psikologi

Menangani Anak yang Sejak Kecil Dicekoki Terorisme

Nabilla Nufianty Putri 16 Mei 2018
Menangani Anak yang Sejak Kecil Dicekoki Terorisme/ Foto: thinkstock Menangani Anak yang Sejak Kecil Dicekoki Terorisme/ Foto: thinkstock
Jakarta - Pelaku peledakan bom di Surabaya melibatkan perempuan dan anak dalam aksinya. Tentu ada alasan di balik hal ini ya, Bun.

Pengamat terorisme Universitas Indonesia (UI), Solahudin, menduga ini terkait upaya kelompok teroris untuk lebih menyebarkan rasa takut. Iya, karena kalau pelaku peledakan bom laki-laki dewasa itu sudah biasa.

Nah, ada anak terduga teroris yang selamat dari ledakan di depan gerbang Polrestabes Surabaya beberapa hari lalu. Usianya masih tujuh tahun. Tentu berat ya, anak sekecil itu kehilangan ayah, ibu, dan saudara kandung dengan cara yang tragis.

Konon anak-anak terduga teroris diberi pemahaman terorisme, meski dengan istilah berbeda, oleh orang tuanya. Bisa jadi bukan hanya anak tersebut saja yang mendapatkan pemahaman terorisme sejak dini.

Ya, penanaman karakter teroris yang sudah ditanam sejak dini memang tidak mudah untuk mengubahnya. Terlebih jika itu dilakukan oleh orang tua sendiri, yang langsung memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.



Veronica Adesla, psikolog Personal Growth menyarankan pengembalikan mental perlu dilakukan agar tidak menimbulkan potensi bahaya dikemudian hari.

"Harus dipahami pembalikan mental pada anak-anak ini sungguh tidak mudah, namun didiamkan juga bukan tindakan yang benar dan tepat, karena hanya akan menjadi potensi bahaya laten," tutur Veronica.

Oleh karena itu, langkah-langkah penanganan tetap harus dilakukan. Mari kita simak beberapa langkah penanganan yang disarankan oleh psikolog.

1. Pastikan untuk anak berada di tempat dan lingkungan yang aman, sehat, dan terlindungi baik dari hal-hal buruk yang mungkin datang dari dirinya sendiri maupun orang lain.

2. Lakukan pemeriksaan menyeluruh atau profiling kondisi fisik maupun mental anak. Libatkan profesional dokter, psikiater, psikolog, guru, maupun pemuka agama (ulama). Pemerintah wajib memilih orang-orang ini dengan cermat. Selain itu penjadwalan dan pelaksanaan profiling tetap harus memperhatikan situasi kondisi dan tahap perkembangan anak. Tidak mengintimidasi.



3. Setelah mendapatkan profiling maka program pembalikan mental perlu dibuat dengan melibatkan seluruh tenaga profesional di atas, termasuk pemuka agama.

4. Program pembalikan mental harus bekerja beriringan pada berbagai sektor:
a. Pemulihan dan pembinaan psikologis dan kejiwaan.
b. Kesehatan fisik
c. Pembentukan karakter anak bangsa (nasionalis, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika)
d. Pendidikan sekolah
e. Pendidikan/pengajaran nilai-nilai agama yang benar (damai dan kasih)
5. Jalankan bersama, ciptakan situasi yang kondusif, diiringi dengan doa oleh kita bersama. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi