Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

10 Dongeng Sebelum Tidur Lucu untuk Anak Lengkap dari Cerita Pendek sampai Panjang

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Kamis, 23 Apr 2026 20:40 WIB

10 Dongeng Sebelum Tidur Lucu untuk Anak Lengkap dari Cerita Pendek sampai Panjang
Ilustrasi Dongeng Sebelum Tidur Lucu untuk Anak Lengkap dari Cerita Pendek sampai Panjang/Foto: Getty Images/eyesfoto
Daftar Isi
Jakarta -

Saat hari mulai berakhir, ada momen tenang yang bisa Bunda manfaatkan untuk menemani anak beristirahat. Salah satunya adalah membacakan anak dongeng sebelum tidur.

Dikutip dari laman Raising Children, membacakan dongeng sebelum tidur bisa membantu Si Kecil mengenal bunyi, kata, dan bahasa. Proses ini juga mendukung kemampuan komunikasi dan literasi anak.

Tak hanya itu saja, mendengar cerita juga memberikan stimulasi pada kemampuan berpikir anak. Si Kecil belajar mengenal hubungan sebab-akibat, hingga cara menyimpulkan sesuatu.

Cerita yang dibacakan juga bisa membangkitkan rasa ingin tahu anak, baik tentang kehidupan di sekitarnya maupun berbagai hal baru yang belum mereka kenal sebelumnya.

Tanpa berlama-lama lagi, yuk kita simak pilihan dongeng sebelum tidur lucu untuk anak, lengkap dari cerita pendek hingga panjang.

10 Dongeng sebelum tidur lucu untuk anak

Yuk, kita simak kumpulan dongeng sebelum tidur lucu untuk anak yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Kisah Semut dan Belalang

Bunda bisa membacakan dongeng berjudul Kisah Semut dan Belalang yang dilansir dari buku 60 Dongeng Dunia Pengantar Tidur karya Gilang Permadi.

Di padang rumput subur, hiduplah seekor belalang dan sekelompok semut. Setiap hari, Raja Semut dan rakyatnya rajin bekerja dan mengumpulkan makanan. Makanan itu mereka simpan di gudang.

"Hai semut-semut, makanan di tempat ini tak akan habis. Tanpa bekerja keras, aku masih bisa makan enak!" ujar si belalang mencibir. Belalang memang sangat pemalas.

"Kami menyimpan makanan untuk menghadapi musim kemarau nanti," sahut Raja Semut.

Sementara itu, gudang belalang kosong. Tidak ada makanan sedikit pun, ia selalu menghabiskan makanan yang didapatkannya hari itu juga.

Musim kemarau tiba, dan berlangsung sangat lama. Banyak pohon yang mati, dan makanan jadi sangat sulit didapatkan.

Belalang kini kelaparan. Tubuhnya menjadi kurus. Dengan perasaan malu, belalang mendatangi Raja Semut.

"Ternyata kau benar, Raja Semut. Aku tidak memiliki persediaan makanan seperti kalian," ujar belalang tertunduk lesu.

"Tinggallah bersama kami sampai musim kemarau berlalu. Makanan di gudang kami sangat banyak, cukup untuk kita makan," sahut Raja Semut ramah.

Belalang menangis terharu melihat ketulusan Raja Semut. Belalang itu berjanji akan rajin bekerja seperti Raja Semut.

2. Tanya Gembala Saja

Dongeng berjudul Tanya Gembala Saja ini dikutip dari buku Kisah Jenaka karya Gamal Kamandoko.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, tapi Yusman belum juga tidur. Dia gelisah. Sementara Arsyad sudah tertidur sedari tadi. Meskipun Yusman sudah berusaha memejamkan mata, rasa kantuknya belum juga datang.

Beberapa saat kemudian, Yusman mencoba membangunkan kakaknya. "Kak...! Kak...!"

Arsyad tetap tertidur.

Yusman bangkit dan mengguncang-guncang tubuh kakaknya.

"Kak! Kak!"

"Emmm... apa, sih?" Arsyad terlihat jengkel. Tidur lelapnya terganggu. "Ada apa, sih, Man?"

"Kak, Yusman nggak bisa tidur...."

"Merem saja, Man," saran Arsyad. "Lama-lama, nanti kamu juga tidur."

"Yusman sudah merem dari tadi, tapi nggak bisa tidur juga."

"Pokoknya merem!" ujar Arsyad ketus. "Tidur saja."

"Nggak bisa."

Arsyad yang jengkel langsung bangkit. Dia membuka lemarinya dan mengambil selembar kertas yang penuh dengan gambar domba-domba.

"Nih, kamu hitung gambar domba-domba ini," kata Arsyad sambil menyerahkan kertas bergambar domba tersebut. "Hitung jumlahnya dengan benar. Jangan sampai ada domba yang terlewat dari hitungan kamu. Kalau hitungan kamu betul, kamu pasti akan segera tertidur. Bisa?"

"Iya, Kak."

"Ya, sudah. Kakak mau tidur dulu."

Yusman mulai menghitung. "Satu... dua... tiga... em...."

"Man!" sergah Arsyad yang merasa terganggu dengan suara hitungan Yusman.

"Kalau menghitung jangan berisik! Hitung saja dalam hati."

Yusman kembali menghitung. Dengan telunjuk kanannya, dia menghitung gambar domba-domba. Dia tidak bersuara; menghitungnya dalam hati. Berulang-ulang, Yusman menghitung domba-domba itu karena selalu ada gambar domba yang terlewat dari hitungannya.

"Uhh...! Susah!" Yusman menggaruk-garuk kepalanya sendiri. "Susah amat, sih, menghitung jumlah domba-domba ini!"

Yusman menengok ke arah kakaknya yang sudah tertidur lagi.

"Kak!". Arsyad pun tetap tidur.

"Yusman enggak bisa menghitung dengan tepat jumlah domba-domba ini," katanya.

"Ya, hitung saja terus, Man!" kata Arsyad dengan mata setengah tertutup. "Hitung yang benar!"

"Tapi Kak, di mana, sih, gembala domba-domba ini?"

"Gembala?"

"Iya," sahut Yusman.

"Daripada Yusman capek-capek menghitung, mending Yusman tanya sama gembalanya saja. Dia tentu tahu jumlah domba-domba gembalaannya ini!"

3. Fikri Bertemu Hantu

Dikutip dari buku Dongeng 365 Hari oleh Emmy Soekresno, terdapat dongeng pendek lucu berjudul Fikri Bertemu Hantu.

Suatu malam, Fikri menonton film horor bersama Ayahnya. Karena tegang menonton, Fikri merasa haus. Ia pun meminta ayahnya menemani mengambil air ke dapur.

Tapi, Ayahnya tidak mau melewatkan film horor yang sedang ditontonnya. Akhirnya, terpaksa Fikri mengambil air di dapur sendirian.

Fikri sebenarnya takut, sosok hantu yang ditontonnya terbayang-bayang di benaknya. Tapi, karena kehausan mau tak mau ia harus minum. Karena takut dan ingin buru-buru kembali ke ruang tengah, Fikri tak menyalakan lampu dapur.

Rupanya pada saat yang sama, ibunya sedang berada di dapur juga untuk mengambil segelas air. Karena gelap, Fikri menabrak ibunya. Karena otaknya masih sibuk dengan film horor, ia pun  mengira sedang berhadapan dengan hantu.

Fikri pun mulai menjerit minta tolong. Ayah segera datang dan menyalakan lampu. Barulah Fikri tahu kalau ternyata yang ditabrak Fikri tadi adalah ibunya. Fikri pun tersipu malu, dia tak mau lagi menonton film horor karena dapat membuatnya jadi penakut.

4. Binatang yang Berani

Selanjutnya, terdapat dongeng yang bisa dibacakan anak sebelum tidur yang dikutip dari buku Dongeng 365 Hari karya Emmy Soekresno.

Suatu hari, seorang kakak bertanya pada adiknya tentang binatang paling berani yang diketahui adiknya. Dengan lantang adik menjawab, "Nyamuk, Kak." Kakak tidak sepakat dengan jawaban yang diberikan adik karena nyamuk menunggu manusia tidur baru berani menggigit.

Adik berpikir sebentar, kemudian ia menjawab lagi dengan lantang, "Ayam jantan kita berani melawan ayam jantan tetangga, Kak." Kakak lagi-lagi tidak setuju dengan jawaban adik. "Itu, kan, perkelahian antar binatang yang sama," kata kakak.

Adik belum menyerah, ia lalu menjawab lagi, "Kucing kita berani menaiki genteng untuk menangkap burung." Kakak masih belum juga menyetujui jawaban dari sang adik.

"Itu artinya kucing berani melukai binatang yang lebih lemah, belum berani," kata kakak.

Akhirnya adik mengingat-ingat lagi binatang yang pernah dilihatnya. Adik mengerutkan kening tak yakin akan jawaban ini. Namun, ia utarakan juga jawaban itu kepada kakaknya, berharap jawaban yang ia berikan benar.

"Tadi pagi aku lihat anjing kita menolong anak ayam yang mau disambar elang. Anjing menyalak dan mengusir elang sehingga anak ayam selamat," katanya.

Mata kakak berbinar mendengar jawaban dari sang adik.

"Nah, itu dia baru berani karena anjing mau melindungi anak ayam dan tidak gentar menghadapi elang yang ganas," lanjutnya.

Kini, adik mengerti apa yang dimaksud dengan berani.

5. Sharky Mencari Teman

Dikutip dari buku 50 Cerita Binatang dan Tokoh Lain yang Inspiratif oleh Indri Noor, dkk., ada dongeng menarik lainnya berikut ini:

Hari ini Sharky si ikan hiu sedang malas makan. Ia meninggalkan saudaranya, Bully, yang sedang asyik menyantap seekor tuna muda. Ia berenang di antara bangkai kapal laut tua yang karam. Sharky bosan bermain di sini sendirian. Ia sudah seharian ini bermain di kapal tua itu, berpura-pura menjadi kapten kapal di anjungan, menjadi koki yang sibuk di dapur kapal, bahkan sampai menjadi bajak laut yang galak.

Masalahnya adalah, Sharky bermain sendirian! Ia tidak punya teman yang bisa diajak bercanda, menjadi lawan si bajak laut, atau sekadar untuk mengobrol. Ia tidak mau bermain dengan Bully dan teman-temannya, karena pekerjaan mereka hanya menakut-nakuti ikan-ikan kecil yang lalu-lalang di antara ganggang laut.

"Hei, hei! Lihat itu!" Sharky mendengar sebuah suara tak jauh dari tempatnya berenang. Ia mengintip dari balik jendela bulat kapal. Tak ada siapa-siapa.

"Ayo bermain di kapal karam itu!" Suara itu semakin mendekat. Mata Sharky bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, mencari asal suara itu.

Sebuah titik berwarna oranye menyala mendekat dari kejauhan. Di belakangnya ada dua titik yang mengikutinya, yang satu melayang bagaikan burung di angkasa, dan yang satu lagi berenang horizontal.

"Jangan, Vero! Hiu-hiu jahat sering berkeliaran di sini!" seru bayangan yang melayang, yang tak lain adalah Momo si ikan pari.

Sebuah suara terdengar lagi. "Hmm... kita cari tempat bermain lain, yuk? Aku takut!" Suara itu milik Horsi si kuda laut.

"Aduuuh! Kalian payah!" sergah Vero si bayangan oranye, si ikan badut. Matanya menyapu seluruh badan kapal yang tergeletak dipenuhi karang laut. Jendela-jendelanya yang bulat sudah mulai retak dan... cling! Vero melihat sesuatu yang berkilau di salah satu jendela. Ia berenang mendekat.

"Verooo...." panggil Horsi.

Tetapi Vero tak mendengarkan kedua sahabatnya. Pelan-pelan ia berenang mendekati jendela itu. Matanya masih tertuju ke jendela kapal dan sejenak pandangannya bertemu dengan sebuah mata yang mengintip di balik jendela. Vero berhenti berenang! Hatinya terkesiap! Ada ikan lain di sana!

Jangan-jangan....

Sharky tahu si ikan badut itu pasti melihatnya. Dengan sigap ia berenang ke bawah agar tubuhnya tak terlihat. Tetapi, karena penasaran, tanpa sadar tubuh Sharky malah terbawa arus ke atas. Siripnya yang lancip itu terlihat di jendela.

Vero dan teman-temannya yang melihat sirip Sharky sontak berteriak, "Hiuuu!!!" Lalu ketiganya berenang kabur cepat-cepat.

Sharky yang terkejut mendengar teriakan itu, berenang dengan cepat. Sebuah pintu kayu yang sudah lapuk diterobosnya hingga hancur. Jangan sampai mereka melihatku! batin Sharky. Ia tak mau ikan-ikan kecil itu semakin ketakutan melihat dirinya. Sharky berenang, berenang dan, BUUUM! Oh!

Beberapa ikan kecil terpelanting karena Sharky tidak sengaja menabrak mereka. Vero si ikan badut terlempar jauh ke dekat karang di perairan dalam. Momo si ikan pari terpelanting, tetapi ia masih baik-baik saja. Sementara itu, Horsi si kuda laut hampir saja pingsan karena tubuhnya mengenai Pufi si ikan buntal yang seketika itu menggelembung dengan duri-duri tajam di sekujur tubuhnya.

"Horsiii...." Tubuh Pufi terbawa arus laut.

"Ma... maafkan aku, Pufi. Hiu itu menabrak kami!" ratap Horsi sambil menggoyang-goyangkan ekor kecilnya.

"Aduuuh... kepalaku," sahut Momo.

Sharky yang masih bingung menatap ikan-ikan kecil itu satu per satu. "Maafkan aku, ya? Aku tidak sengaja," ucapnya sambil tertunduk.

"Hiiii... HIU!" Horsi menjerit dan bersembunyi di antara anemon laut.

Glek! Pufi menelan ludah, tubuhnya semakin menggelembung.

"Jangan takut! Jangan takut! Aku Sharky...." Sharky berenang mendekati Momo, Pufi, dan Horsi bergantian. Ketiganya gemetaran saking takutnya.

"Maafkan aku, aku tidak sengaja menabrak kalian. Aku hanya mau menghindari kalian...." Sharky tertunduk, wajahnya sedih.

"Ap... APA? Menghindari kami?" Horsi bertanya sambil mengintip dari balik anemon.

"Iya! Percayalah aku tidak bermaksud menakut-nakuti kalian, apalagi memangsa kalian. Tadi aku sedang bermain sendirian di kapal karam di sana." Sharky menunjuk dengan siripnya. "Lalu kalian bertiga datang dan tampak ketakutan melihatku. Itu sebabnya aku cepat-cepat berenang untuk menghindari kalian, agar kalian bisa bermain di sana."

"Apa dia bersungguh-sungguh?" bisik Momo kepada Pufi dan Horsi.

"Entahlah!" jawab Pufi. Ukuran tubuhnya kini sudah kembali normal.

"Tanyakan saja pada Vero. Vero!" Horsi baru tersadar Vero telah menghilang. "Vero! Di mana Vero?"

Sharky ikut-ikutan panik. "Vero? Si ikan badut itu? Oh, tidak! Semoga tidak terjadi apa-apa padanya!"

"Lihat! Di sana!" tunjuk Momo.

Dari atas terlihat satu sosok ikan kecil berwarna oranye di atas pasir. Suhu air di bawah sangatlah dingin, Vero tentulah tidak akan mampu bertahan lama di sana.

"Kalian tunggulah di sini, aku akan membantu ikan badut itu naik," ujar Sharky pada Momo, Horsi, dan Pufi.

"Jangan-jangan ia akan melahap Vero?" tanya Horsi ketakutan.

"Hush! Ia tampaknya hiu yang baik...." Momo memperhatikan Sharky dengan cekatan berenang ke bawah.

"Hohoho... lihat apa yang kutemukan! Ikan kecil untuk camilan siang ini!" Bully menyeringai memamerkan deretan gigi tajamnya. Ia dan sahabat karibnya, Hamer si hiu hidung palu, sedang berenang mengitari tubuh mungil Vero.

"Jangan ganggu ikan malang itu, Bully!" tiba-tiba Sharky menegaskan di antara mereka.

"Memangnya kenapa?"

"Ia temanku!" Pelan-pelan Sharky menaikkan tubuh lemah Vero ke atas siripnya.

"Teman? Huh! Hiu yang aneh!" seru Hamer. Keduanya kemudian meninggalkan Sharky.

"Di mana aku?" Vero membuka matanya.

"Kau aman, Vero. Sharky telah membantumu." Momo tersenyum kepada Vero.

"Sharky? Hiu itu menolongku?" tanya Vero keheranan.

"Maukah kalian menjadi temanku?" Sharky berenang mengitari teman-teman mungilnya.

"Tentu saja, Sharky. Kami ini adalah temanmu!" Pufi tersenyum pada Sharky.

"Horeee... sekarang aku punya teman bermain!" seru Sharky gembira.

6. Kisah Kancil dan Petani

Cerita Si kancilCerita Si kancil/Foto: Dwi Rachmi/ HaiBunda

Kisah Kancil dan Petani menjadi dongeng terpopuler di kalangan anak-anak Indonesia. Kisahnya bermula ketika kancil yang kelaparan menemukan ladang milik Pak Tani dan mulai menyantap mentimun yang sudah matang.

Si Kancil melakukan aksinya tersebut berulang kali, hingga membuat Pak Tani jengkel. Pak Tani memasang jebakan berbentuk orang-orangan sawah yang dilumuri getah nangka untuk menangkapnya.

"Rupanya kamu yang memakan hasil jerih payahku?" kata Pak Tani ketika jebakannya berhasil menangkap Kancil.

Sebagai hukuman, kemudian Pak Tani meminta Kancil membantunya untuk membereskan ladang serta menanam ulang bibit mentimun.

Menyadari kesalahannya, Kancil bertekad untuk bekerja dengan giat agar Pak Tani mau memaafkannya.

Tibalah hari terakhir hukuman bagi Si Kancil, setelah seminggu ia bekerja di ladang.

"Terima kasih sudah bekerja dengan rajin, Kancil. Jangan mencuri lagi, lebih baik kamu berusaha dengan hasil jerih payahmu sendiri," kata Pak Tani menasihatinya.

Kemudian Pak Tani memberikan si Kancil bekal berupa sekarung mentimun sebelum ia kembali ke hutan. Kancil yang sudah belajar dari kesalahannya pun memutuskan untuk membuat kebun mentimum sendiri dari bekal yang diberikan oleh Pak Tani.

7. Si Beruang dan Lebah

Suatu hari, seekor beruang tengah menjelajahi hutan untuk mencari buah-buahan. Di tengah pencarian, ia menemukan pohon tumbang di mana terdapat sarang tempat lebah menyimpan madu.

Beruang itu mulai mengendus-endus dengan hati-hati di sekitar pohon tumbang tersebut untuk mencari tahu apakah lebah-lebah sedang berada dalam sarang tersebut.

Tepat pada saat itu, sekumpulan kecil lebah terbang pulang dengan membawa banyak madu. Lebah-lebah yang pulang tersebut, tahu akan maksud sang Beruang dan mulai terbang mendekati sang Beruang, menyengatnya dengan tajam lalu lari bersembunyi ke dalam lubang batang pohon.

Seketika Beruang tersebut menjadi sangat marah, loncat ke atas batang yang tumbang tersebut dan dengan cakarnya menghancurkan sarang lebah. Tetapi hal ini malah membuat seluruh kawanan lebah yg berada dalam sarang, keluar dan menyerang sang Beruang.

Beruang yang malang itu akhirnya lari terbirit-birit dan hanya dapat menyelamatkan dirinya dengan cara menyelam ke dalam air sungai.

8. Tupai yang Sombong

Di suatu hutan, hiduplah seekor tupai yang sombong. Ia sering sekali mengejek binatang lainnya di hutan, salah satunya kura-kura dan kancil.

Ketika kura-kura dan kancil sedang asyik bermain menangkap bola, tanpa sengaja bola yang ia lemparkan tersangkut ke pohon di samping mereka. Namun, mereka berdua kebingungan bagaimana mengambil bola tersebut.

Tiba-tiba tupai keluar dari balik pohon sambil meloncat kesana kemari dan berkata "Haha, kasihan sekali kalian!" ujarnya. Tupai kemudian mengambil bola yang tersangkut. Namun, ketika kura-kura meminta bola tersebut, tupai malah mengejeknya dan menyombongkan diri.

Sampai akhirnya kancil dan kura-kura pun memilih pulang karena bosan melihat tingkah tupai yang sombong. Kancil pun berteriak bahwa bola tersebut direlakannya untuk tupai.

Tupai itu terkejut mendengar teriakkan kancil dan kehilangan konsentrasinya. Sehingga, ia tergelincir ke batang pohon dan terjatuh ke kubangan sisa air hujan. Akhirnya, tupai terjatuh ke dalam kubangan.

Sedangkan bola yang dipegangnya di ambil oleh kura-kura dan kancil. Sementara, kura-kura dan kancil tidak bisa menahan diri untuk tertawa melihat tubuh tupai dipenuhi dengan lumpur.

9. Miki Tikus dan Ekornya yang Hilang

Dongeng sebelum tidur untuk anak ini dikutip dari buku 101 Dongeng Seru Sebelum Bobok karya Fitri Haryani Nasution:

Dua orang anak tikus sedang berkelahi saat ibu tikus baru pulang ke sarangnya. Kakaknya bernama Miki dan adiknya bernama Mika. Sang Ibu sangat marah karena persediaan keju makanan mereka jatuh berserakan di tanah. Ia lalu bertanya pada kedua anaknya.

"Siapa yang menaburkan semua keju ini?" tanya si Ibu. Miki melontarkan suaranya kepada Mika. Sebenarnya, Miki yang menjatuhkan keju hingga bertaburan ke tanah. Karena takut dimarahi Ibu, dia mengancam Mika untuk tidak berkata jujur.

"Mika yang melakukannya, Bu," ucap Miki.

"Benarkah itu, Mika?" tanya Ibu ke Mika.

"Tidak, Bu. Bukan aku," Mika membela diri, namun tak sanggup untuk mengucapkan bahwa Miki pelakunya.

"Baiklah. Siapa yang berbohong ekornya akan hilang," kata Ibu. Tiba-tiba, ekor Miki menghilang. Miki pun menangis. Ibu kini tahu siapa yang berbohong. Miki menerima akibat kebohongan yang dilakukannya. Ekornya tidak pernah lagi tumbuh.

10. Dodit Dihantui Monster Gigi

Berikutnya, ada dongeng menarik berjudul Dodit Dihantui Monster Gigi yang dikutip dari buku Kumpulan Dongeng Pengantar Tidur Gembira oleh Komunitas Literasi Gembira.

Pada suatu malam, di rumah kecil dan sederhana, ada seorang anak laki-laki yang berbadan gemuk sedang menonton televisi sambil menyantap makanan. Dia memiliki kulit yang putih bersih, bermata sipit dan pipi yang chubby. Dia anak yang periang dan sangat suka sekali jajan. Dia bernama Dodit.

"Dodit, kalau sudah selesai makan piringnya ditaruh di dapur ya?" suara ibu dari dapur terdengar.

"Iya, Bu," jawab Dodit sambil mengangguk.

Setelah selesai makan ia menaruh piringnya di dapur. Sebelum kembali menonton televisi ia melihat kue brownies yang baru selesai dibuat ibunya.

"Wah, pasti kue ini enak. Dodit boleh cobain ya, Bu?" rayu Dodit pada ibunya.

"Iya, boleh dong, Sayang. Tapi nanti setelah makan kue, sikat gigi, ya?"

"Iya, Bu."

Dodit menyantap kue itu dengan sangat lahap sambil duduk di sofa dan menonton televisi kembali. Kemudian ia mengkhayal memiliki banyak sekali kue, cokelat dan permen dengan memejamkan mata sambil tersenyum-senyum. Bahkan ia menghayal kamar dan rumahnya sangat sesak dipenuhi dengan makanan kesukaannya.

Selesai menghayal, ia membuka mata dan melanjutkan memakan kue brownies buatan ibunya. Namun tiba-tiba Dodit mendengar suara langkah kaki yang sangat keras dan berat dari luar. Dodit pun bingung dan keheran-heranan. Suara langkah kaki itu semakin dekat dan semakin keras. Kemudian ia melihat sesosok makhluk berbadan besar masuk ke rumahnya dan berjalan ke arahnya. Makhluk itu berbau busuk, memiliki 10 tangan dan 5 kaki sambil membawa senjata tajam.

"Mmmonnsteerr...!!!" teriak Dodit.

Dodit sangat ketakutan dan dia berlari ke sana kemari menghindari serangan monster jahat itu.

"Aarrrgghh..., Aku mau mengambil gigimu untuk kumakan. Karena gigi keropos dan rusak adalah makanan kesukaanku. Hahaha," kata monster jahat itu. "Akan aku congkel gigi-gigimu sampai kamu tidak punya gigi lagi," lanjut sang monster.

Dodit menangis dengan sangat keras sambil berkata, "Ibu... Dodit takut...."

"Dodit... Dodit... bangun, Nak. Kamu mimpi?" ibu membangunkan Dodit pelan-pelan.

"Ibu..." Dodit pun bangun sambil menangis dan langsung memeluk ibunya.

"Kamu kenapa, Sayang?" Ibu bertanya.

"Itu, Bu... tadi Dodit bertemu monster gigi yang sangat menyeramkan. Dodit takut...." jawab Dodit sesenggukkan.

"Sudah, sudah, tidak apa-apa." Ibu menenangkan sambil memeluk Dodit.

"Bu, gigiku sakit terasa nyut-nyutan seperti digigit seribu semut," kata Dodit.

"Sebelum tidur tadi, Dodit sikat gigi tidak?" ibu bertanya sambil mengecek gigi Dodit.

"Tidak, Bu. Aku lupa sikat gigi. Aku menyesal karena tidak menuruti perintah ibu," ujar Dodit.

Kemudian ibu memberi nasihat kepada Dodit, "Dengar ibu ya, Nak. Ibu tidak melarang kamu makan kue atau cokelat. Tapi jangan berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, Nak."

"Dan ingat, pentingnya sikat gigi sebelum tidur itu untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi. Jadi gigi kamu tidak akan sakit karena digigit kuman-kuman yang ada di mulut. Dan Dodit tidak akan bertemu monster gigi yang menyeramkan lagi. Aarrrrrghh....," ibu melanjutkan sambil menirukan suara monster.

"Hi... Ibu.... Iya, Bu. Mulai besok aku tidak akan lupa menggosok gigi sebelum tidur lagi," pungkas Dodit sebelum melanjutkan tidurnya.

Itulah kumpulan 10 dongeng sebelum tidur untuk anak, mulai dari cerita pendek hingga panjang, yang bisa jadi pilihan bacaan seru sebelum Si Kecil beristirahat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda