebak di tengah-tengah perselisihan orang tua mereka. Penelitian menunjukkan bahwa co-parenting yang berkonflik dapat meningkatkan risiko anak mengalami masalah perilaku, serta masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan tekanan psikologis.
2. Co-parenting yang kooperatif
Dalam jenis co-parenting yang kooperatif, kedua orang tua bekerja sama untuk membuat keputusan terkait pengasuhan anak mereka. Pengaturan ini melibatkan komunikasi yang teratur, berbagi informasi tentang kebutuhan dan perkembangan anak mereka, dan mengoordinasikan jadwal untuk memastikan bahwa anak menghabiskan waktu berkualitas dengan kedua orang tua.
Co-parenting yang kooperatif dapat bermanfaat bagi anak-anak karena menyediakan lingkungan yang stabil, konsisten, dan suportif. Penelitian menunjukkan bahwa co-parenting yang kooperatif berkaitan dengan harga diri yang lebih tinggi, peningkatan prestasi akademik, dan kesehatan mental yang lebih baik secara keseluruhan pada anak-anak.
3. Co-parenting paralel
Co-parenting paralel berarti kedua orang tua beroperasi secara independen, dengan sedikit komunikasi, keterlibatan, kerja sama, atau konflik satu sama lain. Rutinitas rumah tangga dan aturan pengasuhan mereka seringkali berbeda satu sama lain, yang dapat menyebabkan kurangnya konsistensi dalam kehidupan anak. Kesamaan dalam aturan atau rutinitas seringkali tidak direncanakan atau disengaja.
Penting untuk dicatat bahwa pengaturan co-parenting dapat bersifat fleksibel dan dapat berubah seiring waktu seiring dengan perkembangan dinamika dan keadaan orang tua bersama.
Tips untuk co-parenting yang sukses
Berikut beberapa tips co-parenting yang dapat membantu mantan pasangan berhasil mengasuh anak bersama:
1. Jaga komunikasi yang teratur
Penting untuk menjaga komunikasi yang teratur dengan anak, rekan orang tua, dan orang tua tiri, kakek-nenek, atau pengasuh lain dalam kehidupan anak. Berbagi kabar penting dan informasi terbaru yang relevan tentang perkembangan, sekolah, kegiatan, masalah kesehatan, dan rutinitas anak dengan semua orang yang terlibat dapat bermanfaat.
2. Buat aturan yang sesuai untuk berdua
Susun aturan co-parenting yang sesuai untuk mantan pasangan. Jika tinggal di dekat tempat tinggal mereka, maka dapat meminta anak untuk menghabiskan waktu bergantian selama beberapa hari atau minggu dengan masing-masing orang tua.
Atau, jika jadwal pekerjaan berbeda, anak dapat menghabiskan pagi hari dengan salah satu orang tua dan malam hari dengan orang tua lainnya. Jika tinggal di kota yang berbeda, anak mungkin harus menghabiskan hari sekolah dengan salah satu orang tua dan liburan dengan orang tua lainnya.
3. Bersikap fleksibel
Mungkin ada kalanya segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana, terlepas dari niat baik. Berikan ruang untuk fleksibilitas jika orang tua lainnya terlambat atau tidak dapat menjemput anak, pengasuh anak tidak datang tepat waktu, sekolah pulang lebih awal, atau ada keadaan darurat yang tidak terduga. Bekerja sama dengan mantan pasangan dapat membantu saat membutuhkan bantuan mereka.
4. Hargai gaya pengasuhan yang berbeda
Pahami bahwa setiap orang memiliki gaya pengasuhan yang berbeda. Kecuali jika gaya pengasuhan mantan pasangan merugikan anak, hargai mereka dan biarkan mereka menjalin ikatan dengan anak sesuai keinginan mereka. Paparan terhadap berbagai pendekatan pengasuhan dapat membantu anak belajar beradaptasi dengan berbagai situasi dan hubungan.
5. Berikan ruang untuk orang tua sambung
Mantan pasangan mungkin akan melanjutkan hidup dan mulai berkencan dengan orang lain. Ketika membawa pasangan baru ke dalam kehidupan anak, mereka mungkin akan mengambil peran sebagai orang tua tiri. Selama mereka peduli pada anak untuk menghormati hubungan dengan anak, cobalah untuk memberi ruang bagi mereka dalam kehidupan anak, alih-alih membenci, bersikap bermusuhan, atau mengurangi kehadiran mereka.
6. Jaga interaksi tetap hangat
Perlu ada momen untuk bertemu atau berinteraksi dengan mantan pasangan atau orang lain dalam hidup mereka, seperti anggota keluarga atau pasangan mereka saat ini. Misalnya, saat mengantar atau menjemput anak, di pesta ulang tahun anak, atau di acara sekolah. Usahakan agar interaksi tetap hangat dan ramah.
7. Manfaatkan waktu bersama anak sebaik mungkin
Pastikan untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama anak, terutama jika waktu bersama terbatas. Minimalkan komitmen dan gangguan lain, dan rencanakan kegiatan menyenangkan untuk dilakukan bersama. Cobalah untuk menciptakan ritual yang bermakna dan unik untuk hubungan dengan anak.
Susun rencana co-parenting
Susunlah rencana bersama yang mencakup faktor-faktor tersebut. Kuncinya adalah memastikan bahwa anak dapat memiliki hubungan yang aman dan sehat dengan semua orang tuanya.
Dikutip dari laman Raising Children, rencana co-parenting harus mencakup:
- Pengaturan tempat tinggal dan jadwal kontak atau kunjungan
- Rencana pendidikan
- Tanggung jawab keuangan
- Kebutuhan atau masalah medis anak dan kontak darurat
- Pengaturan untuk liburan dan acara khusus
- Pedoman pengambilan keputusan dan penyelesaian sengketa.
Diskusikan perubahan rencana
Rencana co-parenting mungkin harus disesuaikan dengan kebutuhan anak dan keadaan orang tua. Diskusikan setiap perubahan atau pembaruan rencana dengan semua pemangku kepentingan yang terlibat. Hal ini dapat membantu memastikan semua orang memiliki pemahaman yang sama.
Demikian ulasan mengenai co-parenting untuk mengasuh anak bersama-sama usai pernikahan berakhir. Semoga informasinya membantu!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
Simak video di bawah ini, Bun:
7 Cara Mengajarkan Anak agar Memiliki Karakter Pantang Menyerah
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mengenal Co Parenting, Pola Asuh Setelah Perceraian & Dampaknya ke Psikologis Anak
Tetap Akur, Ririe Fairus dan Ayus Sabyan Terapkan Co-Parenting Pasca Cerai
Gaya Co-Parenting Gwyneth Paltrow & Mantan Suami Sang Vokalis Coldplay
Demi Anak, Nafa Urbach dan Zack Lee Lakukan Co-Parenting
TERPOPULER
Studi Temukan Paparan Bahan Kimia Ini Bisa Tingkatkan Risiko Keguguran Berulang
Transmart Full Day Sale Hadirkan Diskon Besar Hanya Besok, Bun!
Percantik Rumah dengan Sprei Cantik, Buruan Dapatkan di Transmart Bun
9 Cara Mengenali Orang Berbohong atau Tidak Menurut Penelitian
Momen Natasha Rizki & Desta Bersama Anak, Terbaru Rayakan Ultah Megumi
REKOMENDASI PRODUK
26 Rekomendasi Merek Sepatu Terkenal Branded Asal Indonesia & Luar Negeri, Bagus & Awet
Natasha ArdiahREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Sikat Gigi Anak 1 Tahun ke Atas, Bisa Jadi Pilihan Bunda
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Micellar Water untuk Kulit Kering, Bikin Wajah Tetap Lembap
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Snack MPASI Bayi untuk Finger Food & Mudah Dibawa
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Ide Menu Siap Saji Lebaran Hemat tapi Tetap "Wah" untuk Keluarga Besar
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Tak hanya Menutrisi, Asam Lemak ASI Juga Bantu Bayi Tidur Lebih Nyenyak
Studi Temukan Paparan Bahan Kimia Ini Bisa Tingkatkan Risiko Keguguran Berulang
Momen Danang DA Beri Kejutan Hadiah Mobil untuk Istri Dokter
Percantik Rumah dengan Sprei Cantik, Buruan Dapatkan di Transmart Bun
Transmart Full Day Sale Hadirkan Diskon Besar Hanya Besok, Bun!
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Video: Wardatina Mawa Nilai Permintaan Maaf Inara Rusli Tidak Spesifik
-
Beautynesia
Hindari Secepatnya, 6 Kebiasaan yang Bikin Otak Cepat Menua Tanpa Disadari
-
Female Daily
Seo In Guk Spill Chemistry dengan Jisoo di Drama Boyfriend on Demand!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Demi Hapus Imej Jahat, Aktor Korea Ini Diet untuk Menggemukkan Badan
-
Mommies Daily
Disney Adventure Berlayar di Singapura! Ini Fasilitas, Kegiatan, dan Daftar Harga Kamar