psikologi

Dear Suamiku, Yuk Belajar Mengasuh Anak Bersama

Melly Febrida 19 Mei 2018
Dear Suamiku, Yuk Belajar Mengasuh Anak Bersama/ Foto: ist Dear Suamiku, Yuk Belajar Mengasuh Anak Bersama/ Foto: ist
Jakarta - Pengasuhan anak selama ini masih sering hanya dikaitkan pada peran ibu semata. Padahal 'bikinnya' berdua tentu mengasuh dan merawatnya juga berdua dong ya. Nah, soal pengasuhan anak ini, Bun, sebenarnya bukan bakat alami. Artinya kita dan suami perlu sama-sama mempelajarinya.

Ketika kita dan suami berencana punya anak, idealnya sih ya, sejak itu juga kita mulai banyak belajar soal pengasuhan anak. Belajar pengasuhan anak dari sumber tepercaya juga penting agar kita dan suami nggak gampang termakan mitos maupun hoax.

Seorang ibu bernama Kasey Edward bercerita nih, Bun, tentang temannya yang akan menjadi ayah untuk pertama kalinya. Ia menyarankan temannya itu untuk meluangkan waktu belajar menjadi orang tua di minggu-minggu dan bulan-bulan awal setelah anaknya lahir.

Kata Kasey, untuk mengembangkan keterampilan menjadi orang tua itu membutuhkan waktu dan latihan. Orang tua nggak cuma belajar cara praktis seperti memasangkan popok, memandikan bayi, atau menyendawakan bayi. Tapi, orang tua juga perlu belajar bagaimana berinteraksi dengan anak-anak.



Kasey memberitahu temannya, apabila ia tak mau belajar menjadi orang tua bersama pasangannya, maka bisa tumbuh kesenjangan kepercayaan yang begitu besar. Nah, sangat mungkin, sang istri akan marah. Sedangkan suami akan membenci kenyataan bahwa dia nggak memiliki keterampilan untuk dekat dan bermain dengan anaknya.

"Meskipun demikian, teman saya menolak saran saya secara langsung. Menurutnya, kemampuan menjadi orang tua adalah sesuatu yang seseorang miliki atau tidak. Dan jika ternyata dia tidak memilikinya, maka tidak ada yang harus dilakukan untuk memilikinya," kata Kasey seperti dilansir Sidney Morning Herald

Mendengar jawaban temannya, Kasey menganggap hal itu omong kosong, Bun. Ia membandingkan dengan pria yang ingin bisa bermain golf, ia pasti akan belajar di setiap kesempatan sampai bisa main golf. Hal yang sama berlaku juga untuk menjadi orang tua. Itu dipelajari, bukan bawaan.

Dear Suamiku, Yuk Belajar Mengasuh Anak Bersama/Dear Suamiku, Yuk Belajar Mengasuh Anak Bersama/ Foto: thinkstock


"Saya tidak dilahirkan dengan keterampilan pengasuhan alami. Bahkan, sebelum saya menjadi ibu, anak-anak membuat saya takut. Saya jarang bermain dengan boneka semasa kecil, saya selalu lebih suka berteman dengan orang dewasa daripada anak-anak," tutur Kasey.

Sewaktu Kasey hamil putri pertamanya, ia berharap keterampilan mengasuh anak anak secara otomatis muncul segera setelah melahirkan. Tapi, itu tak terjadi. Nggak mungkin juga ia kabur dari tanggung jawab mengasuh anak-anaknya hanya karena hal itu nggak mudah baginya.

"Itu adalah keyakinan saya bahwa saya dapat belajar menjadi ibu yang baik yang membuat saya bisa melakukan yang terbaik yang saya bisa," lanjutnya.

Kasey bilang, sangat mudah mempertahankan peran gender dan pengasuhan anak yang tidak adil dengan mengatakan keterampilan menjadi orang tua itu bawaan, dan biasanya merupakan bawaan ibu. Karena kita keliru menganggap semua wanita secara alami adalah keibuan, sedangkan keterampilan menjadi orang tua pada pria itu bagaikan lotre genetik.

Alasan itulah yang memungkinkan pria bebas dalam mengasuh anak ketika keadaan menjadi sulit. Misalnya dengan mengatakan, "Maaf sayang, kamu jauh lebih baik dalam hal ini daripada aku,".

Ini juga yang kata Kasey memberi kebebasan kepada ayah untuk menginvestasikan waktu dan energi belajar menjadi orang tua atau tidak. Jadi cukup beralasan mengapa wanita yang secara eksklusif membeli dan membaca buku parenting.

Tentu saja, beberapa orang memiliki keterampilan anak yang lebih baik daripada yang lain. Kita bisa melihat ada pendidik yang sangat ahli. Tapi jangan lupa, Bun, para pendidik yang ahli dalam pengasuhan juga pernah memiliki pengalaman bertahun-tahun.

Dear Suamiku, Yuk Belajar Mengasuh Anak Bersama/Dear Suamiku, Yuk Belajar Mengasuh Anak Bersama/ Foto: Thinkstock


"Ketika saya memikirkan teman-teman saya yang tampaknya lebih cocok secara 'alami' dalam mengasuh anak-anak daripada saya, hampir semuanya juga pernah memiliki pengalaman sebelumnya dengan anak-anak, apakah itu adik-adik, sepupu atau pekerjaan menjaga anak. Mereka memiliki kemampuan 'alami' mungkin juga ratusan, ribuan jam latihan," papar Kasey.

Menurutnya, sebagian besar orang tua sebelumnya belum mendapatkan pengalaman tentang mengasuh anak. Tapi, kita harus belajar, nggak terkecuali belajar dari kesalahan untuk menjadi orang tua yang lebih baik.



"Dan serius, jika saya bisa belajar cara mengasuh dan merawat anak-anak, saya kira siapapun bisa," lanjut Kasey.

Menurut psikolog Elly Risman, Psi, baik ayah maupun bunda memang harus memiliki peran aktif. Jangan hanya mengandalkan pengasuhan dari bunda saja karena bagaimanapun juga ada kebutuhan dari anak terhadap sosok peran seorang ayah.

"Kalau bapak kurang dalam pengasuhan anak maka anak laki-lakinya akan nakal, agresif, narkoba, dan seks bebas. Kalau anak perempuan dia akan agresif dan seks bebas," kata Elly seperti dikutip dari detikHealth.

"Jadi ayah perlu bukan hanya dari segi fisik tetapi juga gizi dan jiwa spiritual. Anak-anak yang kurang (peran) ayah, sepi jiwanya," ucap Elly. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi