Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

11 Ciri Kepribadian Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua Moodyan

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Mar 2026 09:50 WIB

11 Ciri Kepribadian Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua Moodyan
Ilustrasi Ciri Kepribadian Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua Moodyan/Foto: Getty Images/iStockphoto/ake1150sb
Daftar Isi
Jakarta -

Tumbuh dengan orang tua yang mudah berubah suasana hati bisa jadi tantangan tersendiri bagi anak. Anak-anak kerap merasa canggung karena tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mereka biasanya terus berusaha menenangkan orang tua dan mencari cara supaya suasana hati tetap baik. Akibatnya, pengalaman ini bisa membentuk perilaku anak hingga mereka dewasa nanti.

Seorang psikoterapis asal Hong Kong, Imi Lo, menjelaskan kesulitan yang dialami anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan suasana hati tidak stabil.

"Mereka mencurahkan kasih sayang dan empati kepada Anda untuk sesaat, membuat Anda merasa diperhatikan dan disayangi," katanya, dikutip dari Your Tango.

"Selanjutnya, mereka meledak dalam badai amarah kekanak-kanakan, membuat Anda bingung dan ketakutan. Inilah kenyataan yang memilukan dari tumbuh dewasa dengan orang tua yang sangat tidak stabil," lanjutnya.

Saat menghadapi orang tua yang mood-nya berubah-ubah, anak biasanya belajar menyesuaikan diri. Bicara soal ini, ada beberapa ciri kepribadian anak yang dibesarkan oleh orang tua moody-an.

11 ciri kepribadian anak yang dibesarkan oleh orang tua moodyan

Ada beberapa ciri kepribadian yang biasanya dimiliki anak yang dibesarkan oleh orang tua moody-an. Berikut penjelasan lengkapnya seperti dikutip dari laman Your Tango.

1. Selalu berusaha menyenangkan orang lain

Anak yang tumbuh dengan orang tua yang mudah berubah suasana hati biasanya belajar untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain. Mereka terbiasa menghadapi perubahan dari orang tuanya.

Seorang psikolog klinis berlisensi asal Amerika Serikat, Sherry Pagoto, PhD, menyampaikan bahwa pengalaman anak menghadapi kritik atau hukuman yang keras di masa kecil bisa berdampak lama.

"Pengalaman awal dengan kritik atau hukuman yang keras dapat menyebabkan kecemasan yang signifikan saat mencoba suatu tugas. Meskipun orang tua yang memberikan kritik tersebut mungkin sudah tidak ada lagi dalam hidup, kecemasan adalah emosi yang dapat bertahan sangat lama," ujarnya.

Orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain kerap menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. Mereka memastikan orang lain bahagia sebelum memikirkan diri sendiri.

2. Terlalu banyak berpikir

Banyak anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan suasana hati yang moody-an akhirnya terbiasa terlalu banyak berpikir. Mereka selalu menilai setiap kata dan tindakan orang tua itu untuk menebak reaksi selanjutnya.

Psikoterapis asal Amerika Serikat, Amy Morin, LCSW, menjelaskan bahwa anak yang terlalu banyak berpikir sering kesulitan memfokuskan perhatian pada hal lain.

"Terlalu banyak berpikir melibatkan memikirkan suatu topik atau situasi secara berlebihan dan menganalisisnya dalam jangka waktu yang lama. Ketika anak terlalu banyak berpikir, mereka kesulitan untuk memfokuskan pikirannya pada hal lain," kata Morin.

3. Sulit menerima kekecewaan orang lain

Anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan suasana hati yang mudah berubah cenderung melakukan segala cara untuk membuat orang di sekitarnya senang. Mereka belajar sejak kecil bahwa membuat orang tua bahagia berarti harus menghindari rasa marah atau kecewa.

Tidak realistis memang ya, karena tidak ada yang bisa selalu menyenangkan orang lain. Tapi, kebiasaan ini bisa terus terbawa hingga mereka dewasa, lho.

4. Terlalu sering merasa bersalah

Selanjutnya, anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan suasana hati yang tidak stabil sering merasa harus menanggung semua kesalahan, meski itu bukan tanggung jawab mereka.

Saat Bunda dan Ayah mudah marah, anak pun belajar bahwa mereka yang harus menenangkan suasana, jadi wajar saja jika mereka merasa bersalah setiap kali ada masalah.

5. Memiliki empati yang tinggi

Mereka yang dibesarkan oleh orang tua moody-an biasanya tumbuh menjadi sosok yang sangat empati. Anak paham bagaimana rasanya terluka oleh orang yang dicintai, sehingga tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama.

Empati membuat anak memahami bahwa setiap orang punya masalah dan kesulitan masing-masing. Daripada bersikap dingin, anak cenderung memperlakukan orang lain dengan penuh kasih, meski terkadang terlalu berlebihan.

6. Selalu berhati-hati dan waspada

Berikutnya, anak yang dibesarkan oleh orang tua moody-an biasanya merasa seperti sedang berjalan di atas duri. Mereka selalu menunggu perubahan suasana hati berikutnya dan khawatir dengan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Rasa tidak nyaman ini membuat anak sulit merasa tenang, di mana pun mereka berada. Perasaan ini pun tidak hilang begitu saja dan sering terbawa hingga dewasa.

Karena terbiasa berhati-hati sejak kecil, anak juga akan waspada dalam hubungan dengan orang lain. Mereka takut orang yang mereka sayangi marah atau kecewa.

7. Sering mengantisipasi hal buruk

Sayangnya, anak yang dibesarkan oleh orang tua moody-an sering belajar untuk selalu mengantisipasi hal buruk. Mereka terbiasa menghadapi perubahan suasana hati orang tua dan mulai bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Pengalaman ini membuat anak merasa harus memikirkan hal-hal negatif terlebih dahulu. Lambat laun, kebiasaan ini membuat mereka selalu siap menghadapi kesulitan, bahkan sebelum hal itu terjadi.

8. Cenderung ingin mengendalikan semuanya

Anak yang tumbuh dengan orang tua moody-an biasanya ingin punya kendali saat dewasa. Saat anak masih kecil, banyak hal terasa di luar kendali mereka, jadi sekarang mereka ingin ikut campur supaya bisa mengatur apa yang terjadi di sekitarnya.

Kebiasaan ingin mengendalikan ini terjadi karena anak pernah hidup di lingkungan yang tidak stabil. Mereka ingin memastikan semuanya tetap berjalan dengan baik.

9. Rasa takut ditinggalkan

Mereka yang dibesarkan dengan orang tua moody-an suka merasa takut apakah dirinya cukup dicintai. Rasa takut inilah yang membuat mereka terlalu bergantung pada orang lain.

Sulit bagi mereka untuk merasa tenang karena kekhawatiran itu terus muncul. Hal ini terjadi karena masa kecilnya sendiri yang membentuk mereka harus merasa dicintai.

10. Mudah berubah suasana hati

Anak yang tumbuh dengan orang tua mudah berubah suasana hati biasanya berharap tidak akan seperti itu. Sayangnya, terkadang mereka justru meniru perilaku itu tanpa sadar.

Anak tidak ingin membuat orang di sekitarnya merasakan hal yang sama, tapi mereka sulit menghentikannya. Pola ini terbentuk sejak kecil dan bisa terbawa hingga mereka dewasa.

11. Pribadi yang tertutup

Sayangnya, anak yang tumbuh dengan orang tua mudah berubah suasana hati sering jadi lebih tertutup, Bunda. Mereka cenderung memendam perasaan dan terlihat dingin secara emosional.

Daripada mengekspresikan emosinya, anak lebih memilih menyembunyikannya. Akibatnya, mereka tampak seolah-olah tidak punya perasaan sama sekali.

Perilaku ini terjadi karena mereka ingin menghindari rasa sakit yang pernah dirasakan saat kecil. Meski tujuannya untuk melindungi diri, cara ini tidak sehat dan bisa menyulitkan hubungan dengan orang lain.

Demikian ulasan lengkap tentang ciri kepribadian anak yang dibesarkan oleh orang tua moody-an. Semoga penjelasannya bermanfaat, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda