sign up SIGN UP search


parenting

Kenali 13 Karakteristik Anak Usia Dini demi Mendukung Perkembangannya

Annisa Afani Kamis, 15 Oct 2020 07:00 WIB
Ilustrasi anak mendengarkan musik caption
Jakarta -

Anak usia dini merupakan masa di mana dia berada pada fase emas atau golden age karena berkembang dengan pesat, Bunda. Pada fase ini, anak akan menampilkan beberapa karakter yang mencerminkan dirinya, baik yang natural, maupun dari apa yang dilihat atau pelajari di lingkungan sekitarnya.

Menurut Undang-undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 tahun 2003 Pasal 28 ayat 1, rentangan anak usia dini adalah 0-6 tahun. Ini tergambar dalam pernyataan yang berbunyi, "Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut."

Sementara itu, menurut Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pengertian anak usia dini sama seperti yang tertulis dalam UU Sisdiknas. Pada usia ini, anak memiliki karakter yang berbeda dengan anak pada usia yang lebih besar.


Karakter anak usia Dini

Karakter adalah watak, sifat atau hal-hal yang sangat mendasar pada diri seseorang, yang membedakan dengan lainnya. Anak-anak usia dini memiliki karakter yang beragam.

Mengutip dari How To Adult serta modul Hakikat Anak Usia Dini karya Dr. Sri Tatminingsih, M.Pd dan Iin Cintasih, S.Pd., M.Pd, berikut beberapa karakteristik yang dimiliki anak usia dini:

1. Bersifat unik

Setiap anak berbeda, Bunda. Masing-masing dari mereka memiliki ciri, minat, kesukaan, latar belakang, dan budaya yang berbeda, sehingga tak ada yang dapat dikatakan 'mirip'.

Keunikan anak juga dapat dilihat dari kemampuan, cara belajar, dan hal-hal yang mampu menarik perhatiannya. Meski dalam satu kelompok anak mempelajari sesuatu dengan cara yang sama dan terprediksi, mereka tetap unik karena punya pola perkembangan yang berbeda satu sama lainnya.

2. Bersifat spontan

Anak usia dini tak pandai berpura-pura, Bunda. Biasanya mereka cenderung bersikap spontan dan apa adanya. Anak juga tak akan berpikir untuk mengungkapkan apa yang dirasakan, dan yang dipikiran tanpa memperdulikan pendapat orang lain.

3. Ceroboh

Dengan sifat spontan yang dimilikinya, anak juga cenderung tak mempertimbangkan tindakan yang akan diambil. Jika ingin sesuatu, dia akan melakukannya saat itu juga meskipun hal tersebut akan melukainya.

4. Aktif dan energik

Bukan hal aneh jika melihat anak usia dini memiliki energi yang tak ada habisnya, Bunda. Mereka akan terus bergerak ke sana ke mari dan hanya diam saat tertidur.

5. Egois

Anak usia dini akan memikirkan apapun berdasarkan cara pandang dan pengetahuannya, Bunda. Dia juga menganggap apapun yang disukai dan diinginkan menjadi miliknya.

6. Pemarah

Perkembangan emosional dan sosial anak usia dini belum stabil. Dia bisa marah dengan mudah dan mengekspresikannya dengan bebas.

"Anak mungkin lebih sering marah, lebih cepat merasa frustrasi, atau mungkin terlalu bersemangat dibandingkan dengan teman-temannya. Meskipun tidak ada yang salah dengan anak yang terlalu emosional, hal itu dapat membuat hidup mereka sedikit lebih sulit," kata psikoterapis Amy Morin, LCSW, dikutip dari Very Well Family.

7. Penasaran

Rasa ingin tahu anak usia dini begitu besar, Bunda. Dia akan selalu bertanya dan mencari tahu jawaban dari segala hal yang membuatnya penasaran. Anak usia dini dengan rasa penasaran yang tinggi ini bagus, sehingga dia akan selalu menambah dan mengembangkan kemampuan kognitifnya dengan lebih baik.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus berhati-hati saat menjawab pertanyaan anak. Jangan sampai jawaban yang kita berikan dipahami dengan salah paham dan diaplikasi dalam kesehariannya.

8. Kemampuan mengingat terbatas

Secara intelektual, anak usia dini akan sadar akan dunia yang dijalani. Dia akan mengingat objek yang menarik perhatiannya, menjadi akrab dan mengetahui bagian tubuh, serta siapa saja yang menjadi anggotanya.

Meskipun rentang ingatan anak usia dini masih terbatas, Bunda bisa membantunya dengan mengingatkannya berulang kali.

9. Berjiwa petualang

Dengan rasa penasaran yang tinggi, hal ini membuat anak usia dini memiliki minat untuk mengeksplor benda dan lingkungan sekitarnya.

"Objek apa pun dalam jangkauan anak akan menjadi permainan untuk eksplorasi," kata ahli parenting serta terapis anak dan keluarga, Meri Wallace LCSW, dikutip dari Psychology Today

10. Memiliki imajinasi dan fantasi yang tinggi

Perlu untuk diketahui bahwa daya imajinasi dan fantasi anak usia dini sangat tinggi, Bunda. Sehingga tidak perlu menganggap anak sebagai pembohong atau pembual, ya. Agar anak tak salah persepsi dengan pikirannya, Bunda perlu membimbingnya dan mengingatkan hal-hal yang sebenarnya.

11. Mahir berkata-kata

Anak usia dini akan punya kemampuan untuk lebih mahir dalam mengucapkan kata-kata, Bunda. Mereka akan sangat pandai mengoceh dan meniru suara-suara seperti anjing atau kucing. Saat kemampuannya semakin berkembang, anak akan mulai membentuk lebih banyak kalimat setiap kali berbicara.

12. Mudah frustrasi dan tidak sabar

Di usianya yang masih dini, anak cenderung mudah putus asa, frustrasi, dan mudah kehabisan kesabaran terhadap sesuatu yang dianggapnya sulit, Bunda. Saat sesuatu membuat anak tak nyaman, anak akan segera meninggalkannya dan mencari hal baru yang lebih menyenangkan.

13. Sulit diajak fokus

Rentang perhatian anak usia dini tidak terlalu panjang, biasanya hanya berkisar 10 menit saja. Oleh sebab itulah mengapa ia tidak bisa diam dan sulit diajak fokus pada kegiatan yang membutuhkan ketenangan.

Jika sesuatu yang dilakukan terlalu monoton, maka anak akan selalu cepat mengalihkan perhatian pada kegiatan lainnya, kecuali jika kegiatan tersebut sangat menyenangkan.

Cara membangun karakter anak usia dini

Karakter memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Nah, untuk membangun atau membentuk karakter perlu dilakukan sejak anak usia dini.

Ada dua faktor yang memengaruhi pembentukan karakter, yaitu bawaan dari dalam diri dan pandangan anak terhadap dunia yang dimilikinya, seperti pengetahuan, pengalaman, prinsip moral yang diterima, bimbingan, pengarahan, serta interaksi antara orang tua dan anak.

Peran Bunda dan Ayah sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Karena itu, untuk membangun karakter yang baik, ada beberapa cara yang perlu Ayah dan Bunda terapkan.

Mengutip dari Seri Bacaan Orang Tua: Membangun Karakter Anak Usia Dini di laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), berikut cara membangun karakter anak usia dini:

1. Menegakkan disiplin

Mendisiplinkan anak bisa Ayah dan Bunda lakukan sejak dini. Hal yang menjadi perhatian untuk ini ialah dengan mengenalkan apa saja yang menjadi batasan, dan tanggung jawabnya. Ini bisa diajarkan dengan memberikan contoh secara langsung, sehingga dia tak merasa dilarang.

Ayah dan Bunda juga perlu memiliki dan menampilkan sikap tak berubah. Jika hari ini anak diajarkan untuk tidak bersikap terhadap sesuatu, maka di waktu lainnya pun tetap konsisten.

Dalam mendidik anak untuk disiplin, Ayah dan Bunda tidak perlu bersikap keras. Karena jika hal ini terjadi, maka disiplin yang diajarkan hanya bersifat semu, dan hanya diterapkan saat anak berada dalam pengawasan Ayah dan Bunda.

Meski begitu, Ayah dan Bunda tidak pula harus bersikap lunak karena pada akhirnya akan membuat anak menganggap disiplin yang diajarkan sebagai hal remeh, dan membuatnya bersikap acuh tak acuh.

2. Terlibat dalam pembangunan karakter anak

Setiap orang tua sepenuhnya ingin melihat bagaimana karakter anaknya tumbuh. Oleh karenanya, ayah dan Bunda perlu untuk secara langsung membangun dengan mempraktekkan secara langsung hal-hal yang ingin diajarkan padanya.

Misal, untuk menjaga kebersihan rumah, ajaklah anak untuk bersih-bersih bersama. Atau, untuk mengajarkan sikap jujur, saat menemukan barang orang lain di jalan, ajak anak untuk mengembalikan pada pemiliknya.

Dengan contoh yang diaplikasikan secara langsung tersebut, anak akan terus menirunya dan menjadikan kebiasaan.

3. Menjadi contoh baik bagi anak

Anak cenderung meniru apa yang dilihat dari lingkungan, terutama orang tuanya. Oleh sebab itu, Ayah dan Bunda perlu menjaga sikap dan perilaku agar anak tidak meniru hal-hal di luar norma kehidupan sehari-hari.

4. Menumbuhkan nilai-nilai moral pada anak

Selain memberikan contoh yang baik secara langsung pada anak, Ayah dan Bunda juga perlu menumbuhkan nilai-nilai moral dalam kesehariannya. Untuk itu, Ayah dan Bunda bisa mengajak anak untuk mengobrol dan bertukar pikiran untuk mengetahui sampai mana batas pemahamannya terhadap nilai-nilai yang diajarkan.

Bunda, simak juga hal yang ditakutkan oleh Chua 'Kotak' dalam mendidik anak di era digital dalam Intimate Interview bersama HaiBunda berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi