PARENTING
Campak Ternyata Bisa Menyerang Otak Bertahun-tahun Setelah Sembuh, Bocah 7 Tahun Jadi Korban
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Selasa, 28 Apr 2026 15:30 WIBCampak tidak selalu berakhir setelah anak sembuh, Bunda. Dalam beberapa kasus, dampaknya justru bisa muncul kembali bertahun-tahun kemudian dalam bentuk gangguan serius pada otak.
Baru-baru ini, dunia kesehatan kembali membahas dampak jangka panjang campak pada anak. Salah satu kasusnya melibatkan lebih dari 100 anak yang terpapar dalam sebuah komunitas pendidikan yang belum sepenuhnya melakukan vaksinasi.
Tidak hanya itu, di Amerika Serikat tercatat lebih dari 1.000 kasus campak dalam tahun ini. Sejumlah wilayah seperti Utah hingga kampus perguruan tinggi di Florida juga melaporkan lonjakan kasus yang cukup signifikan.
Salah satu korbannya adalah seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun yang belum lama ini meninggal di California. Ia diketahui sempat terinfeksi campak saat masih bayi, lalu beberapa tahun kemudian mengalami penurunan kesehatan hingga kejang-kejang.
Melihat kondisi anak tersebut, para dokter akhirnya mendiagnosisnya dengan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), yaitu penyakit pada otak yang dapat berkembang bertahun-tahun setelah infeksi campak.
|
Baca Juga : Imunisasi Campak Umur Berapa? Bolehkah Dikejar Jika Anak Belum Dapat Vaksin MR?
|
Bahaya campak yang bisa memicu kerusakan otak pada anak
Menilik dari laman New York Post, gangguan otak ini biasanya dimulai dengan perubahan kepribadian yang halus. Seperti kehilangan ingatan, mudah tersinggung, atau perubahan suasana hati pada anak.
Seiring berjalannya waktu, kondisi ini bisa semakin berat, Bunda. Anak dapat mengalami kejang otot hingga kerusakan otak yang parah dan berujung pada koma.
Gejala-gejala ini biasanya muncul enam hingga 10 tahun setelah infeksi awal. Karena itu, dampaknya sering baru terlihat saat anak sudah lebih besar.
Campak sendiri sering kali diawali seperti flu biasa. Gejalanya seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan mata berair sebelum muncul demam tinggi dan ruam merah di seluruh tubuh.
Virus campak yang sangat menular ini dapat bertahan di dalam tubuh. Dalam beberapa kondisi, virus dapat berubah dan memicu SSPE bertahun-tahun setelah infeksi pertama.
Kepala penyakit menular pediatrik di Rumah Sakit Anak Stony Brook, Dr. Sharon Nachman, menjelaskan bahwa campak bisa seperti 'menetap' di otak dan memicu perubahan yang terjadi secara perlahan dari waktu ke waktu.
"Campak itu seperti menetap di otak dan menyebabkan perubahan pada tingkat yang sangat kecil yang terjadi secara diam-diam," kata Nachman.
"Anak bisa saja terkena campak saat berusia 2 tahun. Sekarang anak sudah kuliah, tiba-tiba otak mereka rusak dan tidak punya masa depan," tambahnya.
Lebih lanjut, risiko gangguan otak akibat campak ini tergolong jarang, Bunda. Tercatat sekitar 4 hingga 11 dari 100.000 kasus dapat mengalami kondisi ini, dan risikonya meningkat pada anak di bawah usia 5 tahun.
Pentingnya vaksinasi untuk mencegah komplikasi
Pada tahun 2025, seorang anak di Los Angeles meninggal akibat komplikasi campak yang didapat sejak masih bayi. Kondisi ini diketahui terjadi sebelum anak tersebut mendapatkan vaksin.
Saat ini, belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan SSPE, Bunda. Pengobatan yang tersedia hanya bisa memperlambat perkembangan penyakitnya saja.
Bicara soal ini, Center For Disease Control and Prevention (CDC) mencatat ada 2.242 kasus campak di Amerika Serikat sekitar tahun 2025. Sebanyak 93 persen terjadi pada orang yang tidak divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui.
Untuk mencegahnya, vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) menjadi cara paling efektif untuk melindungi anak dari campak. Vaksin ini biasanya diberikan saat anak berusia 12 bulan hingga 15 bulan. Lalu, dosis kedua vaksin MMR diberikan sebelum anak masuk Taman Kanak-Kanak (TK).
Data terbaru menunjukkan bahwa 92,5 persen anak TK sudah menerima vaksin MMR pada tahun ajaran 2024-2025. Kemudian, angka ini turun sekitar 2,5 persen dibandingkan tahun 2019-2020.
Para ahli kesehatan menyebut bahwa angka ini masih di bawah batas aman 95 persen, Bunda. Jika di bawah angka tersebut, risiko terjadinya wabah campak bisa meningkat.
Itulah penjelasan tentang campak yang ternyata bisa menyerang otak bertahun-tahun setelah sembuh.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)