parenting
Benarkah Anak Bisa Alami Hipertensi? Ini Penjelasan IDAI
HaiBunda
Jumat, 29 May 2026 09:40 WIB
Daftar Isi
Banyak yang masih mengira bahwa hipertensi hanya dialami orang dewasa saja. Padahal, anggapan ini tidak selalu benar, Bunda. Lalu, benarkah anak juga bisa mengalami hipertensi?
Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan darah tinggi memang lebih sering dikaitkan dengan usia dewasa atau lansia. Inilah sebabnya, sebagian orang tidak menyangka jika anak juga bisa mengalaminya.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa hipertensi merupakan salah satu penyakit yang diperkirakan terjadi pada lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, kasus hipertensi pada anak, khususnya anak usia sekolah, juga mengalami peningkatan, Bunda. Lantas, apakah benar anak bisa mengalami hipertensi?
Benarkah anak bisa mengalami hipertensi?
Menilik dari laman IDAI, hipertensi pada anak dan remaja memang jadi masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Kondisi ini bukan hanya karena jumlah kasusnya yang mulai meningkat, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan anak.
Secara umum, kejadian hipertensi pada anak diperkirakan ada di kisaran 1-2 persen. Bahkan, sebuah penelitian di Amerika Serikat pada ribuan anak sekolah menunjukkan angka yang bisa mencapai sekitar 4,5 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa hipertensi pada anak bukan lagi penyakit yang jarang ditemui. Bunda perlu tahu, anak yang mengalami hipertensi juga memiliki risiko lebih besar untuk mengalaminya kembali saat dewasa nanti.
Bahkan, mereka bisa hampir empat kali lebih berisiko mengalami hipertensi dibandingkan anak dengan tekanan darah normal. Kondisi ini juga dapat berdampak pada kesehatan jantung dan pembuluh darah di kemudian hari.
Karena itu, Bunda harus lebih waspada terhadap kesehatan anak. Terlebih, ada berbagai faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya hipertensi pada anak.
Penyebab hipertensi pada anak
Jika kita lihat dari penyebabnya, hipertensi pada anak terbagi menjadi dua kelompok. Hipertensi yang disebabkan oleh penyakit tertentu dan hipertensi yang tidak memiliki penyebab penyakit khusus atau dikenal sebagai hipertensi primer.
Berikut beberapa penyebab hipertensi pada anak yang dikutip dari akun Instagram @idai_ig:
Hipertensi primer
- Riwayat keluarga dengan hipertensi
- Riwayat lahir prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR)
- Kebiasaan kurang bergerak atau aktivitas fisik rendah
- Asupan garam berlebihan
- Kebiasaan merokok atau terpapar asap rokok
Hipertensi sekunder
- Kelainan pada ginjal
- Kelainan pada jantung
- Gangguan atau kelainan hormon
Gejala hipertensi pada anak
Bunda perlu tahu, bahwa anak dan bayi menunjukkan gejala yang berbeda saat mengalami hipertensi. Pada bayi baru lahir, hipertensi dapat menimbulkan beberapa gejala tertentu, seperti:
- Sesak napas
- Berkeringat
- Gelisah
- Pucat/sianosis
- Muntah
- Kejang
Sedangkan pada anak yang lebih besar, ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai sebagai kemungkinan hipertensi:
- Rasa lelah
- Sakit kepala
- Mual
- Mimisan (perdarahan hidung)
- Penglihatan mendadak kabur
- Nyeri dada
- Kenaikan berat badan tidak adekuat, perawakan pendek
- Kejang
- Penurunan kesadaran
- Kelumpuhan otot
Sebelum hal ini terjadi, anak perlu melakukan pemeriksaan tekanan darah untuk mendeteksi lebih dini jika ada gangguan seperti hipertensi. Lalu, kapan anak bisa mulai mengukur tekanan darahnya?
Kapan harus mengukur tekanan darah pada anak?
Idealnya, setiap anak yang berusia 3 tahun atau lebih menjalani pemeriksaan tekanan darah, setidaknya satu tahun sekali. Namun, pada anak di bawah usia tersebut, pemeriksaan perlu dilakukan dengan faktor risiko seperti:
- Bayi prematur kurang dari 32 minggu
- Bayi berat lahir rendah
- Riwayat perawatan NICU
- Penyakit jantung bawaan
- Riwayat kelainan ginjal
- Infeksi saluran kemih berulang
- Riwayat keluarga dengan kelainan ginjal bawaan
- Riwayat keganasan
- Riwayat keluarga cuci darah usia muda
Cara mengukur tekanan darah pada anak
Melalui akun Instagram resmi, IDAI membagikan cara pengukuran tekanan darah yang benar pada anak dan remaja. Simak selengkapnya berikut ini:
- Duduk dengan nyaman di lingkungan yang tenang, dengan punggung disangga.
- Pastikan kaki tidak menyilang dan telapak kaki menapak datar di lantai.
- Pasang manset sesuai ukuran pada lengan atas yang terbuka, sekitar 3 cm di atas siku, sejajar dengan posisi jantung.
- Lakukan pengukuran sebanyak 3 kali dengan jeda 1 menit di setiap pengukuran.
Penanganan hipertensi pada anak
Selain itu, IDAI juga menjelaskan bahwa ada beberapa langkah penanganan jika anak mengalami hipertensi, seperti:
- Kontrol secara teratur ke dokter anak
- Minum obat hipertensi sesuai indikasi dokter
- Melakukan aktivitas fisik dan olahraga secara rutin
Lebih dari itu, anak juga perlu menerapkan pola makan yang lebih sehat, yaitu:
- Mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah cukup
- Memilih gandum utuh sebagai sumber karbohidrat
- Mengonsumsi produk susu rendah lemak
- Mengonsumsi ikan, unggas, kacang-kacangan, serta daging merah tanpa lemak
- Membatasi makanan tinggi gula, makanan manis, dan garam/natrium
Itulah penjelasan mengenai benar atau tidaknya anak dapat mengalami hipertensi berdasarkan penjelasan dari IDAI. Semoga informasinya dapat bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Hipertensi Bisa Terjadi pada Anak, Kenali Penyebabnya Bunda
Parenting
Cek Berat Badan Ideal Anak Usia 0-5 Tahun, Si Kecil Sudah Sesuai?
Parenting
5 Cara Menghilangkan Cegukan pada Bayi, Bunda Perlu Tahu
Parenting
9 Gejala Demam Berdarah pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Parenting
Penyebab dan Dampak Stunting pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Parenting
Kotoran Telinga Anak Mengeras, Bagaimana Cara Membersihkannya?
HIGHLIGHT
ADVERTISEMENT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ternyata Anak dari Orang Tua yang Bercerai Berisiko Terkena Stroke di Masa Depan
Hipertensi Sejak Kecil Tingkatkan Risiko Kematian Dini Akibat Penyakit Jantung saat Dewasa
Ketahui Penyebab & Gejala Hipertensi Paru pada Anak, Sering Tidak Disadari