parenting

Jangan Sampai Kakak-Adik Timpang Tempat Sekolahnya

Nurvita Indarini 14 Mei 2018
Jangan Sampai Kakak-Adik Timpang Tempat Sekolahnya/ Foto: Thinkstock Jangan Sampai Kakak-Adik Timpang Tempat Sekolahnya/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Kakaknya sekolah di sekolah yang mahal, sedangkan adiknya sekolah yang biasa saja. Hmm, pernah mendapati atau mengalami sendiri hal seperti ini, Bun?

Ya, dulu saat anak baru satu, kita sebagai orang tua ingin memberikan yang terbaik buat anak. Alhasil anak disekolahkan di sekolah-sekolah mahal, karena menurut kita kualitasnya paling baik. Ya, dari sejak pendidikan usia dini, sampai ke SD, selalu di sekolah mahal.

Nah, lalu adiknya lahir. Karena kita kurang persiapan perencanaan keuangan, alhasil si adik disekolahkan di sekolah yang biasa saja, bukan sekolah mahal seperti kakaknya.

"Kalau dana kita terbatas, kita masukkan anak ke SD yang sedikit lebih mahal atau PAUD yang lebih mahal? Pada jawab SD yang sedikit lebih mahal ya. Tapi faktanya uang banyak digunakan di pendidikan usia dini. Sehingga pada saat anak SD, ya udah SD mana saja," kata financial planner dan founder ZAP Finance, Prita Ghozie, dalam Cerita Bunda bersama Sinarmas MSIG Life 'Perlukah Membedakan Investasi Anak Sesuai Usianya Sebagai Parenials?' yang digelar di Beranda Kitchen, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.



Nah, karena kita terlalu fokus pada si kakak, kasihan ya kalau nanti adiknya sekolahnya di tempat yang asal saja, karena si kakak sudah telanjur butuh biaya banyak untuk SD-nya. Hiks, kasihan si adik.

"Sering kali dialokasikan 20 persen untuk biaya sekolah kakak. Padahal sarannya 10 persen dari penghasilan kita. Kalau penghasilan Rp 20 juta, maka 10 persennya yakni Rp 2 juta untuk pendidikan dua anak, termasuk bimbel dan lain-lain," lanjut Prita.

Kenapa cuma 10 persen? Karena kita punya pos pengeluaran yang lain, termasuk untuk investasi hari tua juga. Pendidikan anak yang menyita fokus alhasil orang tua pun mengambil pos investasi, sehingga semua habis untuk biaya sekolah anak.

"Belum gaya hidup, cicilan, yang nggak bisa dihindari. Dana darurat kadang iya kadang nggak, nggak investasi, padahal itu nggak boleh dihilangkan. Yang idealnya dihilangkan itu cicilan pinjaman," tambah Prita.

Hmm, zaman sekarang semua serba mahal ya, Bun. Kalau kita nggak ada perencanaan yang matang, duh amit-amit, semua jadi berantakan. Bicara tentang investasi jangka panjang, baiknya saham atau yang bareng asuransi jiwa ya?



"Kalau beli ke manager investasi jadinya reksadana, kalau beli bareng asuransi jiwa maka jatuhnya unit link. Itu barang serupa," ujar Prita.

Tapi memang kalau beli lewat distribusi berbeda alias yang tidak langsung ke manager investasi, jadi lebih banyak potongannya. Sedangkan kalau mau hindari yang banyak potongan bisa beli reksadana. Tapi masing-masing ada plus minusnya, Bun.

"Reksana plusnya nggak ada potongan dan bisa ambil dana kapanpun dimau, kecuali baru setahun diinvestasikan bisa diambil. Tingkat disiplin rendah karena nggak ada yang mengingatkan. Sedangkan unit link potongan banyak karena ada premi asuransi juga, Tapi kalau belum bayar ada yang mengingatkan yakni customer service," jelas Prita.


(vit/vit)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait
Rekomendasi