HaiBunda

PARENTING

Ayah yang Punya Anak Perempuan Pertama Disebut Lebih Mendukung Kesetaraan Gender, Ini Kata Studi

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 01 Aug 2026 18:40 WIB
Ayah yang Punya Anak Perempuan Pertama Disebut Lebih Mendukung Kesetaraan Gender, Ini Kata Studi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Pruksachat Lapvilai
Jakarta -

Memiliki anak perempuan pertama ternyata dapat memengaruhi cara pandang seorang ayah terhadap isu kesetaraan gender, Bunda. Ayah yang punya anak perempuan pertama disebut lebih mendukung kesetaraan gender.

Para ayah ini menjadi lebih peka terhadap isu-isu yang berkaitan dengan peran perempuan di masyarakat, mulai dari kesempatan pendidikan, karier, hingga perlakuan yang adil di lingkungan sosial. Tak hanya itu, mereka juga sering kali mendukung kebijakan yang mempromosikan hak-hak perempuan.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Public Opinion Quarterly menunjukkan bahwa pergeseran ini terjadi bahkan di negara-negara yang konservatif secara budaya di mana ketidaksetaraan gender masih menjadi isu utama. Temuan tersebut memberikan bukti bahwa pengalaman membesarkan anak perempuan dapat membentuk kembali sikap politik orang tua terhadap isu-isu sosial tertentu.


Dilansir PsyPost, para ilmuwan politik sering mempelajari bagaimana keluarga berbagi dan mewariskan kepercayaan. Proses ini dikenal sebagai sosialisasi politik.

Secara tradisional, para ahli memandang hal tersebut sebagai proses dari atas ke bawah, di mana orang tua mewariskan pandangan politik dan sosial kepada anak-anak mereka. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa proses sebaliknya juga dapat terjadi, karena anak-anak dapat memengaruhi kepercayaan orang tua mereka melalui pengalaman dan tantangan hidup yang unik.

"Hal yang menarik adalah bahwa sosialisasi politik sering dipelajari sebagai sesuatu yang mengalir dari orang tua ke anak-anak, tetapi hasil studi kami menunjukkan bahwa anak-anak juga dapat memengaruhi sikap politik orang tua mereka," kata profesor ilmu politik dan ekonomi di Waseda University, Yoshikuni Ono.

Salah satu contoh terkenal dari pengaruh ini adalah efek anak perempuan pertama di keluarga. Konsep ini menggambarkan eksperimen alami di mana para peneliti membandingkan ayah yang anak pertamanya adalah perempuan, dengan ayah yang anak pertamanya laki-laki.

Menurut studi, pandangan politik ayah di kemudian hari kemungkinan besar dapat dikaitkan dengan pengalaman membesarkan seorang anak perempuan. Penelitian sebelumnya di negara-negara demokrasi Barat menunjukkan bahwa ayah yang memiliki anak perempuan sebagai anak pertama seringkali menjadi lebih mendukung kesetaraan gender.

Yoshikuni Ono bersama peneliti Daina Chiba lalu berupaya mencari tahu apakah efek tersebut membutuhkan lingkungan yang progresif secara budaya untuk bisa saling berkaitan, Bunda.

"Saya sudah lama tertarik pada bagaimana gender membentuk sikap dan perilaku politik pemilih, dan saya telah melakukan berbagai studi tentang topik ini di Jepang, Amerika Serikat, dan konteks lainnya," ungkap Ono.

"Kami ingin menyelidiki apakah pola serupa dapat diamati di Jepang. Proyek ini dimulai ketika rekan penulis saya, Daina Chiba, menemukan survei sosial skala besar di Jepang yang menanyakan kepada para pemilih tentang jenis kelamin anak-anak mereka, yang memungkinkan kami untuk meneliti pertanyaan ini secara empiris," lanjutnya.

Penelitian ini banyak berfokus di Jepang karena negara ini memiliki pemerintahan demokratis yang stabil, tetapi masih bergumul dengan tingkat ketidaksetaraan gender yang tinggi.

Misalnya, perempuan Jepang menghadapi kesenjangan upah yang signifikan dan hanya memegang sebagian kecil kursi di pemerintahan nasional. Ekspektasi tradisional seputar pembagian kerja antara pria dan wanita juga tetap kuat dalam masyarakat Jepang.

Jepang memiliki pemerintahan demokratis yang stabil tetapi masih bergumul dengan tingkat ketidaksetaraan gender yang tinggi. Misalnya, perempuan Jepang menghadapi kesenjangan upah yang signifikan dan hanya memegang sebagian kecil kursi di pemerintahan pusat.

Ekspektasi tradisional seputar pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan juga tetap kuat dalam masyarakat Jepang.

Apa yang diteliti dalam studi ini?

Ilustrasi Ayah dan Anak/Foto: Getty Images/iStockphoto/PrathanChorruangsak

Untuk mengeksplorasi studinya, Chiba dan Ono menganalisis data dari Japanese General Social Survey. Hal ini adalah survei besar terhadap orang dewasa di Jepang yang mewakili populasi nasional dan dilakukan setiap dua tahun sekali.

Para peserta dalam studi menyelesaikan wawancara tatap muka dan mengisi kuesioner. Peneliti melihat tanggapan survei yang dikumpulkan antara tahun 2000 dan 2018, khususnya yang berfokus pada responden laki-laki yang memiliki setidaknya satu anak.

Ukuran sampel para ayah ini berkisar dari sekitar 250 hingga lebih dari 1.500. Dalam kelompok ini, 46,8 persen laki-laki memiliki anak pertama berjenis kelamin perempuan, sementara 53,2 persen memiliki anak laki-laki sulung. Para peneliti kemudian membandingkan kedua kelompok ini melalui berbagai pertanyaan survei yang berkaitan dengan gender, politik, dan kebijakan sosial.

Untuk mengukur sikap terkait gender, survei tersebut meminta para ayah untuk menilai persetujuan mereka terhadap peran gender. Salah satu pertanyaan menanyakan apakah tugas suami adalah mencari nafkah, sementara tugas istri adalah mengurus rumah tangga.

Survei tersebut juga menanyakan tentang reformasi hukum, yang mana masih menjadi perdebatan besar di Jepang. Salah satunya melibatkan undang-undang yang mengharuskan pasangan suami istri menggunakan satu nama keluarga yang sama, yang biasanya secara otomatis menggunakan nama suami.

Para peneliti juga mengukur dukungan untuk penguasa perempuan serta dukungan untuk penguasa perempuan melalui garis keturunan. Terakhir, peneliti mengangkat isu anak-anak yang lahir dari anggota keluarga kerajaan perempuan untuk menjadi kaisar, yang merupakan pergeseran besar dari tradisi patriarki Jepang.

Hasil studi terhadap cara pandang seorang ayah tentang isu gender

Hasil studi mengungkap para ayah yang memiliki anak pertama perempuan secara signifikan lebih cenderung menolak peran gender tradisional dibandingkan para ayah yang memiliki anak laki-laki sebagai anak pertama. Mereka juga lebih cenderung mendukung perubahan hukum yang memungkinkan pasangan suami istri untuk tetap menggunakan nama keluarga yang berbeda.

Para ayah dari anak perempuan sulung juga menunjukkan dukungan yang lebih kuat untuk mengizinkan garis keturunan kerajaan Jepang diteruskan melalui garis perempuan. Mereka juga cenderung mendukung redistribusi pendapatan dan peningkatan pengeluaran pemerintah yang setara bagi laki-laki dan perempuan.

"Temuan ini tidak sepenuhnya mengejutkan, dalam arti bahwa temuan ini secara umum konsisten dengan apa yang mungkin diharapkan, tetapi tetap sangat menarik," ujar Ono.

"Tentu saja, ini adalah kecenderungan rata-rata karena tidak setiap ayah berubah dengan cara ini, dan efek yang diperkirakan tidak terlalu besar," lanjutnya.

Perlu dicatat, studi ini memang bisa menjadi temuan yang bermanfaat untuk mengetahui fakta terkait cara pandang seseorang terkait isu gender. Namun, studi ini tetap memiliki keterbatasan ya, Bunda.

"Salah satu keterbatasan penting adalah bahwa perbedaan yang kita amati hanya terkonsentrasi pada sikap yang berkaitan dengan kesetaraan gender," kata Ono.

"Kami tidak menemukan perbedaan yang jelas dalam ideologi politik yang lebih luas atau dalam sikap terhadap isu-isu seperti kebijakan keamanan nasional," sambungnya.

Keterbatasan lainnya adalah survei ini hanya menangkap opini dan sikap pribadi pada titik waktu tertentu. Data tersebut tidak dapat menunjukkan apakah perubahan keyakinan ini mengarah pada perubahan perilaku yang sebenarnya. Misalnya, studi ini tidak mengukur apakah para ayah ini memilih secara berbeda atau secara aktif berpartisipasi dalam advokasi politik untuk mendukung hak-hak perempuan.

Itulah hasil studi yang menemukan bahwa ayah yang memiliki anak pertama perempuan disebut lebih mendukung kesetaraan gender. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Hal yang Diingat Anak Seumur Hidup dari Orang Tua

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ini Dia Negara Paling Jujur dan Paling Tidak Jujur di Dunia, Indonesia Masuk Mana?

Mom's Life Amira Salsabila

Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?

Parenting Annisa Karnesyia

Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker

Parenting Tim HaiBunda

Darah Haid Menggumpal seperti Daging Hati Ayam, Apakah Normal?

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

4 Kode Warna dan Abjad Nutri-Level di Produk Pangan Olahan

Mom's Life Tim HaiBunda

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dongeng: Anak Itik Buruk Rupa

Bayi Minum ASI Banyak Hari Ini tapi Besok Sedikit, Normalkah?

5 Potret Andy /rif Bersama Kedua Putranya, Beda Postur Tubuh Ayah-Anak Jadi Sorotan

Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?

Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK