parenting
5 Dongeng Panjang Petualangan untuk Diceritakan Sebelum Tidur ke Anak
HaiBunda
Senin, 20 Apr 2026 17:10 WIB
Daftar Isi
Membacakan dongeng untuk anak sebelum tidur punya banyak manfaat lho, Bunda. Nah, apa saja pilihan dongeng panjang petualangan untuk diceritakan pada Si Kecil?
Dikutip dari laman Kemenkes RI, dongeng termasuk dalam bentuk kisah yang disampaikan dengan lisan. Dongeng sendiri dipahami sebagai cerita imajiner yang tidak benar-benar terjadi, baik narator maupun pendengarnya.
Membacakan dongeng tak sekadar menghibur bagi anak, tapi juga punya banyak manfaat penting. Manfaat tersebut di antaranya menambah perkembangan bahasa dan bicara anak, serta meningkatkan bonding dengan orang tua.
Menurut peneliti dari National Institute of Child Health and Human Development, G. Reid Lyon, Ph.D, manfaat lain seperti peningkatan keterampilan logika dan menurunkan stres juga signifikan.Â
"Ada indikasi yang jelas tentang perbedaan neurologis antara anak-anak yang secara teratur dibacakan cerita dan yang tidak. Jadi kebiasaan ini sangat baik dilakukan secara rutin," ujar Lyon, seperti dikutip dari Parents.
5 Dongeng panjang petualangan untuk anak
Berikut beberapa pilihan dongeng panjang petualangan untuk diceritakan sebelum tidur ke anak:
1. Anak Pantai
Cerita ini dikutip dari buku 25 Cerita Kampung Dongeng oleh Kak Awam Prakoso.
Pagi yang cerah di sebuah desa di pinggir pantai pulau laut di Kalimantan Selatan. Daerah di mana penduduknya bekerja mencari ikan di laut.
Angin bertiup pelan memainkan rambut Sinta, gadis kecil yang tinggal bersama ayah dan ibunya di pinggir pantai. Sinta bermain sendiri di rumah karena hari Minggu sekolahnya libur.
"Bosan aku main sendiri. Lebih baik aku bermain ombak saja di pinggir pantai," kata Sinta seorang diri.
Sinta pun berjalan seorang diri menuju pantai yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Ia berjalan sambil bernyanyi dan menari.
Ketika sudah dekat dengan pantai, Sinta melihat seorang lelaki tua sedang sibuk membersihkan plastik-plastik yang berserakan di pinggir pantai. Sinta seperti sudah mengenal lelaki tua itu.Â
"Sepertinya itu Pak Toda. Apa yang dilakukan Pak Toda, ya?" kata Sinta heran seraya mendekati Pak Toda.
"Selamat pagi Pak Toda. Apa yang sedang Pak Toda lakukan di sini," tanya Sinta membuat Pak Toda kaget.
"Selamat pagi anak manis. Saya sedang mengambil sampah-sampah plastik," jawab Pak Toda sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa harus dibersihkan? Kan nanti air yang akan membawanya ke lautan. Nanti Pak Toda capek, lho," tanya Sinta lagi, yang membuat Pak Toda tertawa.
"Hahaha, Sinta.. Sintaaa. Justru Bapak tidak ingin sampah-sampah plastik ini masuk ke dalam lautan. Karena di dalam laut ada penghuninya. Kasihan kalau mereka diberi sampah. Apakah kamu mau di rumahmu ditumpuki sampah?" tanya Pak Toda.
"Tentu tidak mau dong. Kan rumahku bisa kotor," jawab Sinta cepat.
"Nah, begitu juga dengan ikan dan binatang-binatang yang hidup di laut. Mereka juga tidak mau rumah mereka dikotori sampah-sampah ini," jawab Pak Toda.
"Iya ya. Jahat sekali kalau sampai kita menumpuki sampah ke rumahnya ikan," kata Sinta sambil berpikir serius.
Setelah menyadari bahwa membuang sampah ke laut dapat merugikan hewan-hewan laut, Sinta pun merasa bersalah. Ia kemudian memutuskan untuk membantu Pak Toda membersihkan sampah di pantai.
Sejak hari itu, Sinta menjadi anak yang lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Ia juga mengajak teman-temannya untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke laut.Â
Pesan moral:
Menjaga kebersihan lingkungan, terutama laut, merupakan tanggung jawab kita bersama. Hal ini penting dipahami oleh anak karena ada banyak makhluk hidup di dalamnya.
2. Kesetiakawanan 4 Sahabat
Arni menangis tersedu-sedu ketika uangnya hilang. Padahal uang itu diberikan orang tua untuk membeli buku sekolah.Â
Arnah, Amir dan Antok temannya terus membujuknya agar Arni berhenti menangis.
"Uang itu kan untuk membeli buku. Emak sudah tidak punya uang lagi. Bagaimana dong teman-teman?" kata Arni sesenggukan menangis.
"Iya, tapi kamu jangan menangis dong. Kita harus berpikir bagaimana menemukan uang itu," kata Amir bergaya layaknya detektif.
"Tapi kan kita sudah lelah mencarinya, tidak juga kita temukan," kata Antok.
Arni menangis keras kembali dan semakin membuat teman-temannya bingung.
"Sudah Arni jangan menangis keras-keras. Harus menjadi teman yang sabar," kata Antok.
"Iya, tapi besok Pak Guru pasti akan bertanya kenapa aku tidak membawa buku," jawab Arni menghentikan tangisnya.
Beberapa lama mereka semua terdiam, seperti sedang berpikir. Tiba-tiba Amir berteriak kegirangan.
"Aku punya ide, aku punya ide!" kata Amir.
"Jangan berteriak-teriak dong. Apa coba idenya?" tanya Antok.
"Kita cari saja sampah-sampah kaleng dan sampah minuman plastik selain menjadi sampah, bisa dijual kembali karena akan diproduksi menjadi barang lainnya. Tapi, kita jual ke mana sampah-sampah itu?" tanya Antok.
"Wah kalian ini. Lupa ya sama Pak Somad yang suka mencari barang-barang bekas?" kata Antok, yang membuat teman-temannya tersenyum.
"Aku ingat. Yuk, kita berangkat sekarang," imbuhnya.
Arni tidak lagi menangis. Ia terlihat bersemangat mengumpulkan sampah-sampah plastik dan kaleng di kampungnya. Sampai badannya berkeringat.Â
Semua orang senang karena mereka peduli terhadap lingkungan, dengan membuang sampah pada tempatnya.
Menjelang sore hari, tiga karung penuh dengan sampah plastik dan kaleng telah mereka kumpulkan. Mereka pun kemudian membawanya ke rumah Pak Somad.
Pak Somad menyambut gembira dan menimbang sampah plastik serta kaleng itu.
"Jadi, berapa uang yang kita dapatkan, Pak Somad?" tanya Amir.
"Memangnya uangnya mau buat apa?" tanya Pak Somad penuh selidik.
Mereka pun bercerita tentang musibah yang dialami Arni. Pak Somad tersenyum lebar dan memegang tangan mereka bertiga.
"Kalian anak-anak yang hebat. Selain itu membersihkan lingkungan, kalian juga setia kawan saling membantu. Dan kalian sangat kreatif. Untuk itu, barang-barang bekas ini Bapak beli dua kali lipat," kata Pak Somad, sambil menyerahkan uangnya pada Arni dan membuat Arni tertawa bersama teman-temannya.
Arni pun tak sedih lagi. Ia segera membeli buku untuk persiapan sekolah esok hari.
Pesan moral:
Jangan mudah menyerah saat menghadapi masalah. Bekerja sama untuk berpikir dan mencari solusi juga penting dilakukan. Ingat, semua masalah bisa lebih mudah diselesaikan jika saling membantu dan mencari jalan keluar bersama.
3. Raja Parkit yang Cerdik
Cerita ini dikutip dari buku 101 Dongeng Sebelum Tidur: 80 Dongeng Nusantara dan 21 Dongeng Dunia, oleh Redy Kuswanto.
Di hutan Aceh yang luas, hiduplah burung-burung parkit. Mereka hidup damai dan setiap hari bernyanyi.Â
Suatu ketika, mereka tertangkap perekat seorang pemburu. Dengan ketakutan, mereka berusaha melepaskan diri. Hanya Raja Parkit yang terlihat lebih tenang.
"Saudara-saudaraku, tenanglah! Aku punya ide bagus. Jika nanti pemburu datang, kita harus pura-pura mati. Pada saat pemburu membuang kita, tunggu sampai hitunganku yang ke-100, lalu kita terbang bersama-sama," seru Raja Parkit.
Rakyatnya setuju dengan usul Raja Parkit itu. Esoknya, Si Pemburu muncul.
Namun, ia amat kecewa karena tangkapannya mati semua. Bruk! Si Pemburu tersandung batu dan terjatuh. Burung-burung parkit pun terkejut, lalu mereka beterbangan tanpa menunggu hitungan.
Raja Parkit itu tertangkap. "Jangan bunuh aku..," pinta Raja Parkit.
"Sebagai imbalan, aku akan menghiburmu dengan suaraku yang merdu setiap hari," ujarnya.
Si Pemburu pun membawa Raja Parkit pulang. Sesuai janjinya, setiap hari Raja Parkit bernyanyi.Â
Suaranya amat merdu. Semua yang mendengar memuji kehebatannya.
Kabar tentang kemerduan suara Raja Parkit tersebar ke pelosok negeri, hingga sampailah ke telinga Raja Aceh.
Raja Aceh memerintahkan pengawal untuk menukar Raja Parkit dengan harta benda melimpah. Si Pemburu pun menerima tawaran Raja Aceh.
Raja Parkit tiba di istana. Ia ditempatkan di sebuah sangkar emas. Setiap hari ia diberi makanan lezat, namun ia sangat rindu hutan tempat asalnya.
Suatu hari, ia berpura-pura mati. Melihat Raja Parkit mati, Raja Aceh pun bersedih. Ia memerintahkan upacara penguburan.
Ketika Raja Parkit diletakkan di luar sangkar, seketika ia terbang dan kembali ke hutan.
Pesan moral:
Kita harus bersabar dan terus mencari akal agar keluar dari kesulitan yang tengah dihadapi.
4. Si Batek dan Si Toulu
Si Toulu kura-kura dan si Batek biawak membuka ladang bersama. Mereka ingin menanam pisang.
Suatu hari, pergilah mereka mencari bibit pisang. Mereka menemukan pohon pisang yang hampir berbuah. Si Toulu dan si Batek sepakat membaginya sama rata.
Karena ingin cepat menikmati hasil, si Batek memilih bagian atas. Pada bagian itu, sudah hampir muncul buahnya. Si Toulu memilih pangkalnya.Â
Hari itu juga mereka menanam pisang tersebut di lahan masing-masing.
Beberapa minggu lamanya, tumbuhlah pisang milik si Toulu. Namun batang pisang milik si Batek menjadi layu.
Merasa bahwa tanaman pisang yang ditanam Toulu sudah tumbuh, datanglah si Batek ke ladangnya. Ia kaget melihat batang pisangnya sudah mati, sedangkan batang pisang milik si Toulu tumbuh besar dan sudah berbuah.
Muncullah pikiran jahatnya. Ia akan mencuri buah pisang milik si Toulu jika sudah masak.
Buah pisang milik si Toulu masak satu sisir. Saat itu juga si Batek langsung memanjat dan memakannya.
Esoknya lagi, si Batek menuju kebun si Toulu. Ia memakan buah pisang hampir satu tandan.
"Siapa yang mencuri pisangku?" tanya Toulu keesokan harinya.
"Bukan aku pencurinya," sahut Batek.
Si Toulu segera membuat perangkap. Ia yakin pencuri itu akan segera tertangkap.Â
Esoknya, pagi-pagi sekali ia sudah tiba di ladang. Si Toulu tidak pernah mengira bahwa ternyata pencuri itu adalah sahabatnya sendiri.
Si Batek mengakui kesalahannya. Sejak itu, ia berjanji akan selalu berbuat jujur.
Pesan moral:
Jangan lupa untuk selalu jujur agar tidak celaka. Kejujuran akan selalu berbuah manis, apalagi jika dilakukan bersama sahabat yang dipercaya.
5. Kebati, Kelelawar yang Baik Hati
Dongeng ini dikutip dari buku 5 Dongeng Anak Dunia oleh Dedik Dwi Prihatmoko, yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI.
Di sebuah hutan Nusa Tenggara Barat, hiduplah sekelompok komodo, burung kakak tua, musang, kelelawar dan beberapa jenis hewan lainnya.Â
Mereka hidup rukun dan saling berdampingan. Di antara penduduk hutan, ada seekor kelelawar yang terkenal baik hati. Kelelawar tersebut biasa dipanggil Kebati.Â
Ia suka membantu penduduk hutan yang sedang mendapat kesulitan.
Suatu malam, terdengar bibi burung kakak tua meminta tolong. "Toloooong!! Toloooooong!! Tolooooong!!".
Mendengar hal itu kelelawar segera mendatangi bibi burung kakak tua. "Ada apa Bibi, malam-malam begini berteriak meminta tolong?" tanya Kebati.
"Anakku sakit dan aku tidak bisa pergi mencari obat karena cuaca di luar gelap," ungkap bibi kakak tua sambil meneteskan air mata.
Bibi kakak tua sangat sayang pada anak-anaknya. Namun ia tidak dapat melakukan apa-apa malam itu. Cuaca di luar gelap dan udara dinginnya tidak seperti hari-hari biasa. Mungkin hal itu yang menjadikan anaknya demam tinggi.
Sebagai orang tua tentu bibi kakak tua sangat panik. Ia tidak dapat melakukan apa-apa kecuali berdoa dan meminta bantuan kepada penduduk hutan.
Melihat hal itu Kebati kemudian menanyakan obat yang dibutuhkan kepada bibi kakak tua. "Obat yang dibutuhkan bisa diambil di mana? Biar aku yang mengambilnya," tanya Kebati sambil menatap bibi kakak tua.
"Obat itu ada di perbatasan hutan. Cukup jauh tempatnya dari sini. Obat itu bernama daun katuk. Mustahil untuk mengambilnya di cuaca gelap seperti ini," ungkap bibi kakak tua padanya.
"Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkannya untuk anakmu, Bi," kata Kebati seraya bergegas terbang untuk mencari tanaman yang dimaksud.
Di malam yang dingin, Kebati terbang menuju perbatasan hutan. Dalam kegelapan, ia mengandalkan kemampuan ekolokasi yang dimilikinya.Â
Ia mampu mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi untuk dipantulkan ke benda yang ada di sekitarnya dan dipantulkan kembali ke telingga.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, sampailah Kebati di perbatasan hutan. Ia mulai mencari daun katuk dengan kemampuan ekolokasinya.
Setelah menemukan daun katuk yang dia cari, Kebati segera pulang, untuk memberikan daun itu kepada bibi kakak tua.
Betapa senang bibi kakak tua melihat Kebati datang membawa daun katuk. Tanpa buang waktu, bibi kakak tua segera meramu daun katuk sebagai obat demam untuk anaknya.Â
Setelah meminum ramuan obat daun katuk, anaknya pun sembuh. Pagi harinya, Bibi kakak tua berkunjung ke rumah Kebati.Â
Bibi mengucapkan terimakasih dan memberikan bermacam-bermacam buah segar yang baru dipetiknya. Bibi kakak tua dan penduduk hutan semakin sayang pada Kebati, buah kepribadiannya yang baik hati.
Oleh sebab itu, ingatlah bahwa ketika kita berbuat kebaikan maka orang akan memberikan
balasan kebaikan tanpa kita sadari di awal.
Pesan moral:
Berbuat baik dengan tulus dan memanfaatkan kemampuan yang kita miliki untuk membantu orang lain akan membawa kebaikan kembali kepada diri sendiri. Kepedulian terhadap sesama juga sangat penting.
Itulah penjelasan tentang kumpulan dongeng-dongeng panjang petualangan yang bisa diceritakan sebelum tidur ke anak. Sediakan waktu untuk bonding bersama Si Kecil sebelum tidur ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
7 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna, Cerita Kancil dan Buaya Salah Satunya
Parenting
10 Dongeng Anak Sebelum Tidur Paling Populer
Parenting
Cerita Dongeng Fabel Anak Semut dan Belalang, Bagus Kaya Pesan Moral
Parenting
7 Rekomendasi Dongeng Anak Pengantar Tidur, Ada Pesan Moral yang Bisa Dipetik
Parenting
6 Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Mendidik
7 Foto
Parenting
Potret 7 Anak Artis saat Menikmati MPASI, Ekpresinya Cute dan Gemas
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
60 Dongeng Sebelum Tidur Penuh Makna dan Mendidik
Cerita Dongeng Anak: 'Putri Salju dan 7 Kurcaci' dan Pesan Moralnya
10 Cerita Dongeng Kerajaan untuk Diceritakan ke Anak Sebelum Tidur, Kaya Pesan Moral