psikologi

Respons Tepat Orang Tua Ketika Anak Bicara Kasar

07 Jul 2018
Ilustrasi anak bicara kasar/ Foto: Thinkstock Ilustrasi anak bicara kasar/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Seiring bertambahnya kemampuan bicara anak, berbagai hal bisa disampaikan mereka. Termasuk kata-kata kasar nih, Bun. Kadang, anak mengeluarkan kata-kata kasar secara tiba-tiba hingga orang tuanya shock dan umumnya langsung marah. Bunda juga begitu?

Memang ya, Bun, rasanya sedih dan shock banget kok bisa ya anak berkata kasar. Karena ingin anak nggak mengulangi itu lagi, sebagian besar orang tua bakal memarahi anak dan meminta mereka nggak mengulang bicara kasar. Nah, ketika anak bicara kasar apa sih respons tepat yang perlu kita lakukan? Kata psikolog anak Dr Anna Cohen penyebab anak berkata kasar antara lain menyampaikan perasaannya, menganggap mengucapkan kata-kata kasar adalah hal lucu dan sekadar cari perhatian orang tuanya.

"Anak akan mempelajari bagaimana lingkungan bereaksi terhadap ucapan mereka. Hal terpenting, sepakati dengan pasangan kata-kata yang boleh dan nggak boleh diucapkan di rumah. Kemudian, usahakan untuk nggak membuat anak merasa bahwa kata kasar yang mereka ucapkan adalah sesuatu yang lucu," kata Anna kepada Essential Kids.



Anna bilang ada beberapa respons yang bisa dilakukan orang tua ketika si kecil bicara kasar yaitu:

1. Tak Perlu Bereaksi Berlebihan Tapi Segera Bertindak

Sebagian besar orang tua bisa marah dan kaget ketika dengar anaknya mengucapkan kata-kata kasar. Namun, nggak perlu juga kita bereaksi berlebihan, Bun, ketika anak melakukan itu. Tapi, jangan mendiamkan anak juga. Artinya, kata Anna tahan emosi kita, ambil napas kemudian ajak anak bicara mengenai kata kasar yang dia ucapkan.

Ilustrasi anak bicara kasarIlustrasi anak bicara kasar/ Foto: thinkstock


2. Diskusikan

Setelah berhasil nggak bereaksi berlebihan, diskusikan dengan anak kata-kata kasar yang dia ucapkan. Dengan begini kita bisa tahu bagaimana pandangan anak terhadap kata-kata tersebut. Selain itu, kita juga bisa tahu bagaimana bisa si kecil mengucapkan kata-kata tersebut.

3. Tetapkan Aturan

Saat berdiskusi dengan anak, sampaikan juga aturan yang berlaku di rumah. Artinya, sepakati kata-kata apa yang nggak boleh diucapkan di rumah nggak cuma oleh anak tapi semua anggota keluarga. Bila perlu, tentukan konsekuensi ketika ada yang mengucapkan kata-kata kasar. Aturan yang ditetapkan harus konsisten dan berlaku bagi semua anggota keluarga ya, Bun. Jadi kalau Ayah atau Bunda nggak sengaja berkata kasar juga harus menanggung konsekuensinya tuh.

4. Lihat Lagi Keseharian Anak

Anak-anak akan belajar dari lingkungannya. Begitu juga soal berbicara kasar bukan nggak mungkin mereka melihat hal itu dari teman atau orang di sekitarnya. Jika memang teman-teman anak sering bicara kasar, Bunda dan Ayah perlu lebih aktif lagi mengingatkan tentang aturan soal bicara kasar yang sudah disepakati sebelumnya.

5. Ajari Anak Mengungkapkan Perasaannya

"Kadang anak mengucapkan kata-kata kasar karena dia ingin mengungkapkan perasaannya. Sejak kecil latih anak mengekspresikan perasaan termasuk dengan omongan tapi nggak harus dengan kata-kata kasar bukan?" kata Anna.

Dia mengingatkan mengucapkan kata-kata kasar hampir pernah dialami anak di masa tumbuh dan berkembang. Hanya saja, kadang anak nggak paham dengan apa yang dia sampaikan dan sekadar meniru orang di sekitarnya. Maka dari itu, Anna menekankan respons orang tua yang tepat bisa membantu anak nggak lagi berkata kasar di kemudian hari.

Soal mengungkapkan perasaan, ini memang penting kita ajarkan ke anak, Bun. Dikatakan psikolog anak dan keluarga dari Tiga Generasi Anna Surti Ariani atau Nina, kita bisa tekankan ke anak perasaan kesal dan marah memang perlu disalurkan. Tapi, dengan cara yang benar yaitu nggak melampiaskan emosi dengan melukai diri sendiri atau orang lain.

"Untuk itu kita bisa ajari anak ketika marah bisa sampaikan ke bundanya misalkan anak bilang aku sebal sama bunda. Atau, anak boleh aja memukul bantal atau guling untuk menyalurkan emosinya. Cara lainnya, anak boleh ke kamar mandi lalu nyalakan air keran kemudian teriak supaya emosi negatifnya bisa disalurkan dan berganti dengan emosi positif," kata Nina.

(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi