parenting
15 Cerita Dongeng Nusantara Penuh Makna untuk Diceritakan ke Anak
HaiBunda
Senin, 05 Jan 2026 21:30 WIB
Daftar Isi
-
15 Cerita Dongeng Nusantara Penuh Makna untuk Diceritakan ke Anak
- 1. Cerita Dongeng dari Sumatera Utara: Putri Ular dari Simalungun
- 2. Cerita Dongeng Danau Toba
- 3. Cerita Dongeng Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
- 4. Cerita Dongeng Malin Kundang
- 5. Cerita Dongeng Legenda Batu Bertangkup
- 6. Cerita Dongeng Keong Mas
- 7. Cerita Dongeng Roro Jonggrang
- 8. Cerita Dongeng Sangkuriang
- 9. Cerita Dongeng Asal Usul Surabaya
- 10. Cerita Dongeng Timun Mas
- 11. Cerita Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih
- 12. Cerita Dongeng Asal Mula Selat Bali
- 13. Cerita Dongeng dari Jambi: Putri Tangguk
- 14. Cerita Dongeng dari Sumatera Selatan: Si Pahit Lidah
- 15. Cerita dongeng Legenda Dewi Anjani
Bunda, belakangan ini Si Kecil lagi senang-senangnya mendengarkan cerita, ya? Kalau Bunda sedang bingung ingin membacakan cerita tentang apa, dongeng nusantara bisa jadi pilihan yang tepat.
Di saat seperti ini, cerita dongeng bisa jadi pengantar yang bikin Si Kecil merasa lebih dekat dengan orang tuanya. Bunda pun bisa menyelipkan pesan baik dari cerita dongeng nusantara.
Mengutip dari buku Keterampilan Bercerita karya Dr. Sri Katoningsih, S.Pd., M.Pd., cerita dalam buku dongeng mengandung nilai budi pekerti dan ajaran moral yang penting untuk Si Kecil. Nilai-nilai ini bisa anak serap baik saat membaca sendiri maupun ketika mendengarkan cerita dari Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, dongeng yang berkisah tentang kejadian di masa lampau bisa membantu mengasah imajinasi anak. Di saat yang sama, Si Kecil pun mulai mengenal berbagai karakter dan memahami sikap yang patut untuk dicontoh.
Maka dari itu, mari kita simak bersama cerita dongeng nusantara yang penuh makna untuk Bunda ceritakan ke anak.
15 Cerita Dongeng Nusantara Penuh Makna untuk Diceritakan ke Anak
Dikutip dari berbagai sumber, simak cerita dongeng nusantara berikut ini yuk, Bunda.
1. Cerita Dongeng dari Sumatera Utara: Putri Ular dari Simalungun
Cerita dongeng nusantara berjudul Putri Ular dari Simalungun dikutip dari buku 101 Dongeng Sebelum Tidur oleh Redy Kuswanto.
Dahulu, di kawasan Simalungun, berdiri sebuah kerajaan yang hidup makmur dan tenteram. Rajanya dikenal arif serta bijaksana, dan ia memiliki seorang putri yang cantik jelita. Kecantikan sang Putri terdengar hingga ke telinga seorang Raja Muda yang tampan, hingga akhirnya ia datang melamar dan pinangan itu diterima atas persetujuan Raja dan Permaisuri.
"Jagalah dirimu selalu, jangan sampai pernikahanmu gagal," pesan sang Raja penuh harap kepada putrinya.
Setiap pagi, sang Putri pergi mandi ke sebuah kolam di belakang istana dengan ditemani para dayang. Usai berendam, ia duduk di atas sebuah batu sambil membayangkan kebahagiaan yang akan ia rasakan saat hari pernikahan tiba.
Tiba-tiba, angin bertiup kencang dan sepotong ompol kering jatuh tepat mengenai ujung hidung sang Putri. Betapa terkejutnya ia saat melihat bayangan wajahnya di air. Hidungnya yang mancung kini menjadi pesek, dan kecantikannya tak lagi seperti semula. Kesedihan pun menyelimuti hatinya, ia takut Raja Muda itu akan berpaling dan mencari calon istri lain yang lebih cantik.
Sang Putri pun tenggelam dalam penyesalan dan kebingungan. Ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya atau membuat malu keluarga kerajaan, namun ia merasa tak berdaya. Dengan hati yang gelisah, sang Putri berdoa, "Ya Tuhan, hukumlah hamba-Mu yang telah membuat malu kedua orang tua hamba".
Tak lama setelah doa itu terucap, petir menyambar-nyambar di langit. Tubuh sang Putri perlahan ditumbuhi sisik, dan ketika sisik itu mencapai dadanya, ia memerintahkan para dayang untuk segera memberi tahu Raja dan Permaisuri di istana.
Namun, saat Raja dan Permaisuri datang, sang Putri sudah tidak tampak lagi. Yang tersisa hanyalah seekor ular raksasa yang kemudian melata masuk ke semak belukar dan menghilang.
Pesan moral: Cerita ini mengajarkan anak untuk selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki dan tidak berlebihan dalam mencintai penampilan.
2. Cerita Dongeng Danau Toba
Cerita dongeng tentang Danau Toba dikutip dari buku Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler Sepanjang Masa oleh Cikal Aksara.
Pada zaman dahulu, di sebuah desa di Sumatera Utara, hiduplah seorang petani bernama Toba. Setiap hari ia bekerja keras menggarap ladang dan mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu hari, Toba pergi ke sungai dengan membawa kail dan umpan, lalu melemparkannya ke dalam air.
Beberapa saat kemudian, kailnya tampak bergoyang-goyang. Toba segera menariknya dan merasa sangat senang karena ikan yang didapatkannya berukuran besar.
Namun, rasa senangnya berubah menjadi terkejut ketika ikan tersebut tiba-tiba berbicara, "Tolong jangan makan aku, biarkan aku hidup," tuturnya. Mendengar hal itu, Toba pun mengembalikan ikan tersebut ke sungai.
Tak lama kemudian, Toba kembali dikejutkan oleh kejadian yang tidak terduga. Ikan itu berubah menjadi seorang perempuan cantik. "Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," ujar perempuan itu dengan lembut.
"Siapakah kamu? Bukankah kamu seekor ikan?" tanya Toba kebingungan. Perempuan itu pun menjawab, "Aku adalah seorang putri yang dikutuk karena melanggar aturan kerajaan,".
Sebagai rasa terima kasih karena telah dibebaskan dari kutukan, perempuan itu bersedia menjadi istri Toba. Tanpa berpikir panjang, Toba pun menyetujui permintaan tersebut.
Namun, perempuan itu mengajukan satu syarat. Ia meminta Toba berjanji untuk tidak pernah menceritakan asal-usulnya yang berasal dari seekor ikan.
"Jika janji itu dilanggar, akan terjadi petaka yang sangat dahsyat," katanya dengan tatapan serius. Toba pun menyanggupi janji tersebut.
Beberapa waktu kemudian, kebahagiaan Toba semakin lengkap setelah sang istri melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Samosir. Anak itu tumbuh menjadi anak yang tampan dan kuat, namun memiliki kebiasaan yang membuat orang tuanya khawatir, yaitu selalu merasa lapar dan tidak pernah kenyang.
Suatu hari, Samosir diminta ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah tempat ayahnya bekerja. Namun, di tengah perjalanan, Samosir justru memakan habis semua bekal tersebut.
Setelah itu, ia tertidur pulas di sebuah gubuk. Karena tidak kunjung mendapat kiriman makanan, Toba yang sudah sangat lapar memutuskan pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, ia melihat Samosir tertidur lelap di gubuk. "Hei, Samosir, bangun!" teriak Toba.
Setelah anaknya terbangun, Toba langsung menanyakan bekal makanannya.
"Mana makanan untuk Ayah?" tanyanya dengan kesal. "Sudah habis kumakan," jawab Samosir polos. Mendengar hal itu, Toba tak mampu menahan amarah. Ia memarahi anaknya dengan kata-kata kasar hingga tanpa sadar melanggar janjinya sendiri, "Dasar anak ikan!"
Sekejap setelah kata-kata itu terucap, tanah yang diinjak Toba tiba-tiba menyemburkan air yang sangat deras. Hujan turun disertai petir, air meluap semakin tinggi dan meluas hingga menenggelamkan desa. Genangan air itu kemudian membentuk sebuah danau besar yang kini dikenal sebagai Danau Toba. Sementara itu, istri Toba dan anaknya, Samosir, menghilang tanpa jejak.
Pesan moral: Cerita dongeng nusantara ini mengajarkan pentingnya menepati janji, menjaga ucapan, dan mengendalikan amarah.
3. Cerita Dongeng Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat
Dongeng berjudul Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat asal Sumatera Selatan ini dikutip dari buku 101 Cerita Nusantara oleh Transmedia Pustaka.
Pada suatu masa, hiduplah dua pendekar yang sama-sama gagah dan sakti, bernama Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Keduanya dikenal kuat, namun selalu bersaing dan merasa dirinya masing-masing paling hebat. Hingga suatu hari, mereka sepakat mengadu kesaktian untuk menentukan siapa yang terbaik.
Pertarungan berlangsung sengit dan seimbang. Tak satu pun mampu mengalahkan lawannya, sehingga mereka menyusun sebuah kesepakatan. Salah satu harus bertelungkup di bawah pohon aren, sementara lawannya memanjat dan menjatuhkan tandan bunga aren. Siapa yang terkena tandan tersebut dinyatakan kalah.
Giliran pertama jatuh kepada Si Mata Empat. Ia bertelungkup di bawah pohon aren, sementara Si Pahit Lidah memanjat dengan gesit dan memotong tandan bunga aren. Namun, berkat empat mata yang dimilikinya, dua di depan dan dua di belakang kepala, Si Mata Empat berhasil menghindar dan selamat.
Selanjutnya, giliran Si Mata Empat yang memanjat pohon aren. Sementara itu, Si Pahit Lidah bertelungkup di bawah pohon. Dengan cepat, Si Mata Empat memotong tandan bunga aren dan menjatuhkannya tepat ke arah lawannya. Tandan bunga aren yang tajam mengenai tubuh Si Pahit Lidah hingga ia tewas seketika.
Si Mata Empat pun menjadi pendekar paling sakti pada masa itu. Namun, rasa penasaran membuatnya ingin membuktikan apakah lidah Si Pahit Lidah benar-benar pahit seperti namanya. Ia membuka mulut lawannya, menyentuhkan jari ke lidahnya, lalu menjilat jari tersebut.
Seketika, racun mematikan dari lidah Si Pahit Lidah merenggut nyawa Si Mata Empat. Akhirnya, tidak ada lagi pendekar yang tersisa, karena keduanya tewas sia-sia akibat kesombongan mereka sendiri.
Pesan moral: Kisah ini mengajarkan bahwa kesombongan dan keinginan untuk merasa paling hebat dapat membawa petaka. Sikap rendah hati dan bijaksana jauh lebih penting daripada mengandalkan kekuatan semata.
4. Cerita Dongeng Malin Kundang
Cerita dongeng nusantara tentang Malin Kundang dikutip dari buku 101 Cerita Nusantara oleh Transmedia Pustaka.
Di sebuah desa nelayan, hidup seorang ibu dengan seorang anak lelakinya bernama Malin. Hidup mereka sangat miskin. Ayah Malin sudah lama meninggal. Ketika dewasa, Malin memutuskan untuk pergi merantau ke negeri seberang. Setelah berhasil ia menjadi seorang pedagang kaya.
Suatu hari Malin singgah di sebuah pulau yang ternyata merupakan kampung halamannya. Dengan rasa suka cita ibunya yang sudah menunggunya dari lama lantas segera pergi ke pelabuhan untuk menemui Malin.
Sesampainya di pelabuhan, ia melihat Malin keluar dari kapal besar dengan pakaian yang mewah nan indah. "Ya Tuhan... itu Malin..." seru ibunya.
Namun saat sang ibu mendekatinya, Malin malah mendorong ibunya sampai jatuh tersungkur di tanah. Ibunya terkejut. "Aku ibumu Malin. Biar kulihat apakah kau anakku Malin atau bukan," ujarnya. Sang ibu pun lantas menyingkap pakaian Malin.
Tampak sebuah bekas luka di lengannya yang sama persis dengan luka Malin sewaktu masih kecil.
"Lancang benar wanita tua ini. Mana mungkin kamu ibuku. Pakaianmu compang camping begini. Ibuku sudah lama meninggal," hardik Malin.
Betapa sakitnya hati ibu Malin. Tak disangka Malin kini berubah menjadi anak yang durhaka.
"Kenapa kau tega berkata seperti itu anakku? Baiklah jika kamu benar anakku, aku kutuk kau menjadi batu," ucap sang ibu sambil menangis.
Tiba-tiba angin berembus dengan kencang. Badai pun datang menghancurkan kapal Malin yang besar dan mewah. Perlahan tubuh Malin menjadi kaku. Namun sebelum berubah menjadi batu, Malin sempat berteriak, "Ibu, maafkan aku. Aku memang Malin anakmu".
