PARENTING
Viral Tren 'Reparenting Parents', Ketika Ortu Sembuhkan Luka Masa Kecil Lewat Pola Asuh ke Anak
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Sabtu, 25 Jul 2026 18:45 WIBTren 'reparenting parents' tengah viral di kalangan orang tua. Tren yang berasal dari China ini dikenal juga dengan istilah 'orang tua yang mendidik diri mereka sendiri', Bunda.
Salah satu contoh dari tren ini adalah saat anak muda mengajari Bunda dan Ayah mereka keterampilan modern, seperti mengambil foto selfie. Melalui tren ini, generasi muda berusaha menyembuhkan luka yang mereka warisi dari masa kecil dan mendefinisikan kembali nilai tradisional berbakti kepada orang tua.
Di media sosial, para kaum muda mengunggah tren ini. Dilansir laman South China Morning Post (SCMP), Selasa (21/7/26), tagar 'reparenting parents' setidaknya telah dilihat hampir 60 juta kali dan dibahas sebanyak 300.000 kali di satu platform media sosial di China.
Ragam tren 'reparenting parents' di media sosial
Sama seperti orang tua mereka mengajari mereka cara berjalan, orang-orang muda dalam tren ini mengajari para tetua tentang cara hidup modern, seperti memesan makanan melalui aplikasi seluler, mengambil foto selfie, dan mengikuti rutinitas perawatan kulit atau skincare.
Beberapa orang memilih untuk berbagi hobi dengan orang tua mereka, seolah-olah mereka adalah teman. Mereka akan membelikan tiket konser untuk orang tua atau membawakan camilan baru dari perjalanan bisnis.
Sementara itu, beberapa mengatakan bahwa dengan 'reparenting parents', mereka menemukan cara untuk menyembuhkan luka masa kecil akibat pola pengasuhan yang tidak sehat dan untuk berdamai dengan orang tua mereka.
"Saya tidak tahan dengan omelan ibunda saya, tetapi saya kemudian mengerti bahwa dia cemas, dan tidak tahu bagaimana mengekspresikan kasih sayang karena kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan anak," kata seorang netizen yang mengikuti tren ini.
Seorang netizen lain mengatakan dirinya berhasil memahami perilaku irasional ibunya yang mendorongnya untuk menikah karena sang Bunda khawatir anaknya kesepian. Alih-alih bertengkar dengan sang Bunda, netizen ini memilih untuk berkomunikasi secara damai dengan ibunya.
Perempuan lain, yang menggunakan nama panggilan @puernaigai, mengatakan dirinya dulu menyimpan dendam terhadap ibunya karena memperlakukannya seperti 'boneka'. Ia kemudian menyadari bahwa ibunya hanya berusaha mengendalikan hidupnya yang penuh ketidakamanan dengan cara mengendalikan putrinya.
"Saya harus mengenakan pakaian merah muda yang dia pilih, berteman dengan orang-orang yang berprestasi bagus yang dia sukai, dan mempelajari jurusan yang menurutnya menjanjikan. Saya tidak bahagia," katanya.
"Saya akan membantu ibunda saya menemukan kembali sosok gadis yang hilang dalam dirinya," tulisnya.
Selain mengajarkan cara menikmati hidup, perempuan ini juga mendorong ibunya untuk mempelajari keterampilan baru, mencoba gaya hidup yang berbeda, dan percaya pada gagasan bahwa 'tidak apa-apa menjadi orang biasa'.
Ia mengatakan bahwa pola 'reparenting parents' yang diterapkan ke ibunya berhasil. Sang ibu menjadi lebih lembut dan belajar menghargai pilihannya sendiri.
Profesor Peng Huamao dari Fakultas Psikologi di Beijing Normal University mengatakan bahwa bahwa populasi lansia cenderung takut bahwa penurunan kemampuan fisik mereka dapat menimbulkan rasa tidak sabaran dan sikap meremehkan dari anak-anak mereka.
"Penting bagi anak-anak untuk menghormati peran orang tua mereka yang sudah lanjut usia, dan berkomunikasi dengan mereka secara setara," kata Peng.
Itulah penjelasan tentang tren 'reparenting parents' yang sedang viral di China. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)