PARENTING
7 Kesalahan Parenting yang Tak Akan Dilakukan Psikolog Anak
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Sabtu, 07 Mar 2026 10:15 WIBSetiap hari, orang tua dihadapkan pada keputusan kecil dan besar soal anak, setuju tidak, Bunda? Apa yang tampak sederhana terkadang tidak semudah yang dibayangkan.
Seperti yang kita tahu bahwa tren parenting anak kini terus berubah dan tak semuanya cocok untuk setiap keluarga. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih cara terbaik.
Berkaitan dengan ini, para psikolog anak memiliki panduan jelas tentang pola parenting yang sehat. Lewat panduan ini, orang tua bisa memahami cara mendidik anak dengan kasih sayang dan aturan yang tepat.
Meski begitu, setiap keluarga tentu saja berbeda dan keputusan akhir tetap ada di tangan orang tua. Nah, yang paling penting adalah fokus pada tumbuh kembang anak.
Selain itu, ada beberapa kesalahan parenting yang dihindari oleh psikolog anak. Simak berikut ini sebagai inspirasi dalam mengasuh Si Kecil.
Kesalahan parenting yang tak akan dilakukan psikolog anak
Dilansir dari laman Parade, ada beberapa kesalahan parenting yang tidak akan dilakukan oleh para psikolog anak:
1. Meminta anak bertingkah seperti dewasa
Anak-anak tetaplah anak-anak, bukan versi mini dari orang dewasa. Oleh karena itu, kita harus selalu memperlakukan mereka sesuai dengan usianya, terutama saat mereka sedang mengekspresikan dirinya.
Seorang psikolog anak asal Amerika Serikat, Dr. Carrie Anne Dittner, PhD, mengatakan bahwa anak boleh merasa kesal, dan itu bukan berarti mereka tidak menghormati Bunda atau Ayahnya.
"Mereka boleh merasa kesal, mengeluh, dan mengamuk," katanya.
"Itu tidak selalu berarti tidak menghormati, itu wajar. Orang dewasa pun mengalami hari-hari seperti itu!" lanjutnya.
2. Mengatur teman anak
Wajar sekali kalau Bunda dan Ayah ingin anak berteman dengan orang yang baik. Namun, terlalu mengatur teman anak justru bisa terasa mengontrol dan kurang baik bagi perkembangan mereka.
Psikolog Dittner mengatakan bahwa jika orang tua membesarkan anak dengan nilai-nilai keluarga, sebaiknya Bunda juga mempercayai kemampuan anak.
"Jika orang tua membesarkan mereka dengan nilai-nilai keluarga dan mengajarkan mereka untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab, percayalah pada mereka," tutur Dittner.
"Mereka mungkin akan melakukan kesalahan, dan itu adalah pengalaman berharga dalam hubungan dan penyelesaian konflik seumur hidup," jelasnya.
3. Memberi gadget sebelum anak siap
Anak-anak sekarang tak jarang mendapatkan gadget di usia yang lebih muda, Bunda. Meskipun hal ini sudah umum, sebaiknya orang tua menunggu sampai anak benar-benar siap.
Seorang psikolog di Coping Resource Center, Dr. Francesca Penner Lord, PhD, Amerika Serikat, menuturkan bahwa meski gadget penting untuk komunikasi, orang tua perlu membatasi akses anak dengan bijak.
"Meskipun gadget penting untuk komunikasi dan keselamatan anak, batasi penggunaannya sampai benar-benar diperlukan. Buat aturan jelas, seperti jam penggunaan dan perilaku yang bisa membuat akses dicabut agar anak terhindar dari perundungan daring, hal berisiko, dan gangguan sekolah atau aktivitas penting lainnya," ujarnya.
Maka dari itu, ia menyarankan supaya Bunda dan Ayah tidak memberikan terlalu banyak waktu menonton layar kepada anak, terlebih lagi kalau mereka masih kecil.
4. Mengabaikan perilaku baik anak
Sering kali kita terlalu fokus memperbaiki perilaku yang salah dan lupa memberikan pujian saat anak melakukan hal yang baik. Padahal, memuji anak itu sama pentingnya dengan mengoreksi kesalahan mereka, lho.
"Memuji anak-anak dan remaja ketika mereka mendengarkan, berusaha, berhasil, atau melakukan hal baik yang ingin kita dorong, sangat penting. Hal ini juga bisa membuat hubungan antara orang tua dan anak jadi lebih positif," ungkap Francesca.
5. Membuat aturan tanpa menjelaskan alasannya
Bunda mungkin pernah mengatakan, 'Karena saya bilang begitu' atau 'Karena saya orang tua'. Sebenarnya ini wajar saja karena kita sebagai orang tua biasanya lebih tahu dan ingin anak patuh tanpa banyak bertanya.
Namun, tidak menjelaskan alasan di balik aturan adalah hal yang dihindari oleh para psikolog. Anak-anak butuh mengerti 'mengapa' supaya mereka bisa belajar dari aturan itu, bukan sekadar hanya menuruti.
Ketika Bunda dan Ayah memberikan penjelasan, anak jadi lebih paham dan bisa mengikuti aturannya dengan baik. Menjelaskan alasan pun tidak harus panjang ya, Bunda.
Cukup beri pemahaman yang mudah dipahami dan anak akan merasa didengar sekaligus tahu apa yang diharapkan darinya.
6. Melindungi anak dari semua perasaan negatif
Tak jarang, orang tua ingin anaknya selalu bahagia dan tidak merasakan emosi negatif. Padahal, merasa sedih, kecewa, atau marah adalah hal yang normal dan bahkan bermanfaat untuk perkembangan mereka.
Hal yang sama berlaku untuk kekalahan, misalnya saat anak kalah dalam permainan. Tidak apa-apa, bahkan bagus, bagi mereka untuk merasakan kekalahan sesekali dan belajar dari hal itu.
Anak mungkin akan mengalami sakit hati, marah, atau sedih, dan itu sebenarnya merupakan bagian dari proses belajarnya, Bunda. Belajar menghadapi emosi sejak kecil membuat mereka jadi lebih siap untuk mengatur perasaannya saat dewasa nanti.
7. Menghukum anak
Psikolog Dittner memahami bahwa hukuman tidak selalu disukai, tapi dia tetap percaya ada cara lain untuk membantu anak belajar. Mereka bisa belajar dari pengalaman dan bimbingan tanpa harus dihukum secara langsung.
Contohnya, anak tidak mengerjakan PR saat di rumah. Daripada mengambil gadget atau menghukumnya, sebaiknya biarkan mereka merasakan konsekuensinya, misalnya anak mendapat nilai yang lebih rendah di sekolah.
Dengan begitu, anak akan belajar tanggung jawab dan mulai mengerti akibat dari tindakannya sendiri. Bunda pun bisa membimbing mereka dengan sabar sambil memberinya kesempatan belajar dari pengalamannya.
Itulah penjelasan mengenai beberapa kesalahan parenting yang biasa dihindari oleh psikolog anak.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)