Namun penyesalan Malin sudah terlambat. Ia pun berubah menjadi batu.
Pesan moral: Cerita dongeng ini mengajarkan anak untuk selalu menghormati dan menyayangi orang tua, apa pun keadaan mereka.
5. Cerita Dongeng Legenda Batu Bertangkup
Cerita dongeng dari Kepulauan Riau ini dikutip dari buku Cerita Rakyat Nusantara 34 Provinsi oleh Wahyu Media.
Pada suatu masa, di sebuah dusun di Indragiri Hilir Kepulauan Riau, hiduplah seorang janda bernama Mak Minah dengan ketiga orang anaknya. Anaknya yang pertama adalah seorang perempuan, ia bernama Diang. Sedangkan dua orang yang lain adalah laki-laki yang masing-masing bernama Utuh dan Ucin.
Ketiga anak Mak Minah ini sangat nakal. Mereka kerap membantah perintah dari ibunya. Setiap hari mereka hanya suka bermain-main. Bahkan tak jarang mereka pulang ke rumah setelah malam telah larut.
Suatu ketika setelah selesai memasak makanan untuk ke tiga anaknya, Mak Minah bergegas pergi ke sungai. la kemudian mendekati sebuah batu sambil berbicara mencurahkan isi hatinya. Batu tersebut bentuknya agak mirip seperti kerang, di tengahnya terbelah dan ia bisa membuka lalu menutup kembali.
Orang-orang sering menyebutnya dengan Batu Bertangkup. "Wahai Batu Bertangkup, telanlah saya. Saya tak sanggup lagi hidup dengan ketiga anak saya yang tidak pernah menghormati orang tuanya," curhat Mak Minah.
Batu Bertangkup seketika menelan tubuh Mak Minah, hingga yang tertinggal hanya sebagian potongan kain yang dikenakannya. Menjelang sore hari, ketiga anak Mak Minah mulai merasa heran. Mereka sejak pagi tidak menjumpai emak mereka. Akan tetapi karena makanan yang ada cukup banyak, mereka akhirnya cuman makan lalu bermain-main kembali.
Setelah hari kedua, makanan pun mulai habis. Anak-anak Mak Minah mulai merasa lapar. Sampai kemudian matahari terbenam dan malam kian larut, barulah mereka kebingungan dan mencari-cari ibunya. Pada keesokan harinya setelah matahari mulai memecah subuh, ketiga anak Mak Minah segera berangkat pergi ke tepi sungai.
Mereka sangat terkejut menemukan potongan kain Mak Minah yang terurai di sebelah Batu Bertangkup. "Wahai Batu Bertangkup, kami membutuhkan ibu kami. Tolong keluarkan ibu kami dari perutmu," ratap mereka.
"Tidak! Kalian hanya membutuhkan emak saat kalian lapar. Kalian tidak pernah menyayangi dan menghormati ibu kalian, " jawab Batu Bertangkup.
"Kami berjanji akan selalu menuruti ibu kami, menyayangi dan menghormatinya," janji mereka.
Akhirnya batu tertangkup mengabulkan ratapan ketiga anak itu. Mak Minah pada akhirnya dikeluarkan dari tangkupan Batu Tertangkup.
Selanjutnya mereka pun menjadi rajin membantu dan menyayangi Mak Minah. Akan tetapi hal tersebut ternyata tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian mereka kembali berubah sifatnya seperti semula; suka bermain-main dan malas membantu orang tua.
Mak Minah pun berubah semakin sedih. Ia lalu kembali mengunjungi Batu Bertangkup di tepi sungai dan meminta untuk kembali ditelan. Sementara di rumah anak-anak Mak Minah masih terus sibuk bermain-main. Menjelang sore hari, barulah mereka sadar bahwa ibu mereka tidak ada lagi.
Mereka lalu kembali mengunjungi Batu Bertangkup di tepi sungai sambil meratap meminta ibu mereka dikeluarkan. Akan tetapi kali ini batu tertangkup sudah sangat marah. Ia pun berkata, "Kalian memang anak nakal. Penyesalan kalian ini tidak ada gunanya". Setelah itu, dalam sekejap Batu Bertangkup segera masuk ke dalam tanah dan tidak pernah muncul kembali.
Pesan moral: Cerita ini mengajarkan pentingnya menghormati, menyayangi, dan menaati orang tua sejak dini.
6. Cerita Dongeng Keong Mas
Cerita Nusantara Keong Mas/Foto: HaiBunda/ Mia Kurnia Sari |
Cerita dongeng penuh makna berjudul Keong Mas dilansir dari buku Dongeng Mini Nusantara Keong Mas karya Bhuana Ilmu Populer.
Dahulu kala di Kerajaan Daha, ada dua putri bernama Galuh Ajeng dan Candra Kirana. Galuh Ajeng iri pada Candra Kirana yang bertunangan dengan Pangeran Inu Kertapati.
Disuruhnya nenek sihir jahat untuk mengutuk saudaranya menjadi keong mas.
Suatu hari, seorang nenek tua mencari ikan di sungai. Bukannya ikan yang ditangkap, justru seekor keong mas yang didapat. Keong mas itu lantas dibawa pulang dan dipelihara dengan aman.
Esok harinya si nenek mencari ikan lagi. Nasib baik belum datang, si nenek pulang ke rumah dalam keadaan lapar. Namun alangkah terkejutnya ia, ketika melihat banyak makanan telah terjadi di meja makan.
Berkali-kali keajaiban ini terjadi. Hingga suatu si nenek berpura-pura pergi, lalu ia kembali dan mengintip. Ternyata, keong mas yang didapatkan itu berubah wujud menjadi seorang putri yang cantik.
Di sisi lain, Pangeran Inu Kertapati bingung karena tunangannya telah hilang. Ia lantas menyamar menjadi seorang rakyat jelata untuk mencari Putri Candra Kirana. Kakek Sakti kemudian memberitahu sang pangeran bahwa sang putri berada di Desa Dadapan.
Pangeran Inu Kertapati akhirnya berhasil menemukan sang pujaan hati. Begitu mereka bertemu, kekuatan sihir pun hilang. Pangeran lantas memboyong Putri Candra Kirana ke istana dan mereka hidup bahagia selamanya.
Pesan moral: Kisah ini mengajarkan bahwa rasa iri dan dengki hanya akan membawa penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain.
7. Cerita Dongeng Roro Jonggrang
Dongeng nusantara berjudul Roro Jonggrang menilik dari buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara oleh Visimedia.
Dahulu, terdapat kerajaan bernama Prambanan yang dipimpin oleh Prabu Baka. Ia memiliki putri bernama Roro Jonggrang. Rakyat merasa sejahtera di bawah kerajaan tersebut.
Berbeda dengan Kerajaan Prambanan, Kerajaan Pengging memiliki raja yang buruk. Ia suka berperang dan memperluas wilayah kekuasaannya. Raja Pengging pun memiliki ksatria bernama Bandung Bondowoso.
Tak hanya kuat, ia juga sakti. Suatu hari ia diperintahkan untuk menaklukkan Kerajaan Prambanan. Usaha penaklukan pun berhasil dilakukan. Raja Baka tewas, Kerajaan Prambanan pun jatuh pada Kerajaan Pengging.
Tersisa Roro Jonggrang yang ternyata disukai oleh Bandung Bondowoso. Usai kalah, ia malah dipinang oleh Bandung Bondowoso untuk jadi pramaisurinya.
Roro Jonggrang sebenarnya tak mau menerima, tapi di sisi lain kasihan dengan rakyat Kerajaan Prambanan. Alhasil, Roro Jonggrang memberikan syarat untuk dibuatkan 1.000 candi dan 2 sumur dalam semalam. Ternyata, Bandung Bondowoso menyanggupi. Dengan pasukannya, ia nyaris berhasil membangun candi dalam semalam.
Tapi, ia gagal membangun ke 1.000 karena pasukannya mengira hari sudah pagi usai mendengar bunyi ayam berkokok. Rupanya, usaha Bandung digagalkan oleh Roro Jonggrang. Mengetahui Roro Jonggrang yang mencuranginya, alhasil putri raja itu akhirnya dikutuk menjadi candi yang ke 1.000.
Pesan moral: Tidak ada pencapaian yang dapat diraih dengan instan. Semuanya butuh proses. Kemudian, jangan lah berbuat buruk, kelak keburukan akan berbalik menimpa ke diri sendiri.
8. Cerita Dongeng Sangkuriang
Cerita dongeng nusantara berjudul Sangkuriang dilansir dari buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara karya Visimedia.
Dayang Sumbi merupakan wanita sakti keturunan raja Sungging Perbangkara. Parasnya cantik dan kala itu ia menolak lamaran dari para lelaki yang sering ia terima. Suatu saat, ketika mengasingkan diri bersama anjingnya, Tumang, di hutan. Gulungan benang jahitan tenunnya jatuh.
Dayang Sumbi kemudian tanpa sadar melontarkan pernyataan, siapa saja yang dapat mengambilkan gulungan benang tersebut jika dia perempuan, akan dijadikannya saudara. Namun, jika laki-laki maka akan dijadikan suami.
Di luar dugaan, si Tumang anjing peliharaannya yang mengambilkan gulungan tersebut. Dan karena sudah berjanji, akhirnya Dayang Sumbi menikah dengan si Tumang. Tumang sebenarnya adalah adalah titisan dewa yang menjelma menjadi anjing. Dari pernikahan itu, lahir anak yang diberi nama Sangkuriang.
Suatu hari ketika Sangkuriang hendak berburu bersama Tumang, disuruhnya Tumang untuk mengejar babi betina Wayung, yang tak lain adalah ibunya Dayang Sumbi. Karena tidak menuruti perintah Sangkuriang, dibunuhlah si Tumang oleh Sangkuriang. Hati si Tumang diambil oleh Sangkuriang dan diberikan kepada ibunya, Dayang Sumbi untuk dimasak dan disantap.
Mengetahui bahwa yang dimakannya itu adalah hati si Tumang, kemarahannya pun memuncak. Seketika itu, kepala Sangkuriang dipukul hingga terluka dan diusir dari tempat tinggalnya.
Waktu terus berlalu, hingga Sangkuriang tumbuh menjadi lelaki yang gagah dan tampan. Entah berapa lama dia berkelana hingga tanpa disadarinya, Sangkuriang kembali ke hutan tempat asalnya. Ia bertemu wanita cantik yang tak lain adalah Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi awalnya tak tahu itu anaknya. Keduanya pun saling suka. Tapi, begitu ia kenal dan sadar bahwa pria yang ingin menikahinya adalah Sangkuriang, ia makin terkejut. Alhasil ia memberikan satu syarat, Sangkuriang harus mampu membuat danau dan perahu serta membendung sungai Citarum dalam waktu satu malam.
Sangkuriang menyanggupi persyaratan ini karena dia telah berguru dan menjadi orang sakti mandraguna. Alhasil, Sangkuriang ternyata mampu memenuhi persyaratan yang diberikan Dayang Sumbi kepadanya.
Dengan segala upaya, Dayang Sumbi berhasil membuat Sangkuriang geram. Ia menendang perahu yang setengah jadi dengan sekuat tenaga dan terguling dalam keadaan tertelungkup hingga akhirnya muncul sebutan Tangkuban Parahu.
Pesan moral: Bersikaplah jujur, karena kejujuran akan menuntun pada kebaikan dan menghadirkan kebahagiaan di kemudian hari.
9. Cerita Dongeng Asal Usul Surabaya
Dilansir dari buku Dongeng Nusantara oleh Bambang Joko Susilo, simak cerita dongeng nusantara yang berjudul Asal Usul Surabaya.
Dahulu kala, di wilayah sebelah utara Jawa Timur, hiduplah seekor buaya raksasa yang ganas dan menakutkan bernama Baya. Ia dikenal sebagai penguasa sungai dan menjadi pemangsa yang sangat ditakuti oleh seluruh binatang di hutan sekitar sungai. Kepandaiannya berburu membuat sungai itu seolah tak berani dimasuki makhluk lain.
Sungai tempat Baya berkuasa bermuara ke laut yang luas. Di laut tersebut hiduplah seekor hiu ganas bernama Sura. Ia adalah penguasa laut yang ditakuti semua ikan. Namun, lama-kelamaan Sura merasa bosan karena setiap hari hanya memakan ikan.
Suatu hari, Sura naik ke sungai dan memangsa seekor anak kijang. Sejak saat itu, ia ketagihan berburu di sungai. Hari demi hari, ia kembali dan menikmati banyak mangsa. Akibatnya, Baya mulai kesulitan mendapatkan makanan dan merasa curiga.
Kecurigaan Baya terjawab ketika ia melihat Sura sedang menangkap seekor anak monyet di sungai. Amarah pun memuncak.
"Hei Sura, apa yang kau lakukan di sini? Ini wilayah kekuasaanku. Berani-beraninya kau merebut makananku," bentak Baya dengan geram.
