PARENTING
Benarkah Anak Tunggal Sudah Pasti Manja dan Kesepian? Simak Jawaban Psikolog
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Rabu, 05 Aug 2026 18:20 WIBAnak tunggal kerap mendapat label sebagai sosok yang manja, egois, hingga mudah merasa kesepian. Stereotipe tersebut diberikan lantaran anak tunggal tidak memiliki saudara dan mendapatkan pengasuhan terpusat dari orang tuanya.
Selama beberapa generasi, citra anak tunggal yang manja, egois, hingga canggung secara sosial, telah berulang kali muncul dalam percakapan tentang pengasuhan anak. Padahal, tidak ada satu pun kepribadian anak tunggal yang 'tunggal' atau sudah pasti negatif.
Psikiater dewasa Dr. Allen Masry, mengatakan bahwa salah satu kesalahan terbesar yang beredar adalah bahwa hanya anak-anak yang memiliki satu tipe kepribadian, dan dapat diperlakukan sebagai satu kesatuan.
"Penelitian tidak menunjukkan bahwa anak tunggal pada dasarnya kesepian, manja, atau kurang mampu bersosialisasi," katanya kepada Newsweek.
Menurut Masry, hasil dari kepribadian anak akan bergantung pada gaya pengasuhan, hubungan keluarga, dan pengalaman secara keseluruhan. Jadi, bukan karena kehadiran saudara kandung, Bunda.
Hal yang sama juga disampaikan psikolog Rachel Loftin. Menurutnya, anak tunggal tidak selalu manja karena terbukti bisa kompeten secara sosial.
"Penelitian secara konsisten menemukan bahwa anak tunggal umumnya sehat secara psikologis, kompeten secara sosial, dan mampu beradaptasi dengan baik seperti orang yang tumbuh bersama saudara kandung," ungkap Loftin.
Sering dianggap punya kepribadian seperti orang dewasa
Masry mengatakan bahwa anak tunggal cenderung lebih sering berinteraksi dengan orang dewasa. Hal itu dapat membuat mereka nyaman bercakap-cakap dengan orang dewasa sejak dini, dan menggunakan kosakata yang lebih luas lebih cepat.
Pengalaman seperti itu dapat disalahartikan sebagai 'tumbuh lebih cepat'. Padahal, hal tersebut tidak selalu mencerminkan perkembangan emosional yang cepat dari seorang anak.
Psikolog klinis Dr. Liz Nissim mengatakan bahwa anak-anak tunggal yang dibesarkan di lingkungan rumah tangga yang lebih tenang, mungkin menganggap dinamika kelompok yang ramai atau konflik seperti saudara kandung di antara teman sebaya terlalu menguras energi. Hal itu membuat mereka lebih suka menjalin persahabatan dengan orang yang lebih tua, atau orang dewasa. Itu merupakan suatu preferensi, bukan kekurangan sosial.
Stereotip anak tunggal yang salah
Beberapa penelitian mengungkap stereotip anak tunggal yang sebenarnya salah. Simak penjelasannya berikut ini, seperti melansir dari laman Times of India:
1. "Anak tunggal sudah pasti manja"
Stereotip ini sudah sering didengar dalam percakapan tentang pola pengasuhan. Anggapan tersebut berasal dari akhir tahun 1800-an, ketika psikolog G. Stanley Hall menyatakan bahwa menjadi anak tunggal adalah 'penyakit'.
Namun, bukti ilmiah mengatakan bahwa sebagian besar anggapan itu salah. Salah satu tinjauan yang dipimpin oleh psikolog Dr. Toni Falbo pernah menganalisis hampir 200 studi, yang membandingkan anak tunggal dengan anak-anak dari keluarga besar. Tinjauan tersebut tidak menemukan bukti berarti bahwa anak tunggal lebih manja, egois, atau kurang beruntung secara psikologis dibandingkan teman sebaya.
2. "Anak tunggal itu kesepian"
Anak tunggal juga sering diasumsikan kesepian karena hidup tanpa saudara kandung. Namun, penelitian tidak menemukan kaitan antara kedua hal tersebut, Bunda.
Sebuah studi yang diterbitkan di The American Journal of Orthopsychiatry tahun 2021 menemukan bahwa anak tunggal justru melaporkan tingkat kesepian yang lebih rendah dibandingkan peserta yang memiliki saudara kandung. Menurut peneliti, hal itu mungkin disebabkan oleh ikatan dan investasi orang tua yang lebih dekat dengan anak.
3. "Anak tunggal tidak tahu cara bersosialisasi"
Banyak orang tua khawatir anak semata wayangnya mungkin tidak tahu cara bersosialisasi karena tidak memiliki saudara kandung. Tetapi, menurut sebuah ulasan yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), para psikolog telah berulang kali menemukan bahwa anak tunggal tidak berbeda secara signifikan dari anak-anak yang memiliki saudara kandung dalam hal penyesuaian sosial.
Anak-anak mampu mempelajari keterampilan sosial tidak hanya di rumah. Mereka bisa bergaul dan bersosialisasi di banyak tempat, seperti sekolah, taman bermain, dan lingkungan sekitar.
4. "Anak tunggal lebih dekat dengan orang tua mereka"
Stereotip ini juga banyak ditujukan ke anak tunggal. Menurut APA, stereotip ini muncul karena anak tunggal tidak perlu berbagi waktu dan perhatian orang tua dengan saudara kandung. Mereka sering kali memiliki interaksi yang lebih sering dan intensif dengan orang tua mereka.
Hal penting yang perlu dicatat adalah bahwa ukuran keluarga saja tidak menentukan kualitas hubungan. Pola pengasuhan yang hangat dan responsif jauh lebih penting daripada jumlah anak dalam rumah tangga.
Demikian ulasan tentang stereotip anak tunggal yang sering disalahartikan oleh banyak orang. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)