parenting
Anak Tantrum Sulit Ditenangkan? Psikolog Sarankan Trik Bicara Ini
HaiBunda
Minggu, 01 Nov 2026 17:20 WIB
Tantrum merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak ketika mereka belum mampu mengungkapkan perasaannya. Kondisi ini dapat ditandai dengan tangisan, teriakan, hingga sikap menolak yang disampaikan dengan penuh amarah.
Bagi orang tua, menghadapi anak yang sedang tantrum bisa menjadi tantangan tersendiri. Ada yang mengacuhkan anak atau langsung meninggikan suara dan mengucapkan 'tenang!' dengan tegas.
Perlu diketahui, ketika anak-anak mengalami lonjakan emosi yang intens, otak mereka beralih dari mode fungsi eksekutif atau area yang bertanggung jawab untuk logika, pemecahan masalah, dan pengendalian impuls. Kemudian, otak akan masuk ke keadaan reaktif yang protektif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika orang dewasa meminta mereka untuk 'tenang', anak tersebut tidak akan mendengarnya sebagai sebuah saran. Sebaliknya, mereka mendengarnya sebagai penilaian, penolakan, atau tuntutan untuk menyembunyikan perasaan mereka.
Jadi, alih-alih meninggikan suara untuk menenangkan anak yang tantrum, psikolog justru menyarankan pendekatan verbal dan nada yang jauh lebih 'rendah dan lambat'. Dilansir laman Parade, dengan sengaja menurunkan nada suara, memperlambat tempo, menyesuaikan diri dengan level anak, dan memvalidasi keadaan mereka, orang tua justru dapat menenangkan sistem saraf dan meredakan ketegangan jauh lebih cepat.
Bicara pelan dan perlahan bisa menenangkan anak tantrum
Dalam cara kerja otak, ada yang namanya ko-regulasi, yakni proses di mana orang dewasa menggunakan sistem sarafnya untuk membantu anak yang mengalami disregulasi kembali ke tingkat keamanan dasar. Ketika emosi anak meledak, sistem saraf mereka secara aktif memindai lingkungan untuk mencari petunjuk keamanan atau bahaya.
Jika orang tua merespons dengan ucapan cepat, nada suara tinggi, atau perintah mendesak, otak anak akan mencatat bahwa Bunda atau Ayah juga sedang mengalami tekanan, yang menandakan adanya krisis aktif. Siklus ini menyebabkan dua sistem saraf saling memperkuat satu sama lain secara langsung.
Psikolog anak Dr. Amy Kincaid Todey, PhD, menekankan bahwa orang dewasa harus memutus lingkaran umpan balik ini dengan terlebih dahulu mengelola penyampaian vokal mereka sendiri.
"Anak-anak belajar bagaimana mengendalikan emosi mereka dengan mengamati cara orang tua mengendalikan emosi," kata Todey.
"Saya sering mengatakan kepada orang tua, kalian tidak perlu selalu tenang. Kalian hanya perlu lebih tenang daripada anak," sambungnya.
Nah, untuk menerapkan metode 'pelan dan perlahan', orang tua dapat secara sadar menurunkan volume suara, menurunkan register vokal, mengurangi kecepatan bicara, dan menggunakan lebih sedikit kata. Alih-alih memberikan ceramah panjang dan cepat tentang perilaku atau aturan, Bunda dapat mengadopsi irama yang tenang dan terencana untuk mengirimkan pesan fisiologis yang jelas kepada anak.
Psikolog klinis berlisensi yang berbasis di Massachusetts Dr. Rebecca Weksner, PsyD , PMH-C NCSP, juga menyarankan pendekatan yang serupa. Menurutnya, ada elemen khusus pada kebiasaan berbicara 'pelan dan perlahan'.
"Dengan menurunkan volume suara satu oktaf dan menempatkan posisi tubuh sejajar dengan mata anak, kita memberikan contoh cara menenangkan otak anak tanpa instruksi yang eksplisit," ungkap Weksner.
"Ketika kita berbicara lebih lambat dari biasanya, otak anak mampu menyerap kata-kata kita dengan lebih efektif karena otak yang gelisah tidak dapat memproses bahasa dengan baik," lanjutnya.
Selain itu, orang tua juga perlu menggabungkan penyampaian vokal yang tenang ini dengan validasi emosional. Hal tersebut dapat menciptakan efek menenangkan yang instan.
Pilihan kalimat untuk menenangkan anak tantrum
Todey merekomendasikan penggunaan frasa validasi sederhana yang dapat disampaikan dengan nada tenang ke anak untuk mengatasi tantrum. Kalimat ini seperti, 'Saya mengerti betapa sedihnya kamu'.
"Validasi menyampaikan pesan kalau, 'Saya dapat memahami apa yang kamu rasakan tanpa harus menyetujui semua yang kamu lakukan," ujar Todey.
Perlu dicatat, Bunda atau Ayah tidak harus setuju dengan alasan anak marah. Tetapi, kita dapat mengakui realitas batin mereka untuk menurunkan tembok pertahanan.
Setelah pernyataan itu disampaikan, orang tua dapat menetapkan batasan yang tenang dan tegas, misalnya dengan menambahkan kalimat 'Saya mengerti betapa kesalnya kamu. Saya ada di sini' atau 'Saya mengerti betapa kesalnya kamu, tapi jawabannya tetap tidak'.
Kekuatan memperlambat ucapan dan menyebutkan emosi berlaku untuk anak-anak dari segala usia ya, Bunda. Para psikolog sering merujuknya pada konsep 'sebutkan untuk mengendalikannya' (name it to tame it).
Sebuah studi tahun 2026 yang diterbitkan dalam Child Development tentang pelabelan emosi menunjukkan bahwa mengungkapkan perasaan dalam kata-kata membantu mengurangi reaktivitas emosional di wilayah otak yang terkait dengan regulasi. Meskipun emosi tidak akan langsung menghilangkan ledakan emosi, hal itu setidaknya dapat mengurangi ketakutan anak yang sedang tantrum.
Demikian cara menenangkan anak tantrum menurut pakar. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Terbukti Parenting Coach, 7 Kalimat Ampuh untuk Redakan Tantrum Si Kecil
Parenting
7 Cara Menghadapi Anak Tantrum di Usia 2 Tahun Tanpa Perlu Membentak
Parenting
5 Cara Atasi Tantrum Anak di Depan Umum, Awali dengan Kontak Mata
Parenting
Waktu Anak Kedua Mulai Tantrum Pertama, Sumpah Rasanya Santuy Banget
Parenting
5 Tips Parenting Rachel Vennya agar Anak Sopan dan Tidak Tantrum
5 Foto
Parenting
Bak Model Cilik, Intip Gaya Moana Anak Ria Ricis saat Pakai Kostum Halloween
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Ciri Anak Tantrum yang Melewati Batas, Bunda Perlu Tahu
11 Cara Cerdas Menghadapi Anak Tantrum, Jangan Panik & Kenali Penyebabnya
Kapan Tantrum Anak Termasuk Gejala ADHD? Kenali Tanda Awal Disregulasi Emosional