PARENTING
Dampak Psikologi Anak Perempuan yang Ditinggal Meninggal Sang Bunda di Usia Muda
Indah Ramadhani | HaiBunda
Kamis, 26 Mar 2026 13:20 WIBSetiap anak dapat merasakan kesedihan yang mendalam ketika kehilangan sosok ibu. Tak sedikit, dampak psikologi pada anak yang ditinggal mati ibunya dapat mempengaruhi mental, fisik, hingga perkembangannya di masa depan.
Seperti yang kita tahu, anak-anak umumnya belum begitu memahami konsep kehilangan dan kematian. Karena terbatasnya kemampuan untuk memahami dan mengungkapkan emosi, anak pun kerap berekspresi melalui perubahan perilaku.
Pada sebagian anak, dampak psikologi yang terjadi bisa sangat beragam. Namun, menurut Psychology Today, dampak psikologinya cenderung lebih hebat pada anak perempuan karena mereka memiliki ikatan yang lebih kuat dengan ibunya.
Nah, untuk mengetahui dampaknya lebih lanjut, simak informasi lengkapnya berikut ini, Bunda.
Bagaimana pengaruh ikatan ibu dan anak perempuan
Bagaimana anak perempuan tumbuh dan berkembang, sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan sang ibu. Hal ini dikarenakan anak perempuan cenderung mengikuti kepribadian, didikan, dan kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan oleh ibunya.
Berbeda dengan anak perempuan, anak laki-laki biasanya tidak terlalu dekat atau mengikuti kepribadian ibunya. Tak heran, ikatan antara ibu dan anak perempuan menjadi sangat kuat, sehingga berpisah dengan sang ibu akan memberikan dampak psikologis yang cukup besar.
Apa yang terjadi ketika ibu meninggalkan anak perempuannya
Kehilangan sosok ibu yang sangat dicintai bahkan terasa seperti kehilangan separuh dari diri kita. Ketika sosok tersebut tidak lagi ada, sering kali anak perempuan terpaksa tumbuh menjadi versi dirinya yang lebih kuat untuk melanjutkan hidup.
Tak jarang, karena panjang dan rumitnya proses menerima kenyataan, kondisi kesehatan mental dan fisik anak perempuan menjadi terganggu. Namun, satu yang perlu diingat, rasa sakit dan luka tersebut tentu akan berangsur membaik seiring berjalannya waktu.
Dampak psikologi anak yang ditinggal mati ibunya berdasarkan usia
Berdasarkan pengamatan ahli dari Child Bereavement UK, dampak psikologi yang ditimbulkan setiap anak tentu akan berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh bagaimana kemampuan anak memahami konsep kematian serta cara mereka mengekspresikan perasaan.
Berikut penjelasan lengkapnya, Bunda.
1. Bayi dan balita
Bayi dan balita belum memahami arti kehilangan, Bunda. Namun, mereka dapat merasakan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, seperti hilangnya sosok yang biasanya mengasuh, mengajak bermain, atau menyuapi makanan.
Ketika ibu meninggal, bayi mungkin saja merasakan suasana yang sedikit berbeda di rumah karena melihat anggota keluarga lain menunjukkan ekspresi sedih atau menangis. Hal ini dapat membuat bayi dan balita menjadi lebih rewel dan sulit ditenangkan.
Selain itu, bayi mungkin mengalami gangguan tidur, pola makan, atau lebih manja dari biasanya. Pada bayi berusia delapan bulan, mereka mulai memiliki ingatan tentang orang terdekat, sehingga memungkinkan mereka merindukan sosok tersebut, Bunda.
2. Anak 2-5 tahun
Pada usia ini, anak mulai mengetahui arti dari kehilangan. Biasanya melalui cerita hewan atau dongeng yang mereka dengar. Namun, mereka belum begitu memahami bahwa kematian merupakan kehilangan yang tidak akan pernah kembali.
Oleh karena itu, anak mungkin akan sering bertanya mengenai keberadaan ibunya atau kapan ibunya akan kembali. Anak usia 2-5 tahun dapat mengalami gangguan emosional, seperti kecemasan atau ketergantungan pada orang dewasa di sekitarnya.
3. Anak 5-7 tahun
Anak di usia ini sudah mulai mengerti bagaimana arti kehilangan yang disebabkan kematian. Namun, mereka menjadi lebih sensitif dan peka, sehingga cenderung merasa kematian orang terdekat ada kaitan dengan dirinya.
Hal ini membuat mereka merasa harus menebus kesalahan tersebut, Bunda. Dengan begitu, mereka akan berusaha menjadi anak yang berbeda atau mencoba mengambil peran sebagai pengasuh bagi anggota keluarga lain.
4. Anak 9-12 tahun
Pada usia ini, anak mulai memahami bahwa sang ibu sudah tidak dapat kembali menemaninya. Meskipun mereka mampu memahami perasaan tersebut, anak usia 9-12 tahun terkadang sulit untuk mengungkapkan emosinya karena takut membuat orang lain sedih.
Akibat dari memendam perasaan sendirian, anak menjadi mudah sedih, menarik diri, atau mengalami berbagai keluhan fisik, seperti sakit kepala dan sakit perut. Sebagian anak juga merasa cemas akan kehilangan orang lain atau teman-teman sebayanya.
5. Anak remaja
Anak remaja mulai memiliki pemahaman tentang kehilangan dan kematian seperti orang dewasa. Mereka sadar bahwa kehilangan seorang ibu dapat memengaruhi kehidupannya, baik saat itu maupun di masa depan.
Kehilangan sosok ibu saat mereka sedang mencari jati diri tentu merupakan hal yang sulit. Anak remaja menjadi kesulitan untuk mengungkapkan perasaan atau menunjukkan kesedihannya secara terang-terangan.
Inilah yang membuat anak remaja menjadi lebih tertutup, sulit berkomunikasi, atau mudah marah. Sebaliknya, terdapat pula anak remaja yang berusaha menyibukkan diri dengan beragam aktivitas untuk mengalihkan perhatian dan kesedihannya.
Demikian penjelasan mengenai dampak psikologi anak yang ditinggal mati ibunya. Semoga informasinya bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Manfaat Pelukan untuk Anak, Bisa Membangun Ikatan Batin Bun
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Fase Kritis dalam Perkembangan Otak Si Kecil, Bunda Perlu Tahu
Waspada! Terlihat Aman, 5 Benda di Rumah yang Sering Jadi Penyebab Bayi Terluka
Apakah Anak Angkat Bisa Mendapatkan Harta Warisan? Simak Menurut Hukum Islam
Ingin Tetap Dekat dengan Anak hingga Dewasa? Lakukan 7 Hal Ini
TERPOPULER
Bukan Antisosial, Ini 5 Ciri Kepribadian Orang yang Lebih Nyaman Berinteraksi dengan Anjing Peliharaan
Keseruan Keluarga Mona Ratuliu Liburan ke Disneyland Hong Kong, Ajak Anak hingga Cucu
Posisi Misionaris untuk Gaya Berhubungan saat Hamil Trimester Kedua, Amankah?
Resep Sayur Asem Segar dan Gurih, Lengkap dengan Bumbu dan Cara Membuatnya
5 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Bikin Ketombe Makin Parah
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Stick Foundation Terbaik untuk Makeup Flawless dan Tahan Lama
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Wadah Beras Terbaik, Kedap Udara dan Anti Beras Apek
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kipas Portable dengan Angin Kencang, Praktis Dibawa ke Mana Saja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Eye Patch untuk Mata Lelah dan Panda, Bikin Tampilan Lebih Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Harga Kulkas Termahal dan Fitur di Baliknya
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Bukan Antisosial, Ini 5 Ciri Kepribadian Orang yang Lebih Nyaman Berinteraksi dengan Anjing Peliharaan
Posisi Misionaris untuk Gaya Berhubungan saat Hamil Trimester Kedua, Amankah?
Keseruan Keluarga Mona Ratuliu Liburan ke Disneyland Hong Kong, Ajak Anak hingga Cucu
Ungkapan Haru Ferdy Hasan Dampingi Sang Putra yang Berkebutuhan Khusus Wisuda S1, Bangga Bun
Resep Sayur Asem Segar dan Gurih, Lengkap dengan Bumbu dan Cara Membuatnya
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Bingung Pilih TV 43 Inci? Ini Perbedaan Full HD dan 4K
-
Beautynesia
Mulai Besok! Ini 7 Manfaat Rutin Makan Pisang untuk Sarapan Setiap Hari
-
Female Daily
House of Dove 2026 Hadir di PIM 2, Intip 5 Activity Seru untuk Kenali Kebutuhan Hair, Body, dan Underarm!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Gaya Kantoran a la Raline Shah yang Putuskan Mundur Jadi Stafsus Menkomdigi
-
Mommies Daily
Perbedaan Tantrum, Meltdown, dan Overload pada Anak: Kenali 5 Cirinya