Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

7 Kebiasaan Parenting Ini Dapat Merusak Rasa Percaya Diri Anak

Kinan   |   HaiBunda

Kamis, 05 Nov 2026 10:43 WIB

9 Kesalahan Orang Tua yang Rentan Membuat Anak Introvert, Termasuk Kasih Julukan Pemalu
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Nuttawan Jayawan
Daftar Isi
Jakarta -

Diam-diam ada kebiasaan parenting yang bisa membuat anak jadi tidak percaya diri lho, Bunda. Jangan sampai dilakukan terus jika tak ingin pengaruhi harga diri anak.

Seperti diketahui, ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak sejak usia dini. Termasuk kebiasaan orang tua yang berdampak negatif, seperti terus-menerus mengkritik anak.

Hal ini berisiko bisa memengaruhi kehidupan anak ketika dewasa, terutama dalam hal interaksi sosial dan bersikap di lingkungan kerja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Jika anak selalu dituntut untuk menjadi sempurna, ia lebih berpotensi memiliki tanda-tanda rendah harga diri (self-esteem) saat remaja hingga dewasa.

Peran orang tua dalam perkembangan mental anak

Menurut psikolog anak di Amerika Serikat, David Friedlander, Psy.D., kecemasan pada anak-anak penting untuk diperhatikan.

Meskipun lingkungan dan pengalaman anak di sekolah dapat berkontribusi terhadap rendahnya harga diri, tapi pola pengasuhan juga berdampak besar terhadap kepercayaan diri anak. Terus-menerus mendorong anak atau bahkan menyelesaikan masalah mereka, justru pada kenyataannya tidak selalu demikian.

Apa yang menyebabkan anak kurang percaya diri?

Ada sejumlah faktor yang dapat menyebabkan anak memiliki harga diri rendah. Friedlander menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor mendasar yang turut berperan dalam kondisi tersebut.

Dalam aspek psikologi, rendahnya kepercayaan diri dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis dan pengalaman hidup. Faktor biologis mencakup hal-hal seperti gen, paparan yang dialami selama berada di dalam kandungan, serta asupan nutrisi.

"Faktor-faktor ini turut membentuk temperamen anak, yang dapat membuatnya cenderung lebih berhati-hati atau memiliki sifat perfeksionis," ujar Friedlander seperti dikutip dari Parade.

Sementara itu, faktor pengalaman meliputi pengalaman sosial dan proses belajar, lingkungan keluarga, serta berbagai pengalaman buruk atau traumatis selama masa kanak-kanak.

Ia menambahkan bahwa faktor-faktor tersebut dapat sangat memengaruhi perkembangan kepribadian dan cara anak memandang dirinya sendiri seiring bertambahnya usia. Kombinasi kedua kategori faktor inilah yang sebenarnya sangat penting.

Jika seorang anak memiliki kecenderungan untuk terlalu berhati-hati, lalu terus-menerus dikritik setiap kali melakukan kesalahan, ia memiliki risiko lebih besar untuk punya rasa percaya diri yang rendah.

Friedlander juga menjelaskan sebaliknya, jika anak tersebut mendapat apresiasi atas usahanya dan diberi pemahaman bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang wajar, ia mungkin dapat mengatasi kecenderungan bawaan tersebut.

Pola asuh yang dapat menyebabkan harga diri anak jadi rendah

Meskipun lingkungan dan faktor biologis anak dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, pola pengasuhan tertentu juga dapat turut menjadi penyebab.

"Misalnya orang tua terlalu sering mengkritik, memberikan tuntutan yang berlebihan, menghukum anak ketika gagal, serta tidak menyadari atau memberikan apresiasi atas keberhasilannya," ujar Friedlander.

Namun, ada pula perilaku pengasuhan lain yang tampaknya tidak berbahaya, tetapi sebenarnya perlu dilakukan lebih bijak.

Contohnya, selalu menyelesaikan masalah anak yang sebenarnya mampu mereka atasi sendiri. Hal ini juga termasuk selalu menyelamatkan mereka dari situasi yang sebetulnya bisa mereka hadapi secara mandiri. 

Tanpa disadari, perilaku tersebut menyampaikan pesan bahwa orang tua tidak yakin anak mampu menyelesaikan masalah dan mengelola emosinya sendiri.

Pola asuh yang dapat merusak kepercayaan diri anak

Apa saja kebiasaan parenting yang bisa membuat anak lama-lama jadi tidak percaya diri? Simak ulasannya berikut ini, Bunda:

1. Terlalu memanjakan anak

Hal ini tampak seperti cara yang halus, tapi diam-diam juga dapat merusak kepercayaan diri anak. Dengan bersikap terlalu menuruti keinginan anak, orang tua secara tidak langsung membenarkan kekhawatiran anak bahwa dirinya tidak mampu menghadapi hal yang ditakutinya.

Ia juga mengatakan bahwa sikap tersebut membuat anak kehilangan kesempatan untuk melewati dan mengelola kecemasannya.

2. Selalu menuruti anak

Pola asuh yang terlalu menuruti anak sering disebut juga sebagai snowplow parenting. Gaya pengasuhan ini ditandai dengan perilaku orang tua yang selalu menyingkirkan berbagai hambatan di hadapan anak, padahal sebenarnya anak mampu mengatasinya sendiri tanpa campur tangan orang lain.

Kebiasaan ini juga dapat membuat anak menjadi kurang mandiri dan terbiasa berpikir bahwa orang lain akan selalu menyelesaikan semua masalahnya.

Mislanya, ketika anak tertinggal dalam mengerjakan tugas sekolah, orang tua justru menghubungi guru untuk meminta agar tugas tersebut diringankan. 

3. Memberikan tuntutan yang terlalu tinggi

Ada banyak cara orang tua memberikan tuntutan berlebihan kepada anak. Beberapa di antaranya adalah mengharapkan nilai akademik yang selalu sempurna, serta memaksanya melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ia minati.

Menurut Friedlander, pola pengasuhan seperti ini juga dapat menimbulkan dampak negatif.

4. Mengabaikan emosi anak

Memperlakukan seolah-olah perasaan anak tidak penting juga bisa menjadi salah satu penyebab utama rendahnya harga diri.

Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk menciptakan lingkungan yang aman agar anak dapat mengungkapkan emosinya dan merasa didengarkan.

Hindari terlalu sering mengkritik atau mengabaikan perasaan anak karena ini dapat membuatnya kehilangan kepercayaan diri, baik selama masa kanak-kanak maupun ketika dewasa nanti.

"Ketika anak merasa takut, sedih, atau marah, itu merupakan respons otaknya terhadap situasi yang sedang dihadapi, berdasarkan faktor biologis dan pengalaman hidupnya. Jika diabaikan, anak tidak bisa memercayai pikiran dan perasaannya sendiri," pesan Friedlander.

5. Tidak menjadi contoh yang baik

Memberikan tuntutan yang terlalu tinggi dan selalu mengharapkan kesempurnaan merupakan hal yang membuat orang tua gagal memberikan contoh sehat dalam menyikapi kesalahan.

Penting bagi orang tua untuk membantu anak berkembang dengan memberikan teladan yang baik. Hal ini termasuk menunjukkan cara menghadapi kegagalan, tantangan, dan kesalahan tanpa terus-menerus menyalahkan atau mengkritik diri sendiri.

6. Terlalu fokus pada hasil, bukan proses

Hal ini juga merupakan salah satu bentuk perfeksionisme yang membuat orang tua terkadang kehilangan fokus terhadap hal yang sebenarnya lebih penting. 

Dalam beberapa situasi, yang perlu diperhatikan bukanlah hasil akhirnya, melainkan bagaimana anak berusaha mencapai hasil tersebut.

Dikutip dari Parents, membiarkan anak melakukan kesalahan akan mengajarkan mereka cara menjadi tangguh dalam hidup. Saat mereka melakukan kesalahan, jangan lupa tetap beri semangat dan beri tahu bahwa itu bukanlah masalah besar. 

7. Membandingkan anak

Jika memiliki lebih dari satu anak, terkadang sulit bagi orang tua untuk tidak membandingkan mereka secara langsung, terutama ketika sedang merasa kesal. Friedlander mengatakan bahwa sebisa mungkin orang tua perlu menghindari kebiasaan ini.

Kebiasaan membandingkan anak dapat berdampak negatif terhadap harga dirinya, meskipun efeknya mungkin tidak langsung terlihat.

"Komentar seperti 'kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?' atau 'dulu kakakmu bisa melakukan ini dengan mudah', akan diterima anak sebagai pesan bahwa 'kamu kurang dibandingkan kakakmu dan Bunda lebih menyayanginya daripada kamu'," ujar Friedlander. 

Ia menyarankan orang tua untuk menjelaskan kepada anak bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kemampuan yang berbeda-beda, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.

Itulah penjelasan tentang kebiasaan-kebiasaan parenting yang bikin anak tidak percaya diri. Semoga bermanfaat untuk pembentukan karakter Si Kecil ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda