Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

11 Tanda Roommate Parenting yang Bisa Membuat Anak Depresi, Tak Sadar Sering Dilakukan

Kinan   |   HaiBunda

Selasa, 13 Jan 2026 09:30 WIB

Cara Mengatasi saat Anak Bersikap Manipulatif
Ilustrasi gaya parenting anak/Foto: Getty Images/iStockphoto/interstid
Daftar Isi
Jakarta -

Pernahkah Bunda mendengar tentang istilah roommate parenting? Terkesan santai, tapi sebenarnya diam-diam bisa bikin anak berisiko depresi.

Ya, saat ini pola pengasuhan anak memang terus mengalami pergeseran seiring perubahan gaya hidup dan kemajuan teknologi. Salah satu yang sedang banyak dibicarakan adalah roommate parenting.

Secara garis besar, pola asuh ini banyak terjadi pada orang tua yang terlalu sibuk, sehingga jarang berinteraksi dengan anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Meski tinggal di rumah yang sama, anak dan orang tua seakan menjalani kehidupan terpisah. Minimnya bonding dan ikatan emosional membuat hubungan ini lebih mirip seperti 'teman serumah' dibandingkan 'keluarga'.

Hal inilah yang kemudian membuat pola asuh demikian disebut sebagai istilah roommate parenting, Bunda.

Apa itu roommate parenting?

Menurut psikolog Deborah Vinall, roommate parenting adalah istilah gaya pengasuhan di mana orang tua tidak terlibat atau 'lepas tangan' terhadap anak. 

Mereka memperlakukan anak lebih seperti teman serumah, dibandingkan sebagai sosok yang bergantung dan membutuhkan pengasuhan, bimbingan, serta aturan.

Walaupun istilah ini baru populer belakangan, namun sebenarnya cara mengasuh yang demikian sudah lama ada. Kurangnya keterlibatan orang tua memang bisa membuat anak menjadi lebih mandiri di usia dini, namun bukan berarti tanpa risiko.

Menurut Vinall, pola asuh ini rentan membuat anak mengalami kecemasan, depresi, rendah harga diri, penurunan prestasi akademik, serta kesulitan membangun hubungan sosial di kemudian hari.

Tanda-tanda roommate parenting

Nah, mungkinkah Bunda dan anak di rumah tanpa sadar menjalani roommate parenting? Cari tahu tanda-tandanya dalam ulasan berikut ini:

1. Tidak makan bersama di rumah

Psikolog Brandy Smith menjelaskan memang terkadang ada beberapa alasan mengapa keluarga memutuskan untuk tidak makan bersama, misalnya karena kesibukan masing-masing. Namun menurut Smith, itu bukan masalah utamanya.

"Tidak selalu waktu makan dilakukan bersama sebagai keluarga. Namun jika secara konsisten makan sendiri-sendiri, terutama jika tidak ada kesibukan, hal ini bisa menjadi indikator pola asuh yang keliru," ujarnya.

2. Orang tua tidak mengetahui aktivitas anak

Orang tua tipe 'roommate' sering kali tidak tahu mengapa anaknya tidak ikut makan malam di rumah atau pulang terlambat.

"Meskipun orang tua mungkin tidak tahu setiap detail kehidupan anaknya, setidaknya mereka tahu ekskul atau hobi apa yang diikuti anak di sekolah," imbuh Vinall.

3. Waktu dihabiskan secara terpisah

Jika orang tua dan anak menghabiskan sebagian besar waktu di rumah di ruangan yang berbeda, ini bisa menjadi salah satu tanda roommate parenting. Sekali lagi, yang penting adalah konsistensinya.

Vinall menegaskan sebenarnya memang penting, terutama bagi remaja untuk memiliki ruang pribadi sebagai tempat untuk dirinya sendiri. 

Namun, hubungan yang sehat antara orang tua dan anak juga ditandai dengan rasa nyaman dan keinginan untuk menghabiskan waktu bersantai bersama.

4. Ada di ruangan yang sama, tapi tidak berinteraksi

Salah satu tanda roommate parenting berikutnya adalah orang tua dan anak berada di ruangan yang sama, tapi tidak ada interaksi. Baik berupa kegiatan bersama, maupun sekadar obrolan.

Orang tua dan anak justru asyik dengan aktivitas masing-masing, terutama seperti bermain ponsel.

"Tidak ada yang salah jika hal ini dilakukan sesekali, tetapi jika menjadi kebiasaan dan bukan pengecualian, ini patut diperhatikan," imbuh Smith.

5. Orang tua tak terlibat dengan akademik anak

Ketika orang tua memperhatikan pola belajar atau kegiatan anak di sekolah, mereka biasanya akan lebih interaktif saat bertemu guru di sekolah. 

Hal ini karena orang tua peduli dengan kemajuan atau pun hambatan yang mungkin sedang dialami oleh anak di sekolah. Sebaliknya, orang tua yang tak mau terlibat dengan perkembangan akademik cenderung seperti tidak mengenal potensi anak.

6. Orang tua enggan hadir di sekolah

"Orang tua tipe roommate umumnya tidak mau berurusan dengan sekolah. Mereka melihat sekolah sebagai dinamika yang harus ditangani antara murid dan guru serta meremehkan pentingnya keterlibatan dirinya," tegas Vinall.

7. Melimpahkan tanggung jawab pada anak tertua

Dampak dari roommate parenting tidak hanya dirasakan oleh guru atau pihak sekolah, tapi juga persaudaraan anak di rumah, Bunda.

Orang tua cenderung melimpahkan tanggung jawab pengasuhan kepada anak yang lebih tua. Mereka memperlakukan anak tertua seperti pengganti, sehingga tidak perlu menjalani perannya sebagai orang tua.

8. Tidak tertarik pada minat anak

Anak merasa diperhatikan ketika orang tua menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang mereka sukai, seperti ikut bermain gim favorit atau bernyanyi bersama lagu idola mereka. 

Nah, orang tua dengan pola asuh roommate parenting biasanya sulit melakukan ini karena satu alasan penting: mereka tidak benar-benar tahu seperti apa anak sebagai pribadi atau apa minat mereka.

Akibatnya, orang tua dan anak jarang bercanda atau melakukan hal-hal menyenangkan bersama.

9. Jarang bertanya pada anak

Bukan bertanya seperti menginterogasi ya, Bunda. Namun, faktanya beberapa pertanyaan perlu diajukan untuk membangun koneksi, termasuk pada hubungan antara orang tua dan anak. 

Pertanyaan menunjukkan ketertarikan, terutama ketika disesuaikan dengan pribadi anak dan apa yang sedang terjadi dalam hidup mereka.

10. Terlalu sering membiarkan anak mengurus dirinya sendiri

'Terlalu sering' di sini berarti melebihi usia kronologis anak dan harapan perkembangan yang seharusnya masih dalam batas wajar.

"Mendukung kemandirian adalah bagian dari pengasuhan, tetapi terlalu sering menyuruh anak untuk 'berjuang' sendiri bukanlah pengasuhan," pesan Smith.

11. Anak punya lebih banyak keterampilan hidup dibandingkan teman sebayanya

Menurut Vinall, keterampilan hidup yang dimiliki anak dari orang tua tipe roommate sering kali membuat mereka terlihat lebih 'unggul' dibandingkan teman sebayanya.

Misalnya, mereka sudah mampu mencuci pakaian, menyiapkan pakaian, atau bahkan menggunakan transportasi umum, di saat teman-temannya mungkin belum mampu.

Meskipun hal ini terlihat baik, tapi ada baiknya mempertimbangkan berapa banyak tanda roommate parenting lainnya yang ada. Jika anak mampu melakukan hal-hal ini karena orang tua tidak mengasuh dengan baik, maka ini bisa menjadi masalah.

Seperti apa dampak buruk roommate parenting?

Dengan meningkatnya tanggung jawab di rumah dan kurangnya ikatan emosional dengan orang tua, perkembangan dan perilaku anak rentan terganggu.

Psikolog klinis, Becca Ballinger menyebutkan bahwa sebenarnya sangat mudah untuk terjebak menjadi 'teman serumah' bagi anak di tengah berbagai tekanan kehidupan sehari-hari.

"Jika merasa terjebak dalam kebiasaan buruk menjadi 'teman serumah' alih-alih orang tuanya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi perilaku yang perlu diubah," pesan Ballinger, dikutip dari Good to Know.

Selanjutnya, ciptakan kebiasaan yang konsisten dan idealnya setiap hari, untuk berinteraksi dengan anak.

Itulah penjelasan tentang apa itu roommate parenting dan tanda-tandanya. Jika dikenali lebih awal, pola asuh ini bisa diubah demi tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak yang lebih baik.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda