PARENTING
9 Ciri Orang Dewasa Pernah Dipermalukan saat Kecil Menurut Psikolog Anak
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Selasa, 14 Apr 2026 18:50 WIBMasa kecil menjadi kenangan yang paling dirindukan saat kita sudah dewasa. Banyak momen yang terasa begitu menyenangkan ya, Bunda. Tidak perlu memikirkan pekerjaan, bisa bermain sepuasnya, dan menjalani hari tanpa adanya beban.
Namun di balik itu semua, tidak setiap anak merasakan masa kecil yang benar-benar bahagia. Ada anak yang tumbuh dengan perasaan kurang nyaman terhadap dirinya sendiri.
Salah satu pengalaman yang cukup berpengaruh adalah ketika anak pernah merasa dipermalukan. Pengalaman seperti ini mungkin terlihat biasa saja, tapi bisa meninggalkan kesan yang cukup dalam bagi mereka.
Bicara soal ini, seorang psikolog klinis anak dan pemilik Watch Hill Therapy, Dr. Jennifer Rolnick, PsyD, mengatakan bahwa rasa malu bisa membuat seseorang merasa tidak berharga, tidak diterima, bahkan merasa ada yang salah dalam dirinya.
"Anak tersebut mungkin merasa 'tidak dapat diterima' atau 'tidak berharga'. Hal ini juga terjadi pada seorang anak berkulit hitam, yang mungkin merasa malu sebagai akibat dari rasisme. Anak-anak juga mungkin merasa salah, tidak dilihat, atau diabaikan," ungkapnya, dikutip dari laman Yahoo Health.
Dari pengalaman seperti inilah, kemudian terbentuk berbagai pola dalam diri seseorang saat sudah dewasa. Yuk, kita pahami lebih lanjut bagaimana ciri orang dewasa yang pernah dipermalukan saat kecil berikut ini.
Ciri-ciri orang dewasa yang pernah dipermalukan saat kecil menurut psikolog anak
Menilik dari laman Yahoo Health, psikolog anak membagikan ciri-ciri yang kerap terlihat pada orang dewasa yang pernah mengalami pengalaman dipermalukan saat masih kecil. Simak penjelasan lengkapnya:
1. Mereka terlalu keras pada diri sendiri
Orang dewasa yang pernah dipermalukan saat kecil biasanya tumbuh dengan standar yang tinggi terhadap dirinya sendiri. Mereka sering merasa harus selalu melakukan yang terbaik dalam segala hal, Bunda.
Rolnick menjelaskan bahwa hal tersebut kemungkinan besar berasal dari luar, seperti dari orang dewasa yang sering mengkritik atau meremehkan, lalu tersimpan dalam diri seseorang.
"Suara itu kemungkinan besar berasal dari luar, dari orang dewasa yang kritis atau meremehkan, yang akhirnya terinternalisasi," katanya.
2. Cenderung mengutamakan orang lain dan mengabaikan diri sendiri
Tidak sedikit orang dewasa yang selalu berusaha menyenangkan orang lain. Sikap ini kerap muncul sebagai bentuk perlindungan diri dari pengalaman masa kecil, Bunda.
Saat masih anak-anak, mereka melihat bahwa mengekspresikan emosi justru bisa menimbulkan masalah. Karena itu, mereka memilih menahan perasaan dan mengikuti apa yang diharapkan oleh orang lain.
Kebiasaan tersebut perlahan terbawa hingga dewasa dan terasa seperti hal yang wajar. Mereka jadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, tapi sering lupa pada dirinya sendiri, Bunda.
3. Sulit merasa nyaman dalam hubungan yang dekat
Bagi sebagian orang, memiliki hubungan dekat dengan orang lain bisa terasa menenangkan. Namun, bagi mereka yang pernah dipermalukan saat kecil, hal ini tidak selalu terasa mudah.
Pengalaman masa lalu membuat mereka jadi lebih berhati-hati saat membuka diri. Akibatnya, mereka cenderung menjaga jarak dalam hubungan, bahkan dengan orang terdekat.
"Di kemudian hari, hal itu dapat terlihat seperti menjaga jarak dengan pasangan, mengharapkan penolakan, atau merasa panik ketika seseorang menjadi dekat secara emosional," lanjutnya.
4. Mereka adalah sosok yang perfeksionis
Selanjutnya, ada orang dewasa yang merasa harus terus mencapai sesuatu dalam hidupnya. Dorongan ini biasanya muncul karena pengalaman masa kecil yang membuat mereka merasa kurang dihargai, Bunda.
Perasaan malu terhadap kemampuan diri di masa lalu bisa memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri. Karena itu, mereka berusaha keras untuk membuktikan bahwa dirinya layak dan berharga.
Rolnick menyampaikan bahwa bagi sebagian orang, harga diri bisa terasa seperti sesuatu yang harus didapatkan dari apa yang mereka lakukan, sehingga pencapaian jadi cara untuk mendapatkan perhatian.
"Harga diri telah menjadi sesuatu yang Anda dapatkan sebagai imbalan atas sesuatu yang Anda lakukan (Saya dihargai ketika saya unggul). Itu menjadi cara untuk mendapatkan rasa aman atau untuk diperhatikan," ujarnya
5. Terlalu peka membaca perasaan orang lain
Sebagian orang dewasa memiliki kepekaan yang tinggi terhadap suasana hati orang lain. Mereka cenderung cepat menangkap perubahan kecil, baik dari ekspresi wajah maupun nada bicara.
Dari situ, mereka langsung mencoba membaca apa yang sedang dirasakan orang lain. Kebiasaan ini biasanya terbentuk sebagai cara untuk menghindari situasi yang tidak nyaman.
Mereka belajar untuk selalu 'hati-hati' supaya tidak kembali merasakan pengalaman yang menyakitkan. Bahkan, mereka bisa menyadari saat seseorang sedang kesal atau stres lebih dahulu.
6. Sering meminta maaf, bahkan untuk hal kecil
Ada orang dewasa yang terbiasa meminta maaf dalam berbagai situasi. Bahkan, untuk hal yang sebenarnya bukan kesalahannya, mereka tetap merasa perlu melakukannya, Bunda.
Contohnya, saat orang lain tidak sengaja menabraknya atau ketika sekadar meminta bantuan. Respons ini muncul begitu saja tanpa banyak dipikirkan.
Kebiasaan ini terbentuk dari pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan. Mereka pun tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya sering menjadi sumber masalah.
7. Takut menjadi pusat perhatian
Bagi sebagian orang, perhatian dari orang lain bisa terasa tidak nyaman. Hal ini kerap dialami oleh orang dewasa yang sejak kecil merasa dirinya adalah masalah.
Perasaan tersebut membuat mereka cenderung 'minder' saat harus tampil atau terlihat oleh orang lain. Bahkan dalam beberapa situasi, mereka bisa merasa canggung dan ingin menghindar.
Psikolog anak dan remaja sekaligus pemilik Fox Chapel Psychological Services, Dr. Deborah Gilman, PhD, menyampaikan bahwa menjadi diri sendiri bisa terasa seperti menunjukkan kelemahan, sehingga seseorang memilih menjaga jarak meski sebenarnya ingin dekat dengan orang lain.
"Keaslian terasa seperti terekspos. Kerentanan terasa seperti jebakan. Anda menjaga jarak dengan orang lain sambil diam-diam mendambakan koneksi," tuturnya.
8. Cenderung menutup diri dari orang lain
Berikutnya, ada orang dewasa yang terlihat pendiam dan tidak banyak bercerita tentang dirinya. Sikap ini bukan tanpa alasan, melainkan terbentuk dari pengalaman masa lalu.
Mereka cenderung berhati-hati saat ingin berbagi cerita atau membuka diri. Bahkan dengan orang terdekat sekalipun, mereka bisa tetap memilih menyimpan banyak hal sendiri.
Kalau Bunda punya teman yang jarang bicara soal kehidupannya, bisa jadi ada pengalaman yang membuatnya seperti itu. Salah satunya adalah pernah merasa dipermalukan saat masih kecil.
9. Emosi bisa muncul secara tiba-tiba
Sekilas, mereka mungkin terlihat pendiam dan selalu berusaha menjaga sikap. Mereka juga cenderung ingin menyenangkan orang lain agar situasi tetap terasa aman.
Namun, perasaan yang dipendam sejak lama tidak benar-benar hilang. Dalam kondisi tertentu, emosi tersebut bisa muncul secara tiba-tiba, Bunda.
Seorang psikolog anak dan remaja asal Amerika Serikat, Dr. Natalie K. Anderson, PhD, mengatakan bahwa rasa malu dapat membuat seseorang bereaksi dengan emosi yang kuat, terutama saat mereka menghadapi penolakan secara tiba-tiba.
"Karena rasa malu itu sangat menyakitkan, jika seseorang yang dipermalukan tidak dapat menghindari atau secara tak terduga menghadapi penolakan dalam bentuk apa pun, mereka mungkin bereaksi dengan ledakan emosi yang sangat kuat (Sering kali marah atau sedih) yang mungkin tampak mengejutkan bagi orang lain," jelas Anderson.
Cara menyembuhkan rasa malu akibat trauma masa kecil
Rasa malu yang berasal dari masa kecil tidak bisa dilepaskan begitu saja, Bunda. Karena sifatnya berkaitan dengan hubungan, proses penyembuhannya pun membutuhkan hubungan yang sehat.
Dalam hal ini, psikolog Anderson menuturkan bahwa cara mengatasi rasa malu adalah dengan berani terbuka, membagikan perasaan, dan tidak menyembunyikan pengalaman yang sulit.
"Penawar rasa malu adalah dengan merangkul kerentanan dengan berbagi dan membuka diri tentang perasaan dan pengalaman sulit daripada bersembunyi," katanya.
Memang saja, membuka diri itu tidak selalu mudah untuk dilakukan. Terlebih jika sejak kecil seseorang belum pernah merasakan hubungan yang benar-benar bisa dipercaya, seperti yang juga disampaikan oleh Dr. Jennifer Rolnick.
"Tantangannya adalah hubungan yang 'aman dan konsisten' tidak terasa dapat dipercaya karena seseorang tidak pernah memiliki pengalaman dengan hubungan yang sehat," jelasnya.
Meski begitu, bukan berarti hal ini tidak bisa diubah. Dengan melatih rasa sayang pada diri sendiri dan mencoba mencari bantuan profesional, proses penyembuhan tetap bisa diupayakan, Bunda.
Itulah penjelasan mengenai ciri orang dewasa yang pernah dipermalukan saat kecil menurut psikolog anak. Semoga informasinya dapat bermanfaat, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Tanpa Disadari, Anak yang Kurang Menarik Bisa Kurang Diperhatikan
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Ternyata Anak yang Pernah Dipukul Orang Tua Cenderung Mengulang Pola Kekerasan Sama pada Anaknya
Kisah Daniel Mananta Ditanya Anak soal Masa Kecil, Ngaku Hampir Jadi Pedagang
Ben Kasyafani Kenang Didikan Ibunda, Rela Tak Ganti Kerudung Demi Beli Susu Terbaik
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
TERPOPULER
Bukan Malas, Orang yang Tak Suka Olahraga Ternyata Berkaitan dengan Kepribadian
Momen Ultah Anzel Anak Audi Marissa & Anthony Xie, Foto Bertiga Jadi Sorotan
5 Potret Bunda Artis yang Disebut Bak Kakak-Adik dengan Anak Gadisnya
Risiko Thalasemia pada Anak Apakah Dapat Dicegah? Simak Penjelasannya Menurut Ahli
Artis Korea Park Shin Hye Umumkan Kehamilan Kedua, Bakal Jadi Bunda 2 Anak di 2026
REKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Mesin Cuci 2 Tabung yang Awet & Hemat Listrik di Bawah Rp2 Jutaan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Stainless Steel yang Bagus dan Tahan Lama
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Susu Ibu Hamil yang Bagus dan Rasanya Enak
Tim HaiBundaREKOMENDASI PRODUK
7 Sofa Minimalis Harga di Bawah Rp2 Jutaan yang Nyaman & Bagus
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Susu yang Bagus untuk Ibu Hamil dan Janin
Melly FebridaTERBARU DARI HAIBUNDA
Bukan Malas, Orang yang Tak Suka Olahraga Ternyata Berkaitan dengan Kepribadian
Momen Ultah Anzel Anak Audi Marissa & Anthony Xie, Foto Bertiga Jadi Sorotan
20 Tanaman Hias untuk Kamar Tidur yang Bikin Adem dan Aesthetic
Risiko Thalasemia pada Anak Apakah Dapat Dicegah? Simak Penjelasannya Menurut Ahli
Artis Korea Park Shin Hye Umumkan Kehamilan Kedua, Bakal Jadi Bunda 2 Anak di 2026
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Clara Shinta Gugat Cerai Suami Buntut VCS Bareng Wanita Lain
-
Beautynesia
Ini Profil dan Sumber Kekayaan Teuku Rassya, Putra Tamara Bleszynski yang Baru Resmi Menikah
-
Female Daily
Wonyoung IVE Debut Bareng Miu Miu Beauty Lewat Parfum Miutine
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Foto: Gaya Bintang di Coachella 2026, Inspirasi Outfit Nonton Festival Musik
-
Mommies Daily
Rekomendasi 12 Dokter Kandungan Perempuan di Indonesia: Nyaman, Aman, dan Lebih Relate