Sura sama sekali tidak gentar menghadapi Baya. Ia justru menantangnya dengan angkuh.
"Aku bebas mencari makan di mana pun. Sungai ini bukan hanya milikmu," jawab Sura dengan santai.
Pertarungan pun tak terelakkan. Keduanya saling menyerang dengan kekuatan yang seimbang. Perkelahian berlangsung berhari-hari hingga membuat seluruh binatang di hutan ketakutan dan tidak bisa hidup dengan tenang.
Akhirnya, karena sama-sama kelelahan dan tidak ada yang menang maupun kalah, mereka sepakat menghentikan pertarungan.
"Sura, sebaiknya kita akhiri saja perkelahian ini. Aku sudah lelah," kata Baya.
"Aku juga," sahut Sura.
"Kita batasi wilayah berburu. Muara sungai ini menjadi batasnya. Jangan sampai kau melanggarnya," tegas Baya.
"Baik, aku setuju," jawab Sura.
Sejak saat itu, hutan kembali tenang. Namun, setelah berbulan-bulan berlalu, Sura kembali gelisah. Ia rindu memakan daging kijang. Diam-diam, ia melanggar perjanjian dan kembali berburu di sungai tanpa sepengetahuan Baya.
Baya kembali curiga karena mangsanya berkurang. Ia pun menyusun siasat dengan menjadikan seekor kijang terluka sebagai umpan. Benar saja, Sura muncul dan hendak membawa kijang itu ke laut.
Saat itulah Baya menghadangnya dengan amarah yang memuncak.
"Kamu benar-benar serakah dan tak tahu malu, Sura," hardik Baya.
"Kalau kau mau, berburu saja di laut. Aku tidak melarangmu," balas Sura dengan enteng.
Perdebatan itu berakhir dengan pertarungan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Air sungai memerah oleh darah mereka. Dalam pertempuran sengit itu, ekor Baya tergigit hingga membengkok ke kiri, sementara ekor Sura hampir putus. Sura akhirnya kembali ke laut, sedangkan Baya berhasil mempertahankan wilayahnya.
Kisah pertarungan antara Sura dan Baya inilah yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat. Dari cerita tersebut, lahirlah nama Surabaya yang dihubungkan dengan sosok ikan hiu Sura dan buaya Baya, yang hingga kini menjadi lambang Kota Surabaya.
Pesan moral: Dongeng ini mengajarkan bahwa keserakahan dan keinginan untuk menang sendiri hanya akan membawa pertikaian dan kerugian.
10. Cerita Dongeng Timun Mas
Cerita Nusantara Timun Mas/ Foto: HaiBunda/ Mia Kurnia Sari |
Cerita dongeng yang berjudul Timun Mas ini dikutip dari buku Timun Emas Seri Cerita Rakyat Balai Pustaka oleh Bening Sanubari.
Pada suatu hari, di sebuah desa di Jawa Tengah, hiduplah seorang janda paruh baya bernama Mbok Srini. Ia tinggal seorang diri karena suaminya telah lama meninggal dan ia tidak memiliki anak. Hari-harinya terasa sepi dan membosankan karena tidak ada siapa pun yang menemaninya.
Sejak lama, Mbok Srini sangat mendambakan kehadiran seorang anak. Namun, keinginannya itu tak pernah terwujud. Setiap pagi, siang, dan malam, ia tak pernah berhenti berdoa kepada Tuhan agar suatu hari ia diberi anugerah seorang anak.
Suatu malam, Mbok Srini bermimpi didatangi seorang raksasa yang memintanya mengambil sebuah bungkusan di bawah pohon besar di hutan tempat ia biasa mencari kayu bakar. Keesokan harinya, meski diliputi rasa ragu, Mbok Srini mengikuti petunjuk dalam mimpinya dan pergi ke hutan.
Di bawah pohon besar itu, Mbok Srini menemukan sebuah bungkusan. Ia berharap di dalamnya terdapat seorang bayi, tetapi yang ia temukan hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun diliputi rasa kecewa dan sedih.
Tiba-tiba, muncul seorang raksasa yang tertawa keras di hadapannya. Mbok Srini terkejut dan ketakutan, karena ia mengira akan dimakan oleh raksasa tersebut.
"Apa maksudmu memberikanku sebutir biji timun?" tanya Mbok Srini dengan suara gemetar.
Raksasa itu menenangkan Mbok Srini dan berjanji tidak akan menyakitinya. Ia meminta Mbok Srini menanam biji timun tersebut. Raksasa itu mengatakan bahwa dari biji itu akan lahir seorang anak perempuan, tetapi kelak anak tersebut harus diserahkan kembali kepadanya. Karena sangat menginginkan seorang anak, Mbok Srini pun menyetujui perjanjian itu.
Setibanya di rumah, Mbok Srini menanam biji timun tersebut di ladang dan merawatnya dengan penuh kasih. Beberapa bulan kemudian, tanaman itu berbuah satu timun besar berwarna kuning keemasan yang tampak sangat indah.
Saat timun itu dibelah, muncullah seorang bayi perempuan yang cantik. Mbok Srini sangat bahagia mendengar tangisan bayi itu dan menamainya Timun Mas. Ia membesarkan Timun Mas dengan penuh cinta hingga anak itu tumbuh menjadi gadis yang baik, cerdas, dan berbudi luhur.
Suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi raksasa yang mengingatkan janjinya. Raksasa itu berkata akan menjemput Timun Mas dalam waktu satu minggu.
"Bersiaplah, sebentar lagi aku akan datang menjemput anak itu," ujar raksasa dalam mimpi Mbok Srini.
Sejak saat itu, Mbok Srini sering termenung dan menangis diam-diam. Timun Mas yang melihat ibunya bersedih pun bertanya.
"Ibu, mengapa akhir-akhir ini Ibu sering menangis?" tanya Timun Mas dengan lembut.
Akhirnya, Mbok Srini menceritakan asal-usul kelahiran Timun Mas dan perjanjian dengan raksasa. Timun Mas pun merasa sedih dan tidak ingin meninggalkan ibunya. Mereka lalu memikirkan cara agar bisa terbebas dari raksasa.
Ketika hari penjemputan tiba, Mbok Srini menyuruh Timun Mas berpura-pura sakit untuk menunda kedatangan raksasa. Cara itu berhasil mengulur waktu, tetapi Mbok Srini tahu mereka harus segera mencari jalan keluar.
Keesokan harinya, Mbok Srini menemui seorang pertapa di gunung, sahabat mendiang suaminya. Ia menceritakan semua kesulitannya dan meminta pertolongan. Sang pertapa memberikan empat bungkusan kecil berisi biji timun, jarum, garam, dan terasi, serta berpesan agar benda-benda itu digunakan saat raksasa mengejar Timun Mas.
Beberapa hari kemudian, raksasa datang kembali. Timun Mas pun berlari sekuat tenaga, sementara raksasa mengejarnya. Dalam pelarian, Timun Mas menaburkan biji timun yang berubah menjadi ladang timun luas dan menghalangi langkah raksasa. Namun, raksasa itu masih bisa lolos.
Timun Mas lalu menebarkan jarum yang berubah menjadi hutan bambu runcing. Meski terluka, raksasa tetap mengejar. Garam pun ditebarkan hingga berubah menjadi lautan luas, tetapi raksasa masih mampu melewatinya.
Dengan sisa harapan, Timun Mas melemparkan bungkusan terakhir berisi terasi. Seketika, tanah berubah menjadi lautan lumpur mendidih. Raksasa terperosok ke dalamnya dan akhirnya binasa.
Timun Mas segera kembali ke rumah dan memeluk Mbok Srini. Dengan penuh syukur, Mbok Srini berterima kasih kepada Tuhan. Sejak saat itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup bahagia dan tenteram bersama.
Pesan moral: Cerita dongeng ini mengajarkan kita bahwa kasih sayang, keberanian, dan kecerdikan bisa mengalahkan kejahatan.
11. Cerita Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih
Dilansir dari buku Dogeng Nusantara favorit karya Fajriatur Nur, simak cerita dongeng penuh makna yang berjudul Bawang Merah dan Bawang Putih.
Di kaki sebuah gunung yang dialiri sungai jernih, hiduplah sebuah keluarga kecil yang rukun dan damai. Mereka memiliki seorang putri yang cantik dan berhati lembut bernama Bawang Putih.
Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibu Bawang Putih jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sejak saat itu, Bawang Putih hanya tinggal bersama ayahnya.
Ayah Bawang Putih bekerja sebagai pedagang dan sering bepergian jauh. Karena tidak tega meninggalkan putrinya sendirian, ia memutuskan menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki seorang anak perempuan bernama Bawang Merah.
"Mulai sekarang, kamu punya ibu dan kakak tiri. Namanya Bawang Merah," ucap sang Ayah.
Awalnya, Bawang Putih merasa senang karena memiliki keluarga baru. Ibu tiri dan Bawang Merah terlihat ramah dan manis kepadanya. Namun sikap itu hanya mereka tunjukkan saat Ayahnya berada di rumah.
Ketika sang Ayah pergi berdagang, sikap mereka berubah drastis. Bawang Putih dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah seorang diri. Ia diperlakukan seperti pembantu tanpa diberi waktu istirahat yang cukup.
Tak lama kemudian, Ayah Bawang Putih jatuh sakit dan meninggal dunia. Sejak saat itu, perlakuan ibu tiri dan Bawang Merah menjadi semakin kejam.
"Mulai sekarang, semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawabmu setiap hari," kata ibu tirinya.
Setiap hari, Bawang Putih harus melayani semua kebutuhan mereka. Hingga suatu pagi, saat mencuci pakaian di sungai, selendang kesayangan Bawang Merah terbawa arus tanpa disadari.
"Kakak, maaf, selendangmu hanyut di sungai," ujar Bawang Putih dengan cemas.
Bawang Merah langsung marah dan menyalahkan Bawang Putih. Ia menyuruhnya mencari selendang itu dan melarangnya pulang sebelum menemukannya. Bawang Putih pun menyusuri sungai hingga hari mulai gelap. Dalam kelelahan, ia menemukan sebuah gubuk kecil yang dihuni oleh seorang nenek tua yang hidup sendirian.
Bawang Putih meminta izin untuk bermalam. Sang nenek dengan baik hati mempersilakannya masuk dan mendengarkan kisah hidup Bawang Putih dengan penuh iba.
Ternyata, nenek itulah yang menemukan selendang Bawang Merah. Namun, ia bersedia mengembalikannya dengan syarat Bawang Putih menemaninya selama satu minggu. Bawang Putih menerima permintaan itu dengan tulus. Selama tinggal di sana, ia membantu semua pekerjaan nenek dengan rajin dan penuh kesabaran.
Setelah seminggu berlalu, nenek mengizinkan Bawang Putih pulang. Ia mengembalikan selendang tersebut dan memberikan hadiah berupa dua buah labu.
Bawang Putih diminta memilih salah satu labu. Dengan rendah hati, ia memilih labu yang kecil karena khawatir tidak sanggup membawa yang besar.
Sesampainya di rumah, Bawang Putih menyerahkan selendang itu kepada Bawang Merah. Saat labu dibelah di dapur, ia terkejut karena labu kecil itu berisi emas dan permata.
Tanpa sengaja, ibu tirinya melihat kejadian tersebut. Dengan rakus, ia merampas emas itu dan memaksa Bawang Putih menceritakan asal labu ajaib tersebut.
Keesokan harinya, ibu tiri menyuruh Bawang Merah melakukan hal yang sama. Ia berharap anaknya akan membawa pulang labu yang lebih besar dan lebih berharga.
Bawang Merah pun pergi ke gubuk nenek dan tinggal selama seminggu. Namun, ia tidak mau membantu dan hanya bermalas malasan sepanjang hari. Saat hendak pulang, nenek memberikan pilihan labu. Tanpa ragu, Bawang Merah mengambil labu terbesar dan langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih.
Setibanya di rumah, ibu tiri sangat gembira melihat labu besar tersebut. Mereka menyuruh Bawang Putih pergi mencuci di sungai agar tidak ikut melihat. Dengan penuh harap, mereka membelah labu itu. Namun yang keluar bukan emas, melainkan ular, kalajengking, dan berbagai hewan berbisa.
Hewan hewan itu menyerang Bawang Merah dan ibunya. Dalam ketakutan dan penyesalan, mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan selama ini.
Akhirnya, mereka meminta maaf kepada Bawang Putih dan berjanji untuk berubah.
Pesan moral: Kebaikan, kesabaran, dan ketulusan hati akan selalu membawa kebahagiaan. Sebaliknya, keserakahan dan kejahatan hanya akan mendatangkan penyesalan.
12. Cerita Dongeng Asal Mula Selat Bali
Menilik dari buku Dongeng Nusantara oleh Bambang Joko Susilo, berikut ini cerita dongeng nusantara tentang Asal Mula Selat Bali.
Dahulu kala, hiduplah seorang brahmana di Kerajaan Daha, Kediri. Brahmana atau pemuka agama itu bernama Empu Sidi Mantra. Ia sangat dihormati oleh masyarakat karena sakti mandraguna. Hidupnya tenang, damai, dan kaya raya. Ia memiliki seorang putra yang tampan dan gagah bernama Manik Angkeran.
Sayangnya, Manik adalah penjudi. Ia suka berjudi dan sialnya, sering kalah. Hingga suatu saat, ia kebingungan membayar utang dan diburu untuk dibunuh. Ia pun mengadu pada Ayahnya, Empu Sidi Mantra. Kebaikan hati sang Ayah membuat Manik segera bisa melunasi utangnya.
Empu Sidi Mantra kemudian meminta petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar ia bisa melunasi utang anaknya. Saat tengah malam, ia mendengar suara yang sangat jelas. Ia diminta pergi ke kawah Gunung Agung dan menemui Naga Besukih, karena ada harta karun di sana.
Sesampainya di sana, ia bertemu Naga Besukih. Ia pun mengabulkan permintaan hartanya dengan syarat Manik harus berhenti judi. Karena uangnya terlalu banyak tersisa, Manik pun kumat. Ia berjudi dan kalah lagi. Kali ini, Manik yang menemui Naga Besukih, seorang diri.
Bukannya meminta dengan baik, ia malah memotong ekor Naga Besukih. Sontak naga langsung membunuh Manik. Sang Ayah pun mencari putranya yang tiba-tiba menghilang. Naga Besukih kemudian mengaku kalau ia membunuh Manik. Ia bisa menghidupkan Manik lagi, dengan syarat Manik tak bisa ikut dengan Ayahnya.
Di perjalanan, sang Ayah menorehkan tongkat saktinya di tanah. Namun, goresan tongkatnya justru bertambah lebar hingga membuat tanah terbelah dan diisi air laut. Hingga akhirnya menjadi selat yang disebut Selat Bali.
Pesan moral: Jauhi kebiasaan yang membuat rugi. Jangan lah juga berbohong kepada orang tua.
13. Cerita Dongeng dari Jambi: Putri Tangguk
Dikutip dari buku 101 Dongeng Sebelum Tidur oleh Redy Kuswanto, simak cerita dongeng nusantara yang penuh makna tentang Putri Tangguk.
Putri Tangguk hidup bersama suami dan tujuh orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia dan suaminya menanam padi di sawah yang luasnya hanya sebesar tangguk, yaitu keranjang yang terbuat dari rotan. Meskipun kecil, sawah itu mampu menghasilkan padi dalam jumlah yang sangat banyak.
Setiap kali dipanen, padi di sawah itu selalu tumbuh kembali dan menguning. Setelah dipanen, padi kembali tumbuh, begitu seterusnya tanpa henti. Hal ini membuat Putri Tangguk sangat sibuk hingga ia sering lupa mengurus anak anaknya dan jarang bergaul dengan tetangga.
Suatu pagi setelah sarapan, Putri Tangguk bersama suami dan ketujuh anaknya berangkat ke sawah. Di tengah perjalanan, Putri Tangguk tiba tiba terpeleset dan jatuh. Ia pun menjadi marah dan kesal.
"Baiklah, nanti setelah menuai padi, aku akan menyerakkan padi padi di jalan ini agar tidak licin lagi," ucap Putri Tangguk.
Setelah panen, hampir seluruh padi yang mereka bawa diserakkan di jalan. Jalan itu memang menjadi tidak licin lagi. Namun sejak kejadian tersebut, Putri Tangguk tidak pernah menuai padi kembali.
Ia mengisi hari harinya dengan menenun kain. Kesibukan menenun justru semakin menyita waktunya. Ia tetap tidak sempat mengurus anak anaknya dan semakin jarang berinteraksi dengan tetangga.
Suatu malam, Putri Tangguk menenun hingga larut. Karena kelelahan, ia tertidur dan lupa menanak nasi. Tengah malam, anak anaknya terbangun satu per satu karena lapar. Putri Tangguk masih sempat membujuk mereka untuk tidur kembali.
Namun, ketika anak sulungnya bangun dan meminta makan, Putri Tangguk justru memarahinya.
"Kamu sudah besar. Ambil sendiri nasi di panci. Kalau tidak ada, ambil beras dan masak sendiri. Jika tidak ada beras, ambil padi di lumbung dan tumbuk sendiri," serunya.
Anak sulung itu pun menuruti perkataan ibunya. Namun, ia tidak menemukan nasi di panci maupun beras di kaleng. Ia segera menuju lumbung, tetapi tidak menemukan apa pun.
Ia pun kembali melapor kepada ibunya. Mendengar hal itu, sang suami segera pergi ke lumbung. Dengan perasaan panik, ia memeriksa satu per satu lumbung padi. Setelah semuanya dibuka, tidak sebutir pun padi tersisa.
Putri Tangguk pun yakin bahwa ada orang yang telah mencuri beras dan padi di lumbung mereka.
Keesokan harinya, Putri Tangguk dan keluarganya kembali pergi ke sawah untuk memanen. Namun, tidak ada satu batang padi pun yang tumbuh. Sawah itu hanya dipenuhi rumput rumput liar.
Mereka pulang ke rumah dengan perasaan sedih dan kecewa. Karena kelelahan, Putri Tangguk tertidur dan bermimpi pada malam harinya.
"Wahai Putri Tangguk. Aku tahu kamu memiliki sawah seluas tangguk, tetapi hasilnya mampu memenuhi lumbung lumbung yang besar. Namun, kamu bersifat sombong dan takabur. Kamu menyerakkan padi padi di jalanan. Ketahuilah, di antara padi yang kamu tabur terdapat sebatang padi hitam, raja kami. Kami tidak bisa menerima perbuatanmu. Kami tidak akan tumbuh lagi di sawahmu. Mulai sekarang, kamu harus bekerja keras seperti ayam. Kamu harus mengais-ngais terlebih dahulu sebelum bisa makan," tutur Raja Padi.
Putri Tangguk terbangun dengan perasaan sangat sedih. Ia akhirnya menyadari kesalahannya, bahwa selama ini ia telah bersikap sombong dan tidak bersyukur atas rezeki yang diberikan kepadanya.
Pesan moral: Kita harus rendah hati dan mensyukuri apa yang kita miliki.
14. Cerita Dongeng dari Sumatera Selatan: Si Pahit Lidah
Cerita dongeng penuh makna tentang Si Pahit Lidah dikutip dari buku 101 Dongeng Sebelum Tidur karya Redy Kuswanto.
Di Kerajaan Sumidang hiduplah seorang pangeran bernama Serunting. Ia memiliki seorang istri dan seorang adik ipar bernama Aria Tebing. Serunting dan Aria Tebing mempunyai ladang yang dipisahkan oleh pepohonan.
Di bawah pepohonan itu tumbuh cendawan. Cendawan yang menghadap ke ladang milik Aria Tebing berubah menjadi logam emas, sedangkan yang menghadap ke ladang Serunting justru menjadi tanaman hama.
Serunting merasa iri atas keadaan tersebut. Ia pun menantang Aria Tebing untuk berduel. Tentu saja Aria Tebing menolak karena Serunting adalah kakak iparnya yang terkenal sakti. Namun, Aria Tebing tetap berjaga-jaga dan bertanya kepada kakaknya tentang kelemahan Serunting.
"Apa kelemahan Serunting?" tanyanya.
"Ia bisa dikalahkan dengan ilalang yang bergetar," jawab sang kakak.
Akhirnya, Serunting pun kalah dalam duel itu. Merasa dikhianati, ia memilih pergi dan bertapa di Gunung Siguntang.
Dua tahun kemudian, Serunting memperoleh kesaktian yang luar biasa. Setiap kata yang diucapkannya dapat menjadi kenyataan berupa kutukan. Suatu hari, ia berniat kembali ke kampung halamannya. Dalam perjalanan, ia mencoba kesaktiannya dengan mengutuk sebuah pohon hingga berubah menjadi batu.
"Jadilah batu!" ucapnya sambil menunjuk pohon tersebut.
Sekejap saja, pohon itu berubah menjadi batu. Sejak saat itu, nama Serunting semakin dikenal oleh banyak orang.
Namun, kesaktiannya membuat Serunting menjadi sombong. Masyarakat menjulukinya sebagai Si Pahit Lidah. Saat tiba di Bukit Serut yang gundul, Serunting menyadari kesalahannya.
Ia pun mengubah bukit tersebut menjadi hutan yang rimbun. Masyarakat sekitar berterima kasih karena hutan itu dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dalam perjalanannya, Serunting sampai di Desa Karang Agung. Di sana, ia bertemu dengan sepasang suami istri tua yang sangat mendambakan kehadiran seorang anak.
"Kami sangat ingin mempunyai anak," ucap pasangan itu.
Serunting mengabulkan permohonan mereka dengan mengubah sehelai rambut sang nenek menjadi seorang bayi. Ia merasa bahagia karena bisa membantu sesama. Sejak saat itu, Serunting belajar menggunakan kesaktiannya untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. Kata-kata kutukan dari mulutnya pun berubah menjadi ucapan yang membawa kebaikan.
Pesan moral: Sudah seharusnya ilmu menjadikan kita lebih bijak. Ilmu yang kita miliki harus digunakan untuk membantu sesama.
15. Cerita dongeng Legenda Dewi Anjani
Cerita dongeng nusantara ini dikutip dari buku Koleksi Terbaik 100 Plus Dongeng Rakyat Nusantara karya Gamal Komandoko.
Sejak dahulu, masyarakat Lombok mengenal sebuah kisah sakral tentang sosok Dewi Anjani, penjaga alam yang dipercaya bersemayam di Gunung Rinjani. Legenda ini berawal dari seorang putri raja yang hidup di sebuah kerajaan besar dan dikenal akan kecantikannya serta kelembutan hatinya.
Walau tumbuh dalam kemewahan istana, Dewi Anjani justru lebih senang menghabiskan waktu di alam. Ia kerap menyusuri hutan, bercengkerama dengan pepohonan, dan bermain di sungai karena merasa alam adalah tempat yang paling menenangkan baginya.
Suatu hari, takdirnya berubah ketika ia menemukan sebuah mata air suci di tengah hutan. Menurut cerita para leluhur, mata air tersebut merupakan anugerah para dewa yang hanya bisa dijumpai oleh mereka yang berhati bersih.
Didorong rasa ingin tahu, Dewi Anjani meminum air dari mata air itu. Tanpa disangka, air tersebut mengubah wujudnya menjadi makhluk gaib dan menghilangkan tubuh manusianya, sekaligus memberinya kekuatan spiritual yang sangat besar.
Setelah peristiwa itu, para dewa mengangkat Dewi Anjani sebagai penjaga Gunung Rinjani. Ia diberi amanah untuk melindungi alam gunung, menjaga sumber-sumber air, serta memastikan kesuciannya tetap terpelihara dari tangan manusia.
Masyarakat meyakini Dewi Anjani masih bersemayam di sekitar Gunung Rinjani, terutama di Danau Segara Anak yang dipercaya sebagai tempat peristirahatannya.
Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat Sasak menggelar ritual mulang pekelem, yaitu upacara adat yang ditujukan kepada Dewi Anjani demi menjaga keseimbangan alam di kawasan Rinjani.
Dalam ritual tersebut, persembahan berupa ayam hitam dan emas kecil dilarungkan ke danau sebagai lambang rasa syukur dan penghormatan kepada sang penjaga gunung.
Pesan moral: Cerita dongeng nusantara berjudul Dewi Anjani mengajarkan kita untuk mencintai dan menjaga alam dengan rasa hormat.
Itulah cerita dongeng nusantara yang penuh makna yang bisa diceritakan ke anak. Ada favorit Bunda dan Si Kecil?
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
10 Cerita Dongeng Zaman Dahulu Kala, Kaya Pesan Moral untuk Diceritakan Sebelum Tidur
Parenting
Cerita Rakyat Angling Dharma, Kisah Raja Bijaksana untuk Didongengkan ke Anak
Parenting
Mengenal Dongeng Sage yang Bisa Bunda Ceritakan pada Anak
Parenting
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Ada Keong Mas dan Timun Mas
Parenting
5 Cerita Pendek Anak Nusantara, Sarat Pesan Moral untuk Si Kecil
7 Foto
Parenting
7 Potret Keseruan Festival Pokemon Jakarta, Atraksi Seru Buat Isi Libur Sekolah
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Cerita Nusantara Keong Mas/Foto: HaiBunda/ Mia Kurnia Sari
Cerita Nusantara Timun Mas/ Foto: HaiBunda/ Mia Kurnia Sari
50 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna dan Mendidik
25 Cerita Sejarah Indonesia Singkat yang Menarik untuk Diceritakan ke Anak
10 Cerita Dongeng Zaman Dahulu Kala, Kaya Pesan Moral untuk Diceritakan Sebelum Tidur