psikologi

Mengajari Anak Indahnya Perbedaan Melalui Budaya Ambon

Amelia Sewaka Selasa, 12 Feb 2019 - 08.02 WIB
Mengajari Anak Indahnya Perbedaan Melalui Budaya Ambon/Foto: Minki-detikcom Mengajari Anak Indahnya Perbedaan Melalui Budaya Ambon/Foto: Minki-detikcom
Jakarta - Mengajari anak tentang perbedaan bisa lewat berbagai macam cara, salah satunya budaya. Seperti diketahui, dulu kota Ambon dikenal dengan konflik sosial yang cukup parah dan intoleransinya di tahun 1998. Belajar dari masa lalu, kota ini pun berbenah dan menanamkan banyak hal positif terutama untuk anak-anaknya.

Jeanete, psikolog dari Universitas Pattimura, Ambon mengatakan, semua dimulai dari orang tua yang tidak bercerita hal-hal buruk termasuk pengalaman buruk yang mereka alami ke anak-anaknya. Katakan pada anak, banyak hal positif di luar sana dibanding kita mengingat masa lalu yang kelam.

"Kalau di Ambon, kita selalu mengajarkan anak-anak untuk berbagi rasa. Jadi siapapun, dia tinggal di mana, gendernya, usia, agama, asal usulnya darimana, ketika mengalami kesusahan atau kesulitan, wajib kita bantu. Nggak hanya berbagi sedih tapi juga bahagia," kata Jeanete saat ngobrol dengan HaiBunda.



Sedangkan untuk di sekolah, ada satu hari di mana anak-anak diajak tur ke kampung lain. Sehingga anak belajar bahwa 'Oh kampung A, budayanya seperti ini, penduduknya muslim atau kristen, punya tradisi B', dan sebagainya.

"Jadi anak-anak ini tiap bulan punya aktivitas namanya one day trip budaya. Dengan ini, anak jadi belajar bahwa hidup itu perbedaan dan beda itu baik," tambah Jeanete.

Anak-anak ini juga diajak berkeliling ke museum setempat. Dengan alasan, agar anak-anak ini tahu sejarah dan nenek moyang mereka terdahulu. Bahkan Jeanete bercerita, ada suatu tradisi di Ambon di mana anak-anaknya saling bertoleransi antar agama. Salah satunya gotong royong membangun gereja atau masjid bersama-sama.

ilustrasi perbedaanilustrasi perbedaan Foto: thinkstock
"Dari sisi orang tua, kami selalu menanamkan dan mengenalkan bahwa selain kita, masih ada orang lain yang hidup di dunia ini. Di Ambon kita punya dua agama yang besar yaitu Islam dan Kristen. Saya pribadi ajarkan, bahwa kita semua ini bersaudara apapun agamanya," imbuh Jeanete.

Nilai persaudaraan yang ditanamkan, jadi akar kuat dalam kehidupan. Sehingga, baik anak-anak maupun orang tua menganggap semua bersaudara dan akan memperlakukan anak lain sebagai saudara pula.



Menurut psikolog klinis, Christina Tedja yang akrab disapa Tina, pada dasarnya tak ada anak yang rasis, semua belajar dan input informasi dari sekitar. Makanya, Tina berpesan hal yang perlu dihindari saat bicara dengan anak adalah ketidaksengajaan menggiring anak pada opini publik terkait perbedaan agama. Dengan kata lain cara tersimpel mengajarkan anak untuk menerima perbedaan antar agama, suku, dan etnis dimulai dari si orang tua sendiri.

"Termasuk penilaian sehari-hari terhadap orang yang beda etnis dan agama. Dengan merespons baik segala perbedaan yang ada, anak akan meniru. Sebaliknya apabila kita melihat perbedaan saja, lalu ngomel terkait kejadian itu atau protes, anak akan membentuk pola pikir yang sama," tutur Tina.


[Gambas:Video 20detik]

(aml/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi