Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Mengenal Craniosynostosis, Kelainan Ubun-ubun Kepala yang Dialami Bayi Cantik Rana Asal Jatim

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Senin, 26 Jan 2026 18:30 WIB

Mengenal Craniosynostosis
Mengenal Craniosynostosis kepala bayi/ Foto: Getty Images/ia_64
Daftar Isi

Baru-baru ini sebuah kabar tentang bayi cantik berusia 9 bulan, bernama Rana viral menjadi sorotan publik. Tak hanya wajah cantiknya yang menjadi perhatian, kondisi kesehatannya juga menyita atensi dari masyarakat biasa hingga pakar medis.

Melalui media sosial, beberapa kali sang ibu memberikan update kondisi Rana yang tengah berjuang melawan penyakit langka yang diidapnya. Diketahui bayi asal Jawa Timur ini menderita kelainan pada otak yang bernama craniosynostosis.

Craniosynostosis merupakan kondisi di mana tulang tengkorak bayi menutup lebih cepat sebelum otak terbentuk sepenuhnya. Kondisi ini pula membuat Rana sering kali mengalami kejang, bahkan tercatat pernah hingga 50 kali dalam sehari. 

Mengutip penjelasan di laman Kemenkes, fenomena ini memang sangat langka. Pasalnya, tengkorak bayi yang baru lahir memang pada umumnya masih lunak. Namun, kasus Rana ini membuka mata bahwa ada kondisi tertentu yang membuat tengkorak bayi yang bisa mengeras dengan cepat. 

Mengenal craniosynostosis menurut para ahli

Melansir dari Mayo Clinic, craniosynostosis merupakan kondisi kelainan sendi di antara tulang tengkorak bayi yang menutup terlalu cepat sebelum otak sepenuhnya terbentuk. Pasalnya, sendi tersebut umumnya masih dapat tumbuh seiring pertumbuhan otak bayi, dan tertutup ketika otak sudah sempurna.

Penutupan sendi tengkorak karena craniosynostosis akan membuat ubun-ubun bayi menutup lebih cepat sehingga menyebabkan otak tidak tumbuh dengan sempurna. Selain itu, akibat otak yang terus mendorong tulang tengkorak, maka bentuk kepala bayi menjadi tidak proporsional.

Craniosynostosis bisa diobati melalui operasi untuk membentuk kembali tengkorak. Tulang tengkorak yang sudah diperbaiki ini diharapkan dapat membuat otak bayi memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh dan berkembang.

Ketahui gejala craniosynostosis sejak dini

Orang tua tentu bisa mewaspadai kondisi ini sejak lahir, Bunda. Sebab, perbedaan yang mencolok sangat terlihat selama beberapa bulan pertama kehidupan bayi. Gejala yang dialami pun bergantung pada tingkat keparahan sendi yang menutup.

  1. Tengkorak dengan bentuk yang tidak biasa. Biasanya, ini tergantung pada sendi mana yang tertutup.
  2. Perubahan yang membuat fitur wajah dan telinga tidak seimbang, seperti posisi mata yang tinggi sebelah.
  3. Terdapat tonjolan yang keras di sepanjang sendi tengkorak yang tertutup.

Bunda juga bisa mewaspadai gejalanya berdasarkan jenis-jenis craniosynostosis seperti di bawah ini.

  1. Sagital, sendi pada bagian sagital tertutup terlalu dini yang membuat kepala cenderung tumbuh panjang dan sempit.
  2. Koronal, apabila penutupan sendi terjadi pada bagian koronal, maka kepala akan terlihat pendek dan lebar, serta dahi menjadi rata di satu sisi dan menonjol di sisi lainnya.
  3. Metopik, ciri khas apabila penutupan sendi terjadi pada bagian metopik adalah dahi yang membentuk segitiga dan kepala bagian kepala melebar.
  4. Lambdoid, penutupan sendi pada bagian lambdoid ini menyebabkan efek yang sangat kompleks. Ini akan membuat wajah tidak proporsional, seperti satu sisi terlihat rata, telinga tinggi sebelah, dan kepala bagian atas miring ke satu sisi.

Penyebab craniosynostosis

Mungkin Bunda bertanya-tanya, apa yang sebenarnya menyebabkan anak mengidap kondisi tersebut. Namun, penelitian belum dapat menemukan secara pasti penyebab craniosynostosis.

Craniosynostosis non sindromik

Ini merupakan tipe yang paling umum, Bunda. Meskipun penyebabnya belum diketahui, setidaknya peneliti menganggap tipe ini disebabkan karena campuran faktor genetik dan lingkungan.

Sindrom craniosynostosis

Peneliti menyebut tipe ini disebabkan oleh perubahan gen tertentu yang mengarahkan kepada sindrom genetik dan memengaruhi perkembangan tengkorak bayi. Misalnya, sindrom Apert, sindrom Pfeiffer, dan sindrom Crouzon.

Dampak dan risiko craniosynostosis

Craniosynostosis yang dibiarkan dapat menyebabkan beberapa dampak seperti, tekanan di dalam rongga kepala, perubahan bentuk kepala dan wajah secara permanen, serta hilangnya kepercayaan diri dari penyintasnya.

Mengingat jenis craniosynostosis beragam, maka penanganan dan perawatan yang dibutuhkan juga berbeda. Jika tidak diobati, tekanan yang terdapat di dalam tengkorak bisa menyebabkan kebutaan, kejang, masalah memori, hingga terhambatnya perkembangan otak.

Demikian informasi ini disampaikan. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan para orang tua mengenai kelainan langka pertumbuhan tulang tengkorak atau craniosynostosis yang dialami oleh Rana.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda