psikologi

Please, Jangan Asal Komentari Kasus Pemukulan pada Anak

Amelia Sewaka Senin, 16 Apr 2018 - 08.05 WIB
Please, Jangan Asal Komentari Kasus Pemukulan pada Anak/ Foto: Thinkstock Please, Jangan Asal Komentari Kasus Pemukulan pada Anak/ Foto: Thinkstock
Ohio, AS - Peristiwa ini mengingatkan kita untuk nggak asal komentar. Mungkin kita bermaksud bercanda, tapi terkadang kalimat kita justru menyakiti perasaan orang lain karena tidak disampaikan dengan tepat.

Ya, seorang ibu yang putrinya yang berusia empat tahun dan dipukul anak laki-laki di sekolahnya marah banget mendengar ucapan seorang petugas rumah sakit. Memangnya petugas itu bilang apa? "Mungkin dia menyukaimu," ujar si petugas.

Duh, anak umur empat tahun dipukul temannya, kok dibilang temannya melakukan itu karena menyukainya ya. Hellooo! Nanti anak-anak bisa mengekspresikan rasa suka dengan memukul dong. Seram amat.

Merritt Smith, ibu dari anak perempuan itu begitu terkejut mendengar komentar dari si petugas rumah sakit. Dia pun memposting pengalamannya tersebut ke media sosial. Sebenarnya postingan ini sudah lama, Bun, sudah tiga tahun lalu. Tapi belakangan dibicarakan lagi untuk mengingatkan kita bahwa pemukulan itu nggak bisa dibenarkan.

Merritt berpendapat di luar tujuan komentar karyawan tersebut yang mungkin berarti baik, namun berarti sekaligus menerima kekerasan fisik sebagai usaha menunjukkan perhatian kepada temannya, dan bukannya dihentikan.

Merritt mengawali postingannya dengan menulis, "Kepada laki-laki yang terhormat di meja pendaftaran di rumah sakit Nationwide Children, saya yakin bahwa Anda mungkin tidak memikirkan pernyataan tersebut pada putri saya,". Demikian dikutip dari Daily Mail.

Menurut sang ibu, pernyataan yang ia dengar berarti menyetujui di mana gagasan menyakiti seseorang apalagi perempuan adalah hal yang biasa dan bisa diterima. "Anak saya yang berusia empat tahun justru tahu itu bukan cara kami menunjukkan menyukai seseorang, dan itu bukan pilihan yang bagus," lanjut Merritt.



Merritt memaparkan dalam postingannya bahwa ia sangat marah ketika si karyawan tersebut berkomentar bahwa laki-laki yang memukul anaknya adalah orang yang menyukai anaknya, bukannya malah memperbaiki suasana. Merritt merasa ucapan karyawan tersebut malah membuat momen pemukulan makin berat untuk putrinya.

"Sudah waktunya untuk bertanggung jawab atas pesan yang kita sampaikan sebagai masyarakat kepada anak-anak kita. Jangan beri tahu anak saya yang berusia 4 tahun yang telah mendapat jahitan karena ulah seorang anak laki-laki di sekolah yang memukulnya. 'Saya yakin dia menyukaimu', tidak itu salah besar," tulis Merritt.

Postingan yang sudah dibagikan lebih dari 35 ribu kali. Netizen banyak yang sependapat dengannya. Postingan itu pun telah menarik perhatian pihak rumah sakit.

"Rumah sakit menanggapi email saya. Mereka mengucapkan terima kasih atas tanggapan saya, mengakui bahwa mereka tidak pernah memikirkan situasi itu dan menganggapnya sebagai bahan renungan," kata Merritt dilansir Today.

Namanya kekerasan fisik itu emang nggak boleh dibiarin, Bun, karena bisa berefek ke psikologis anak juga lho. Mendapat kekerasan fisik seperti pukulan, cubitan, atau tendangan tak hanya meninggalkan trauma pada anak secara fisik. Sebab, anak juga bisa mengalami trauma psikis.

Seperti penuturan psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psikolog, dua efek bisa dirasakan anak sekaligus saat mendapat kekerasan fisik, yakni trauma secara fisik dan psikis. Wanita yang akrab disapa Nina ini mengatakan, trauma fisik yang bisa terjadi misalnya memar, luka, dan kesakitan.

"Sementara secara psikis, anak bisa ketakutan, cemas kalau dia mengalami hal yang sama lagi, kemudian menolak berdekatan dengan orang tertentu, bahkan benda tertentu," tutur Nina dikutip dari detikhealth.



(aml/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi